Hamas: Ancaman Trump Perumit Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza

Hamas: Ancaman Trump Perumit Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza
Para anggota Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, bersama seorang sandera Israel terlihat saat penyerahan tiga warga Israel yang disandera kepada Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) di kamp pengungsi al-Nuseirat, Gaza tengah, pada 22 Februari 2025. (F. Xinhua/Rizek Abdeljawad)

GAZA (Kepri.co.id – Xinhua) – Hamas pada Kamis (6/3/2025) mengecam ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump baru-baru ini terhadap kelompok tersebut, mengatakan ancaman itu memperumit masalah terkait kesepakatan gencatan senjata Gaza dan mendorong Israel tidak mengimplementasikan ketentuan-ketentuannya.

“Ada kesepakatan yang telah ditandatangani, dan Washington menjadi mediatornya,” kata Juru Bicara (Jubir) Hamas, Hazem Qassem dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Israel Bebaskan 183 Warga Palestina dalam Pertukaran Terbaru Tawanan-Sandera dengan Hamas

Dia menambahkan, kesepakatan itu “mencakup pembebasan seluruh (sandera dan) tahanan dalam tiga tahap. Hamas telah melaksanakan apa yang harus dilakukannya pada tahap pertama, sementara Israel mengelak dari tahap kedua.”

Pernyataan itu menyebut, pemerintah AS harus menekan Israel melakukan negosiasi tahap kedua, sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata.

Baca Juga: Hamas Bebaskan 8 Sandera, Israel Lanjutkan Pembebasan Tawanan Usai Sempat Menunda

Trump mengeluarkan apa yang disebutnya sebagai “peringatan terakhir” untuk Hamas di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Rabu (5/3/2025).

Dia mengatakan, “Bebaskan semua sandera sekarang, bukan nanti, dan segera kembalikan semua jasad orang-orang yang kalian bunuh, atau semuanya BERAKHIR bagi kalian.”

Baca Juga: Kesepakatan Gencatan Senjata Israel-Hamas Disambut Baik Masyarakat Internasional

“Saya mengirim Israel semua yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan tugas ini, tidak ada satu pun anggota Hamas yang akan selamat, jika kalian tidak melakukan apa yang saya katakan,” paparnya dalam unggahan tersebut.

 

Hamas: Ancaman Trump Perumit Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt berbicara dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, pada 5 Maret 2025. (F. Xinhua/Hu Yousong)

Peringatan Trump ini, muncul setelah Gedung Putih pada Rabu (5/3/2025), mengonfirmasi bahwa pemerintah AS menggelar pembicaraan langsung dengan Hamas yang bertujuan membebaskan para sandera yang ditahan di Gaza.

Baca Jug: Fatah dan Hamas Sepakat Bentuk Komite untuk Kelola Gaza Pascaperang

Pembicaraan tersebut, yang pertama kali dilaporkan oleh situs web berita Amerika Axios, digelar di Doha, Qatar, dalam beberapa pekan terakhir, dengan pihak AS dipimpin oleh utusan presiden untuk urusan pembebasan sandera, Adam Boehler.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan kepada para wartawan, bahwa “Israel telah diajak berkonsultasi mengenai masalah ini” namun menolak mengungkapkan informasi lebih lanjut.

Baca Juga: Hamas Sebut Sandera Israel Tewas di Gaza Utara di Tengah Gencarnya Serangan Israel

Gencatan senjata Gaza dan perjanjian pembebasan sandera, yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, mulai berlaku pada 19 Januari 2025.

Dalam tahap awal kesepakatan tersebut yang berlangsung selama 42 hari, puluhan sandera Israel dan ratusan tahanan Palestina dibebaskan.

Baca Juga: Hamas Sebut Israel Harus Tunduk pada Perundingan Gencatan Senjata Sebelumnya

Sebanyak 59 sandera masih ditahan oleh Hamas, menurut Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/ IDF), yang mengonfirmasi 35 di antaranya telah tewas.

Dari para sandera tersebut, lima di antaranya merupakan warga AS, termasuk hanya satu yang diyakini masih hidup. (amr/ xinhua-news.com)