WUHU, Kepri.co.id – Xinhua – Di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, yang terletak di Provinsi Anhui, Tiongkok timur, terdapat program pelatihan khusus internasional yang dirancang bersama oleh universitas tersebut dan Anhui Conch Group Co Ltd, sebuah perusahaan manufaktur semen Tiongkok.
Diluncurkan pada Desember 2019, program ini mengikuti filosofi “pendidikan selaras dengan produksi; industri dan pendidikan maju berdampingan”, serta berkontribusi pada pengembangan bersama Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra.
Koresponden Kantor Berita Xinhua Melaporkan dari Wuhu, Tiongkok. (XHTV)
Hingga 2026, sembilan kelas telah ditawarkan di bawah program itu. Program tersebut telah menerima mahasiswa jurusan Teknologi Jaringan Komputer, Teknologi Teknik Konstruksi, Teknologi Kendali Numerik, Teknologi dan Aplikasi Kecerdasan Buatan, serta Teknologi Integrasi Mekatronik.
Banyak lulusan telah memulai karier mereka, sementara angkatan-angkatan berikutnya tengah menempuh studi di kampus.
“Saya sudah berada di Tiongkok lebih dari satu tahun. Ini tahun kedua saya di sini. Jurusan saya mekatronik, jadi kami belajar tentang elektronika sirkuit, kami belajar cara memasang kabel pada perangkat elektronik ini,” ujar Abi Putra, mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Tiongkok.
Program itu mengadopsi model pelatihan “Bahasa Mandarin + Keterampilan Kejuruan” dan menerapkan sistem pengajaran progresif tiga tahap. Tahun pertama berfokus pada penguatan dasar bahasa Mandarin mahasiswa, sementara tahun kedua dan ketiga memperkuat teori profesional dan pelatihan praktik langsung.
Tim pengajar terdiri atas dosen inti dari universitas, spesialis teknis dari Conch, serta staf manajemen inti dari operasi Conch di luar negeri. Pihak universitas dan perusahaan itu, bersama-sama menyusun materi pelatihan bilingual yang disesuaikan dengan skenario lokal di Indonesia.
Mahasiswa menerima pelatihan di kampus dan juga mengunjungi basis produksi Conch di Tiongkok, untuk observasi dan praktik langsung guna membiasakan diri dengan alur kerja produksi cerdas.
“Halo, semua! Nama saya Dwinita, saya dari Kalimantan, Indonesia. Sekarang, saya berada di Wuhu dan sedang menempuh studi jurusan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan. Saya sudah di Wuhu selama 2 tahun belajar bahasa Mandarin dan pelajaran jurusan,” ujar Dwinita, mahasiswi Indonesia yang sedang berkuliah di Tiongkok.
Dwinita memutuskan belajar di Wuhu, Tiongkok, karena berpikir Tiongkok memiliki kesempatan yang besar, karena di Indonesia sekarang sudah banyak perusahaan Tiongkok yang bekerja sama dengan Indonesia.
“Pastinya mereka membutuhkan orang-orang yang ahli dalam bahasa Mandarin dan juga orang-orang yang ahli dalam teknologi. Menurut saya, ini kesempatan yang besar. Setelah belajar di sini dan kemudian lulus, saya akan kembali ke Indonesia menerapkan ilmu yang saya dapatkan bekerja di Indonesia, terutama di bidang Artificial Intelligence,” ujar Dwinita, seraya mencontohkan di pabrik, mungkin dirinya bisa menerapkan suatu program untuk pengecekan kualitas bahan.
Selain mata kuliah jurusan, universitas tersebut telah meluncurkan “kelas kedua” bagi mahasiswa internasional, untuk membangun platform pertukaran budaya. Saat festival tradisional Tiongkok seperti Festival Musim Semi dan Festival Perahu Naga, pihak kampus mengorganisasi mahasiswa Indonesia dan Tiongkok, berpartisipasi dalam kegiatan pengalaman budaya bersama. Mereka berkumpul untuk membuat pangsit dan zongzi (bacang).
“Nama saya Nurkholish, saya dari Indonesia. Jurusan saya di sini konstruksi. Ke depan, setelah saya lulus, saya akan membawa materi-materi dan hal-hal yang sudah saya pelajari ke Indonesia dan mengimplementasikannya,” ujar Nurkholish, mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Tiongkok.
Di Tiongkok, mahasiswa Indonesia telah mengikuti beberapa kegiatan seperti Spring Festival, Dragon Boat Festival, dan beberapa festival lainnya.
“Di situ, kami bersama-sama para guru membuat makanan tradisional Tiongkok yaitu dumpling (pangsit), dan juga membuat sebuah kerajinan tangan bersama guru-guru di sini,” ungkap Nurkholish.
Kedua angkatan lulusan telah mencapai tingkat keterserapan kerja 100 persen, dengan semua lulusan bergabung dengan anak perusahaan di bawah Conch Indonesia.
Model pelatihan berbasis pesanan siklus tertutup ini mencakup perekrutan, pendidikan, dan penempatan kerja, membuka jalan bagi integrasi industri dan pendidikan. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Parade Lampion Meriahkan Perayaan Festival Pertengahan Musim Gugur di Huangshan, Tiongkok Timur
Kerja Sama Indonesia-China di Bidang Pendidikan Kian Menguat Sepanjang 2025
Indonesia-China Terus Perkuat Kerja Sama Pendidikan Vokasi
