Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
DI SINI saya membuat penulisan singkat tentang golongan suku Melayu di Kepulauan Riau (Kepri) selama berada di dalam negara Indonesia. Dalam pandangan saya, suku Melayu terbagi ke dalam lima golongan. Lima golongan itu adalah golongan pejabat 20%, golongan pegawai 50%, golongan nelayan 10%, golongan pelaut 10%, dan terakhir gabungan golongan khusus 10%.
Orang Melayu di sini paling banyak bekerja menjadi pegawai. Pegawai adalah pekerjaan paling umum di kalangan masyarakat suku Melayu di Kepri. Dan paling awal. Mulai dari pegawai pemerintah daerah, pegawai badan usaha milik daerah (BUMD), pegawai badan usaha milik negara (BUMN), pegawai badan usaha milik swasta, dan pegawai lembaga-lembaga negara. Menjadi pegawai negeri adalah dambaan banyak orang Melayu.
Kemudian 20% orang Melayu umumnya adalah menjadi pejabat. Yaitu pejabat di pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota. Jabatan yang mereka jabat mulai dari kepala daerah, sekretaris daerah (sekda), kepala dinas, sampai direktur, dan komisaris BUMD. Termasuk juga anggota dewan. Ada juga yang di lembaga-lembaga negara lainnya, tapi dalam jumlah kecil. Misalnya di Bea Cukai dan Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP). Contoh pejabat Melayu adalah Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam.
Selanjutnya, 10% orang Melayu bekerja sebagai nelayan. Golongan ini banyak berada di Natuna dan Anambas. Ada juga di semua kabupaten lain di Kepri. Ada juga Melayu yang bekerja sebagai tauke di bidang ini, tapi hanya dalam jumlah kecil. Nelayan adalah pekerjaan tradisional orang Melayu, selain sebagai pembuat kapal dan penambang. Serta pegawai negeri. Inilah satu-satunya pekerjaan berat yang dilakukan orang Melayu.
10% lainnya lagi suku Melayu bekerja menjadi pelaut. Contoh pelaut yang berjaya mencapai jabatan mentereng di Provinsi Kepri adalah Nurdin Basirun. Pada tahun 70-an saat perusahaan swasta belum banyak di Kepri, menjadi pelaut adalah impian utama pemuda-pemuda Kepri. Dengan menjadi pelaut, bisa membawa mereka sampai ke Amerika dan negara-negara barat lainnya.
Dan 10% yang terakhir adalah pekerjaan-pekerjaan khusus seperti dokter, notaris, akuntan, dosen, dan bidan. Serta gabungan dari pekerjaan-pekerjaan khusus lainnya. Masing-masing bidang dalam jumlah kecil. Ini semua bisa terjadi, karena berbeda-bedanya keadaan perekonomian setiap keluarga dan ketersediaan lembaga pendidikan di sini pada waktu itu. Penyebutan lain untuk golongan ini adalah golongan profesional.
Suku Melayu jarang yang menjadi pengusaha, apalagi usaha-usaha kecil. Itulah sebabnya, dunia perdagangan di Kepri, sejak dulu hampir semuanya diisi oleh orang Tionghoa. Mulai dari kedai bahan makanan sampai kedai bahan gedung. Sejak sebelum semua perantau lainnya berdatangan ke Kepri. Meskipun begitu, ada juga suku Melayu yang mempunyai kedai serba ada, pom bensin, dan ferry. Tapi tidak banyak.
Suku Melayu juga sangat jarang menjadi tentara. Disebabkan prosedurnya yang rumit, jatahnya yang sedikit, dan penugasannya yang ditempatkan di luar provinsi sendiri. Kemudian, ada juga yang menjadi polisi, tapi jumlahnya juga tidak banyak. Sehingga, pekerjaan ini dikategorikan ke golongan pegawai. Keahlian tradisional orang Melayu umumnya membuat rumah, membuat kapal, dan mengelola lembaga.
Suku Melayu sangat jarang bekerja pada pekerjaan-pekerjaan berat. Apalagi, sampai meninggalkan keluarga dan kampung halamannya demi bekerja di mancanegara untuk pekerjaan-pekerjaan berat. Ada yang ke mancanegara, tapi bukan bekerja berat, itupun hanya sekitar 1%. Misalnya berjualan prata di Malaysia. Setelah puluhan tahun bekerja di sana, akhirnya kembali ke Kepri. Dan membuka kedai pratanya di Kepri.
Dari segi kemakmuran, semua wilayah di Provinsi Kepri adalah wilayah yang makmur, karena hasil laut yang melimpah setiap minggu. Hanya dari segi prasarana yang berbeda-beda tingkat kemajuannya. Berdasarkan data negara, kabupaten di Kepri yang paling tertinggal adalah Lingga. APBD-nya kecil, pemodalan asingnya kecil, dan upah minimum kabupaten (UMK) juga kecil. Tapi, bukan berarti kabupaten ini tidak makmur masyarakatnya.
Dilihat dari video-video di YouTube dan berita-berita di koran, kabupaten yang mempihatinkan di Kepri dalam pandangan saya adalah Anambas. Ini bisa dilihat dari tempat tinggal masyarakatnya yang masih banyak rumah papan. Kemudian masyarakat di sana, apabila ingin berobat ke hospital kelas A, terpaksa harus jauh menyeberang lautan ke Batam. Yang artinya, menghabiskan banyak dana. KFC (Kentucky Fried Chicken) dan bioskop juga tidak ada di sana.
Berbeda dengan masyarakat suku Melayu di Lingga, walaupun kabupatennya paling tertinggal, tetapi karena kedekatannya dengan Batam, membuat mereka lebih mudah mendapatkan semua hal yang mereka perlukan. Dan juga lebih murah tentunya. Contohnya, apabila ingin membeli buku bacaan yang ada di Batam. Masyarakat di sana juga ada yang berbisnis, seperti menjual kopi dan menjual roti. Juga membuat songket.
Suku Melayu tidak mempunyai kekhususan bisnis seperti suku Minang, yang memiliki banyak kekhususan. Contohnya kedai makan, kedai emas, dan kedai pakaian. Juga jasa gunting rambut dan sopir teksi. Suku Melayu bisnisnya beragam, walaupun bisa dihitung dengan jari. Tapi, tidak ada kekhususan yang betul-betul khusus. Dan belum ada bisnis suku Melayu yang mencapai tiga generasi atau bahkan lebih dari tiga generasi.
Demikianlah lima golongan Melayu di Kepri selama Indonesia merdeka, beserta sedikit berita keadaan terkini provinsinya. Semoga menjawab keingintahuan kawan-kawan dimanapun, dari Lisabon sampai Rio De Jenairo. Salam dari Batam. ***
Penulis adalah penggemar serie A 90-an.
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.
