CHENGDU (Kepri.co.id – Xinhua) – “Berapa banyak buah yang dapat disimpan dalam lemari pendingin buah ini?” tanya Bachtiar Effendi, kepala desa (kades) asal Indonesia, dengan penasaran setelah mengunjungi lemari pendingin buah milik Pujiang Yuanxiang Modern Agriculture Co Ltd di wilayah Pujiang, Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, China.
“(Lemari pendingin) ini dapat menyimpan 150.000 Kilogram (Kg) buah kiwi,” jawab staf perusahaan itu.
Bachtiar Effendi, salah satu kepala desa asal Indonesia, menceritakan pengalamannya mengikuti studi banding ke China. (F. Xinhua)
Mendengar jawaban itu, Bachtiar terkejut lalu mengacungkan jempol. “Teknologi ini sangat bagus!” katanya.
Pada 25 September 2024, program studi banding kades keempat, yang diselenggarakan Kedutaan Besar China di Republik Indonesia dan diorganisasi Pusat Layanan Pertukaran Internasional Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China, melakukan kegiatan kunjungan dan pembelajaran di desa-desa di wilayah Pujiang, Chengdu, Provinsi Sichuan.
Pujiang Yuanxiang Modern Agriculture Co Ltd adalah perusahaan profesional bergerak di bidang penyediaan layanan untuk industri buah-buahan asli.
Dengan menciptakan platform rantai pasokan untuk area produksi buah-buahan asli dan membangun ekosistem industri buah-buahan, perusahaan ini membantu para petani menanam buah-buahan berkualitas dan menjualnya dengan harga yang layak di Chengdu.
Di pabrik pertanian modern di Pujiang Yuanxiang, sejumlah kepala desa mengunjungi platform rantai pasokan buah yang dibangun pabrik tersebut, dan mempelajari seluruh proses yang meliputi pemetikan, penyortiran, pendinginan, dan penjualan buah di wilayah Pujiang.
Para kades mendengarkan penjelasan dengan saksama dan sesekali mengajukan pertanyaan terperinci, seperti “berapa harga buah per Kilogram” dan “berapa upah harian pekerja.” Beberapa perwakilan kades bahkan mengeluarkan ponsel mereka dan mengabadikan foto untuk dokumentasi.
Setelah meninggalkan Pujiang Yuanxiang Modern Agriculture Co Ltd, para kades kemudian melanjutkan studi banding di desa yang terletak di wilayah Pujiang.
Di Desa Mingyue, wilayah Pujiang, para kepala desa mempelajari sejarah Desa Mingyue bersama-sama, mengunjungi pabrik pencetakan keramik dan lilin di desa tersebut, dan mempelajari pengalaman dan model revitalisasi pedesaan China secara mendalam.
Dalam beberapa tahun terakhir, Desa Mingyue mengandalkan lingkungan ekologisnya yang unggul dan kerajinan keramik tradisional, untuk memperkenalkan proyek pariwisata budaya dan kreatif pedesaan, seniman, serta pelaku budaya dan pariwisata, yang membentuk desa wisata dengan kerajinan keramik sebagai ciri khasnya.
“Desa Mingyue sangat bersih. Infrastrukturnya, seperti jalanan sudah dikembangkan dengan baik. Warga desa juga sangat tekun mengembangkan industri pariwisata di bawah bimbingan pemerintah setempat. Model ini layak dipromosikan di Indonesia,” kata Bachtiar.
Kades asal Indonesia lainnya, Laode Rahmapo, sangat tertarik model pengembangan pariwisata daerah pedesaan di Chengdu, Sichuan.
“Rencana pengembangan pariwisata pedesaan di Chengdu sangat bagus. Pertama-tama kami mengunjungi rute wisatanya, kemudian ada beberapa sesi konsumsi di pertengahan, yang dapat membentuk rute wisata secara utuh. Kreativitas semacam ini layak dipelajari! Saya ingin membawa gagasan ini pulang ke Indonesia, tempat desa kami mengembangkan industri pariwisata, yang ternyata bermanfaat,” kata Laode.
Pelatihan ini dilaporkan berfokus pada berbagi pengalaman dalam hal pembangunan pertanian dan pedesaan, serta pengurangan kemiskinan.
Hampir 20 pejabat pemerintah dan perwakilan kades dari Indonesia akan menjalani program pelatihan, inspeksi, dan pertukaran selama 10 hari di Beijing dan Sichuan.
Perlu disebutkan, para perwakilan kades untuk program pelatihan ini dipilih dari 75.000 desa di Indonesia. (hen/ xinhua-news.com)
