BATAM (Kepri.co.id) – Perikanan, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai menjadi tiga sektor paling potensial memperkuat perekonomian masyarakat di kawasan transmigrasi Barelang.
Potensi tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) bersama pemerintah, koperasi, kelompok masyarakat, dan pelaku ekonomi lokal di Kantor Koperasi Produsen Transmigrasi (KOPTRANS).
FGD menjadi bagian dari rangkaian awal program Ekspedisi Patriot Barelang untuk memetakan potensi, kebutuhan, sekaligus hambatan masyarakat dalam mengembangkan aktivitas ekonomi.
Diskusi diikuti Camat Galang Danang Prilasandi, Lurah Sembulang, Staf Ahli Kementerian Transmigrasi Yudo Pramono, pengurus KOPTRANS dan koperasi, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kelompok Wanita Tani (KWT), pelaku UMKM, serta perwakilan masyarakat.
Kehadiran berbagai unsur tersebut membuat persoalan dapat dibahas secara lebih utuh, mulai dari produksi, kelembagaan, pemasaran hingga pengembangan usaha.
Perikanan: Pasar Ada, Produksi Perlu Diperkuat
Camat Galang, Danang Prilasandi, menyebut, perikanan memiliki prospek besar untuk dikembangkan. Pasar hasil tangkapan nelayan dinilai sudah tersedia, bahkan sebagian produk telah menembus pasar luar daerah hingga ekspor.
Persoalan utama justru berada di sisi produksi. Keterbatasan alat tangkap dan kapasitas produksi, membuat nelayan belum mampu memenuhi permintaan pasar secara optimal.
”Kalau pasarnya sudah jelas, bahkan kita malah kekurangan dari segi produksi. Masukannya bagaimana alat-alat mereka bisa ditambah, supaya mereka lebih banyak produksi,” ujar Danang.
Menurutnya, nelayan juga perlu didorong melakukan diversifikasi komoditas. Ketergantungan terhadap ikan tenggiri dapat dikurangi dengan menyesuaikan alat tangkap berdasarkan musim dan potensi komoditas lain seperti bawal, kepiting, dan lobster.
Pariwisata Bisa Jadi Penghubung Ekonomi Lokal
Sektor pariwisata dinilai memiliki keunggulan karena mampu mengintegrasikan berbagai potensi ekonomi masyarakat.
Salah satu gagasan yang muncul dalam FGD adalah pengembangan kawasan sebagai kampung wisata. Konsep ini, dapat menghubungkan perikanan, kuliner, UMKM, kerajinan, hingga ekowisata dalam satu ekosistem ekonomi.
Ketua Pokdarwis, Yayan, mengatakan, kelompoknya masih membutuhkan pendampingan intensif karena baru terbentuk pada 2026.
Menurutnya, pariwisata bukan hanya soal mendatangkan wisatawan, tetapi juga membuka ruang pemasaran bagi produk masyarakat.
”Kalau pariwisata di sini sudah jalan, UMKM lokal bisa tersalurkan. Tamu-tamu yang datang berkunjung, bisa melihat produk batik dan UMKM,” katanya.
Pengembangan pariwisata juga berpotensi menciptakan efek berganda. Kehadiran wisatawan akan membutuhkan transportasi, makanan, sanitasi, pemandu wisata, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Karena itu, kualitas pelayanan dan pengelolaan kawasan menjadi faktor penting untuk memastikan wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik.
Pelatihan Harus Berujung Produk Siap Jual
Persoalan lain yang mengemuka adalah pengembangan UMKM. Pelaku usaha membutuhkan pendampingan lanjutan dalam legalitas, produksi, pengemasan, pemasaran, serta diversifikasi produk.
Danang menilai berbagai pelatihan yang selama ini diberikan perlu dilanjutkan, hingga menghasilkan produk yang benar-benar memenuhi persyaratan pasar.
Salah satu kebutuhan mendesak adalah pendampingan hingga terbitnya Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) bagi pelaku usaha pangan.
Tanpa pemenuhan legalitas tersebut, produk warga sulit masuk ke jaringan pemasaran yang sebenarnya sudah tersedia.
”Sudah banyak pelatihan, tapi produknya belum memenuhi syarat untuk dijual. Harapannya pendampingan ini langsung sampai tuntas,” ujar Danang.
Kebutuhan pengembangan produk juga disampaikan kelompok kerajinan. Anisah dari kelompok batik berharap produksi tidak berhenti pada kain, tetapi dikembangkan menjadi pakaian, tas, dan berbagai suvenir.
Ia juga menyampaikan kebutuhan bahan baku serta peningkatan keterampilan menjahit.
Hal serupa disampaikan Faizatul H dari kelompok ecoprint.
Menurutnya, pengembangan ecoprint menjadi pakaian dan tas membutuhkan keterampilan produksi dan penjahitan yang lebih baik.
Sementara itu, KWT membutuhkan pendampingan untuk mengembangkan pertanian pekarangan, agar lebih produktif sekaligus ramah lingkungan.
Koperasi Didorong Saling Menguatkan
Dari sisi kelembagaan, sinergi antara Koperasi Transmigrasi (Koptrans) dan Koperasi Merah Putih atau Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) turut menjadi perhatian.
Kedua koperasi dinilai memiliki aset dan fungsi yang dapat saling melengkapi, terutama dalam memperkuat rantai usaha perikanan.
Perwakilan KNMP, Samsudin, menjelaskan, pihaknya memiliki fasilitas seperti pabrik es dan cold storage.
Di sisi lain, nelayan di kawasan Rempang Eco City (REC) memiliki armada serta aktivitas penangkapan ikan.
Karena itu, diperlukan pembahasan bersama menyusun pola kerja sama yang jelas, agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak terjadi tumpang tindih usaha.
Staf Ahli Kementerian Transmigrasi, Yudo Pramono, mengakui berbagai program pelatihan dan pendampingan telah dilakukan, mulai dari batik, ecoprint, pengolahan makanan hingga penguatan koperasi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan program tersebut, menghasilkan kegiatan ekonomi yang benar-benar berjalan.
”Intinya pendampingan-pendampingan ini bagaimana caranya sampai bisa menghasilkan, tidak hanya dalam bentuk laporan tertulis,” tegas Yudo.
Ia mencontohkan perkembangan koperasi yang mulai membangun kolaborasi dalam penyerapan hasil tangkapan nelayan. Pola serupa, menurutnya, perlu diterapkan kepada UMKM dan Pokdarwis agar masyarakat memiliki kegiatan usaha yang nyata dan berkelanjutan.
Ekspedisi Patriot Fokus pada Kemandirian
Dr Vishnu menekankan, keberhasilan pendampingan tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan yang terlaksana. Ukuran utamanya adalah lahirnya produk, jasa, dan usaha yang mampu menghasilkan pendapatan secara konsisten.
”Yang perlu dipikirkan, bagaimana pendampingan dan pelatihan itu bisa menghasilkan barang dan jasa yang memang dibutuhkan masyarakat di sekitarnya, sehingga bisa mendapatkan pendapatan yang konsisten,” jelasnya.
Ia juga mendorong pelaku usaha menerapkan pengelolaan keuangan sederhana, mulai dari menghitung pendapatan dan biaya, menyisihkan dana kas hingga menyiapkan modal untuk pengembangan usaha.
Menurutnya, bantuan pemerintah dapat menjadi pemicu awal. Namun, keberlanjutan usaha pada akhirnya bergantung pada kemampuan masyarakat mengelola dan mengembangkan pendapatannya secara mandiri.
Di sektor pariwisata, Dr Vishnu mendorong Pokdarwis, membangun jejaring dengan pelaku usaha perjalanan wisata di Batam. Dengan demikian, kawasan REC dapat masuk dalam pilihan destinasi yang ditawarkan kepada wisatawan.
Potensi mangrove, pengalaman wisata perikanan, kuliner lokal, kerajinan, batik, serta produk UMKM dapat dikemas menjadi paket wisata yang saling terhubung.
”Pariwisata itu sebetulnya mengintegrasikan, menggabungkan antara perikanan, kuliner, maupun UMKM; batik, kerajinan pesisir, dan potensi lainnya,” ujarnya.
Dari Potensi Menuju Ekonomi Nyata
Hasil FGD akan menjadi dasar bagi Tim Ekspedisi Patriot Barelang dalam menentukan pola pendampingan selama beberapa bulan ke depan.
Pendampingan diarahkan agar lebih intensif dan sesuai kebutuhan masyarakat. Fokusnya bukan hanya memberikan pelatihan, tetapi memastikan produk, layanan, kelembagaan, dan model bisnis benar-benar dapat berjalan.
Camat Galang menegaskan, perikanan, pariwisata, dan UMKM merupakan tiga sektor realistis yang dapat terus dikembangkan sebagai sumber penghidupan masyarakat secara berkelanjutan.
”Intinya kita harus terus berusaha memahami dan menyatukan potensi yang ada. Menurut saya, itu sudah menarik,” jelas Danang.
Melalui Ekspedisi Patriot, sinergi pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, koperasi, nelayan, pelaku UMKM, KWT, dan Pokdarwis diharapkan semakin kuat.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mengubah potensi lokal menjadi aktivitas ekonomi yang produktif dan terintegrasi, sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat di kawasan Barelang. (asa)
