Antara Maulid, Maulud, dan Mulut

SETIAP kali Rabiul Awal datang, kita kembali dipertemukan dengan sebuah momentum cinta. Kita menyebutnya peringatan Maulid Nabi. Namun sesungguhnya, Maulid bukan sekadar tradisi tahunan, bukan pula sekadar acara berkumpul, mendengar ceramah, lalu menikmati hidangan. Ia adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, menata kembali hati, dan bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Dasar kecintaan dan keteladanan kepada Rasulullah begitu terang di dalam AlQuran. Allah berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 21, ”Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” Kemudian dalam QS Al-Anbiya ayat 107, Allah menegaskan, ”Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Akhlak beliau pun mendapat pujian langsung dari Allah dalam QS Al-Qalam ayat 4, ”Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Bahkan cara mencintai Rasulullah juga diarahkan dengan sangat jelas dalam QS Ali Imran ayat 31, ”Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”

Ayat-ayat itu mengingatkan kita pada satu hal penting: mencintai Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengagungkan namanya. Cinta harus menemukan jalannya dalam keteladanan. Maulid bukan berhenti pada mengenang, tetapi bergerak menuju mengikuti.

Dalam khazanah bahasa Arab, istilah maulid dan maulud memang memiliki makna yang berbeda. Maulid berkaitan dengan waktu, tempat atau peristiwa kelahiran, termasuk peringatan atas kelahiran seseorang. Sementara maulud menunjuk kepada sosok yang dilahirkan. Sederhananya, maulid berbicara tentang peringatannya, sedangkan maulud berbicara tentang orang yang dilahirkan.

Maka dalam peringatan Maulid Nabi, perhatian kita semestinya tidak berhenti pada meriahnya acara, tetapi kembali kepada maulud yang kita cintai, yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari sanalah seharusnya kita belajar tentang kejujuran, kesabaran, kasih sayang, keberanian, amanah dan akhlak yang mulia.

Lalu, di mana letak ”mulut” dalam rangkaian maulid, maulud dan mulut ini?

Di sinilah refleksi itu menjadi menarik. Mulut adalah bagian kecil dari tubuh, tetapi pengaruhnya bisa sangat besar. Pepatah lama mengatakan, ”mulutmu harimaumu.” Banyak hubungan yang retak bukan karena pukulan. Banyak persahabatan yang berakhir bukan karena permusuhan. Bahkan silaturahmi pun terkadang putus hanya karena beberapa kalimat yang terlanjur keluar dan tidak mungkin ditarik kembali.

Karena itu, Maulid Nabi seharusnya juga menjadi momentum untuk memeriksa mulut kita sendiri. Sudahkah kata-kata yang keluar dari mulut kita menyejukkan, memaafkan, menguatkan dan memotivasi? Ataukah justru lebih sering menyindir, merendahkan, membuka aib, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau menyakiti hati orang lain?

Kita sedang memperingati seorang Rasul yang dikenal karena kemuliaan akhlaknya. Maka agak ironis jika lidah kita sibuk memuji beliau, tetapi pada saat yang sama mudah mencaci orang lain. Kita melantunkan pujian kepada Rasulullah, tetapi masih ringan menyebarkan kebencian. Kita berbicara tentang kelembutan beliau, tetapi keras kepada keluarga, tetangga, bawahan bahkan kepada orang yang berbeda pandangan dengan kita.

Padahal Rasulullah mengajarkan agar seorang Muslim berkata baik atau memilih diam. Diam bukan berarti kalah. Diam terkadang justru bentuk kemenangan seseorang atas egonya sendiri. Sebab tidak semua yang kita tahu harus dikatakan, tidak semua yang kita rasakan harus diumbar, dan tidak semua kesalahan orang lain harus menjadi bahan pembicaraan.

Namun mulut juga mempunyai tugas yang sangat mulia. Dari mulut para ulama, guru, dai dan penceramah, lahir nasihat yang dapat menghidupkan hati. Dari lisan seorang ayah, seorang ibu, seorang pemimpin atau seorang sahabat, bisa lahir kalimat sederhana yang mengubah arah hidup seseorang.

Karena itu, ceramah Maulid jangan hanya menjadi rangkaian kata yang indah di telinga, lalu hilang ketika kita meninggalkan tempat acara. Penceramah tentu memiliki tanggung jawab menyampaikan dengan ilmu dan ketulusan, sementara pendengar memiliki tanggung jawab untuk menangkap pesan dan menerjemahkannya dalam kehidupan.

Ukuran keberhasilan sebuah Maulid bukan seberapa panjang ceramahnya, seberapa ramai acaranya, atau seberapa banyak makanan yang tersaji. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah acara selesai. Apakah ada hati yang menjadi lebih lembut? Apakah ada orang yang berniat memperbaiki diri? Apakah ada lisan yang mulai dijaga? Apakah ada hubungan yang kembali diperbaiki?

Sebab nasihat yang baik seharusnya tidak hanya membuat kita terharu sesaat, tetapi juga mengubah cara berpikir, membangun sikap mental, dan mendorong kita menjadi manusia yang lebih baik. Kritik dan saran pun semestinya kita terima sebagai bentuk kepedulian bersama, bukan sebagai serangan. Dari kritik yang disampaikan dengan niat baik, kita belajar melihat kekurangan. Dari saran yang tulus, kita menemukan jalan untuk berbenah. Tujuannya sederhana: agar kita sama-sama menjadi lebih baik dan terus memperbaiki diri menuju hari depan yang lebih baik.

Makanan yang disediakan dalam acara Maulid tentu patut disyukuri. Ia bagian dari berbagi rezeki dan memuliakan sesama. Tetapi jangan sampai Maulid hanya membuat mulut kenyang sementara hati tetap kosong. Biarlah perut kenyang secukupnya, tetapi hati pulang membawa bekal yang jauh lebih berharga.

Bekal untuk menjadi lebih jujur dalam berdagang, lebih sabar dalam mendidik anak, lebih santun kepada tetangga, lebih amanah dalam bekerja, lebih lapang menerima perbedaan, lebih mudah meminta maaf, lebih ringan memaafkan, dan lebih berhati-hati menjaga lisan.

Pada akhirnya, mungkin inilah salah satu cara sederhana memaknai Maulid: mengenal maulud, menghayati maulid, lalu memperbaiki mulut dan seluruh perilaku kita.

Sebab cinta kepada Rasulullah tidak semestinya hanya terdengar dari ucapan. Ia harus terlihat dalam sikap. Ia harus terasa dalam akhlak. Ia harus hadir ketika kita berbicara dengan orang tua, mendidik anak, bekerja, bertetangga, bermasyarakat bahkan ketika berbeda pendapat.

Semoga Maulid tahun ini tidak hanya membuat kita semakin sering menyebut nama Rasulullah, tetapi juga semakin dekat dengan akhlaknya. Semoga para penceramah dimudahkan menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang menyejukkan, para pendengar diberi kekuatan untuk mengamalkannya, dan kita semua diberi kesempatan untuk terus berbenah.

Karena pada akhirnya, Maulid bukan hanya tentang memperingati sebuah kelahiran. Ia adalah panggilan untuk melahirkan kembali kebaikan dalam diri kita sendiri.

Mulut yang lebih terjaga, hati yang lebih bersih, pikiran yang lebih jernih, dan perbuatan yang semakin mencerminkan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga dari Maulid ini, bukan hanya kenangan tentang Rasulullah yang tumbuh, tetapi juga keteladanan beliau yang benar-benar hidup dalam keseharian kita. ***

Exit mobile version