Menundukkan Ego Purna Bakti, Seni Berdamai dengan Masa Lalu Demi Manfaat Masa Kini

KETIKA SK pensiun diterima dan ruang kerja mulai dikosongkan, sebuah babak baru yang penuh pergolakan batin sering kali dimulai. Bagi seorang mantan pegawai negeri, melepaskan atribut jabatan bukan sekadar perkara administrasi, melainkan ujian ketulusan hati.

Banyak yang terjebak dalam romantisme masa lalu, mengagungkan kejayaan saat bertugas, dan merasa telah berbuat banyak bagi negara. Namun, benarkah demikian di mata orang lain?

Masa pensiun sejati bukanlah waktu untuk menuntut sanjungan atas jasa yang telah lalu, melainkan momentum emas untuk berefleksi dengan jujur. Jika di masa lalu ada waktu yang tersita atau pengabdian yang belum optimal, hari ini adalah kesempatan terbaik untuk mengakuinya, berdamai dengan ego, dan membayar tuntas ruang kosong tersebut lewat ketulusan pengabdian bagi keluarga, lingkungan, serta sahabat tercinta.

Pensiun adalah keniscayaan setelah sekian lama mengabdi di tengah masyarakat, namun apa daya usia membatasi pengabdian itu. Tidak ada yang bisa menolak sunnatullah ini. Ada yang merasa telah banyak berbuat saat aktif bekerja dan ketika pensiun ada rasa puas yang lapang. Ada yang merasa belum puas dan ingin terus mengabdi, padahal aturan telah membatasi langkahnya.

Di sinilah hati diuji, apakah kita mampu menerima bahwa peran formal itu memang harus berakhir, sementara peran kemanusiaan tidak pernah pensiun.

Potret purna bakti pun beragam dan kita bisa melihatnya dengan mata telanjang. Ada yang merasa si paling berhasil, paling sukses, paling hebat saat masih aktif dan ketika pensiun masih saja bernostalgia, menyebut-nyebut jabatan dan jasa di depan teman-teman yang persis tahu siapa kita sebenarnya.

Ada yang egonya masih aktif, merasa paling berkuasa sehingga saran orang lain dianggap sepele. Pokoknya, saat menjabat tak mau dibantah atau menerima saran, bahkan jika ada kritikan dianggap lawan. Maka wajar jika saat pensiun, ia tidak lagi dihormati, tidak dipedulikan oleh masyarakat atau kawan-kawan, kalau pun ada yang datang paling teman satu dua orang dan orangnya itu-itu saja.

Saat menjabat, ia merasa paling top dan ketika pensiun merasa apa yang dibuat penerusnya salah melulu. Namun, ada juga potret yang berbeda, saat menjabat disenangi masyarakat dan bahkan saat perpisahan pensiun mengalir air mata staf atau anak buah yang dipimpin selama ini, seolah enggan berpisah karena ketulusan pimpinannya.

Dan ada juga yang biasa saja saat sudah purna bakti, menjalaninya apa adanya dan tidak sedih berlebihan, karena ia sadar sejak awal bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak diri. Istilahnya, pandailah merasa, jangan merasa pandai, jangan merasa si paling top. Di titik inilah kita perlu berani bertanya pada diri sendiri secara nurani, sudah benarkah cara kita mengabdi selama ini?

Masa kejayaan sering kali menjadi jebakan yang halus. Kita terjebak dalam nostalgia masa lalu, membanggakan cerita lama yang terus diulang-ulang, yang dalam ilmu psikologi sering disebut post-power syndrome. Kita lupa, bahwa kawan di sebelah kita tahu persis bagaimana kita dulu memimpin, bagaimana kita memperlakukan orang kecil, apakah kita ramah atau angkuh, apakah kita membuka pintu atau menutup telinga. Refleksi objektif itu menyakitkan, tapi justru di situlah obatnya berada. Maka keberanian mengakui kekurangan masa lalu, adalah langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin dulu kita pernah mengabaikan saran tulus, pernah menyakiti hati bawahan dengan kata-kata, pernah menunda urusan orang karena kesibukan yang kita buat-buat, atau pernah merasa rezeki dan fasilitas jabatan itu murni karena kehebatan kita. Mengakui itu di hadapan Allah dan di dalam hati sendiri tidak akan merendahkan kita, justru meninggikan derajat kita. Air mata penyesalan seorang pensiunan yang tulus, jauh lebih mulia daripada seribu cerita kehebatan yang dipaksakan untuk dikenang.

Lalu untuk apa kita mengukur hidup? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan timbangan yang sangat sederhana dan jernih untuk menilai kemuliaan seseorang. Bukan dari pangkat terakhir, bukan dari luasnya rumah atau banyaknya piagam penghargaan. Beliau bersabda:
Hadits lengkapnya adalah: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ.
Artinya: Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Hadis riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ nomor 3289. Tanyakanlah pada nurani kita, sudahkah kita menjadi manusia yang bermanfaat itu, atau baru bermanfaat saat ada kepentingan dan jabatan melekat di pundak.

Jika hari ini kita masih diberi kesehatan, masih punya rumah, masih punya tabungan, masih punya pengalaman dan relasi, sadarilah itu bukan karena kita paling hebat. Allah lah yang melebihkan rezeki sebagian hamba atas sebagian yang lain saat kita menjabat, agar kita bersyukur dan berbagi, bukan untuk menyombongkan diri.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: WALLAHU FADHDHALA BA’DHAKUM ‘ALA BA’DHIN FIR-RIZQ. Artinya: Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki. (QS An-Nahl ayat 71). Dan Allah juga mengingatkan tentang kunci keberkahan rezeki itu: WA IDZ TA-ADZDZANA RABBUKUM LA-IN SYAKARTUM LA-AZIIDANNAKUM WA LA-IN KAFARTUM INNA ‘ADZAABII LASYADIID. Artinya: Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat. (QS Ibrahim ayat 7).

Betapa banyak rezeki lebih, penghormatan lebih, dan kemudahan lebih yang kita terima saat aktif dulu dibandingkan orang lain. Semua itu amanah yang akan ditanya, sudahkah disyukuri dengan rendah hati.

Karena itu, seni menundukkan ego di masa purna bakti adalah seni menebus waktu. Alihkan fokus pengabdian yang dulu tercurah untuk kantor, kini untuk keluarga yang mungkin lama kita abaikan. Dulu kita sibuk rapat hingga larut, kini duduklah menemani cucu mengaji. Dulu kita sibuk menandatangani berkas, kini ringankanlah tangan membersihkan masjid, menjenguk tetangga sakit, mendamaikan sahabat yang berselisih, atau sekadar menjadi pendengar yang baik bagi lingkungan sekitar.

Pengabdian tidak butuh seragam dan stempel, ia hanya butuh hati yang tulus.

Pada akhirnya, kemuliaan sejati seorang pensiunan tidak diukur dari masa lalunya yang gemilang, melainkan dari manfaatnya hari ini. Tidak perlu lagi menuntut dihormati, karena penghormatan sejati tumbuh dari keteladanan, bukan dari jabatan. Tidak perlu lagi merasa paling benar, karena kebenaran yang angkuh justru menjauhkan kasih sayang.

Marilah kita jalani sisa umur ini dengan apa adanya, dengan hati yang lapang, mengakui kekurangan, memohon ampun atas kealfaan selama memimpin, dan melanjutkan pengabdian dengan tulus ikhlas semata-mata mengharapkan ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di situlah letak bahagia yang sesungguhnya, ketika kita tidak lagi mencari panggung, tetapi mencari manfaat, tidak lagi mengejar pujian manusia, tetapi mengejar senyum ridho dari Sang Pemilik Waktu. ***

 

 

Exit mobile version