Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
DULU guru saya pernah bilang, suku Melayu di Kepulauan Riau asalnya dari Malaysia. Mendengar ucapannya, saya lihat peta dan saya pikirkan. Berdasarkan yang dia bilang, kalau dilihat dari tempat saya yang berada di Batam, artinya dari Malaysia ke Singapura dulu sebelum sampai ke Batam. Setelah di Singapura barulah nenek moyang kami orang-orang Melayu Kepulauan Riau sampai ke Batam. Setelah melintasi selat. Kecuali yang di Bintan dan Karimun, langsung dari Johor dengan kapal.
Anggapannya itu setengah benar. Faktanya adalah suku Melayu di Malaysia lah yang berasal dari Kepulauan Riau, karena masyarakat asli Malaysia adalah orang jakun yang bahasanya jelas-jelas berbeda dengan bahasanya orang Melayu. Suku Melayu telah datang ke Malaysia sejak zaman Yunani kuno. Di awal abad 16 setelah berdirinya Kesultanan Riau, barulah banyak orang-orang Melayu dari Malaysia yang balek lagi ke Kepulauan Riau. Hidup di pusat kebudayaan Melayu, yang berpusat di pulau Bintan.
Saya sendiri di bumi ini hanya bisa tinggal di dua tempat, yaitu tempat yang berbahasa Melayu (indonesia) dan tempat yang berbahasa Inggris. Meskipun bahasa Inggris saya memprihatinkan. Selain di dua tempat ini, saya tak bisa tinggal dimanapun, berdasarkan kemampuan bahasa saya. Karena saya tak paham bahasa lain selain dua bahasa ini. Percakapan itu penting. Sesuka apapun saya dengan negara-negara di daratan Eropa, Prancis misalnya, saya tak bisa tinggal di sana. Di Eropa saya hanya bisa tinggal di Britania.
Sekarang sejak zaman YouTube mendunia, semakin banyak turis mancanegara yang datang berwisata ke Kepulauan Riau. Khususnya dari Singapura dan Malaysia, setiap minggu. Pulau-pulau di luar Batam menjadi tujuan utama, contohnya Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya.
Awalnya disebabkan ketermahsyuran pantun Melayu klasik yang menceritakan Gunung Daek, yang sanggup mengumpulkan tiga bangsa berbeda dalam satu provinsi yang sama, disatukan dengan satu logat yang sama, logat Melayu.
Lingga dulu dipilih menjadi ibukota kedua Kesultanan Riau, sebab letaknya yang lebih dekat dengan Batavia, sehingga memudahkan urusan kenegaraan. Tempat Sultan Mahmud III menyelematkan diri, setelah kalah dalam perang Riau. Hari ini tenar dengan dua tokoh kondangnya, Rahul dan Tok Nuzu.
Sekarang, ibukota suku Melayu telah kembali ke Bintan. Bintan juga tujuan utama wisatawan mancanegara kelas dunia. Demikianlah cerita pendek suku Melayu di Malaysia dan Kepulauan Riau yang dipisah lewat traktat London 1824. ***
—
Penulis adalah penyuka gulai kambing.
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.
