Erdogan dan Putin Bahas Bentrokan dan Serangan Israel di Suriah Via Telepon

Erdogan dan Putin Bahas Bentrokan dan Serangan Israel di Suriah Via Telepon
Foto dokumentasi menunjukkan Presiden Rusia, Vladimir Putin (kanan) bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan di Moskow, Rusia, pada 5 Maret 2020. (F. Xinhua/Sputnik)

ANKARA (Kepri.co.id – Xinhua) – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (18/7) mengadakan percakapan via telepon dengan mitra setaranya dari Rusia, Vladimir Putin, menyatakan kekhawatirannya bahwa bentrokan-bentrokan di Suriah menimbulkan ancaman bagi stabilitas seluruh kawasan itu, seperti diungkapkan kantor kepresidenan Turki dalam sebuah pernyataan.

Dalam panggilan telepon tersebut, kedua pemimpin itu membahas tentang meningkatnya ketegangan di Provinsi Sweida, Suriah selatan, menurut pernyataan tersebut.

Erdogan menggarisbawahi pentingnya Israel untuk tidak melanggar kedaulatan Suriah, dan menegaskan kembali komitmen Turki untuk mendorong stabilitas dan keamanan di Suriah, serta mendukung pemulihan negara itu sesegera mungkin.

Dalam sebuah pernyataan, Kremlin mengatakan, kedua pemimpin tersebut telah bertukar pandangan secara rinci mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di Timur Tengah, termasuk eskalasi di Suriah.

“Mereka menyatakan kekhawatiran yang mendalam atas lonjakan kekerasan baru-baru ini di negara itu, menekankan bahwa sangat penting untuk menstabilkan situasi sesegera mungkin, melalui dialog dan dengan memperkuat kesepakatan nasional sembari menghormati hak-hak yang sah dari semua anggota masyarakat Suriah yang menganut beragam keyakinan,” menurut pernyataan Kremlin.

“Kedua belah pihak menekankan perlunya menghormati kedaulatan, persatuan, dan integritas teritorial Suriah,” tambah pernyataan itu.

Eskalasi kekerasan yang terjadi secara mendadak di Provinsi Sweida, Suriah selatan, telah memicu krisis yang kompleks dan terus memburuk. Kejadian ini, memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas Suriah hanya enam bulan setelah runtuhnya pemerintahan sebelumnya, dan menimbulkan gelombang kejut di seluruh kawasan itu.

Dalam sepekan terakhir, Sweida menjadi saksi bisu bentrokan antarsuku di Suriah. Pertempuran yang awalnya dipicu oleh perselisihan setempat antara komunitas Druze dan suku Badui, dengan cepat meningkat menjadi konflik perkotaan yang melibatkan pasukan pemerintah sementara Suriah.

Hingga Kamis (17/7/2025), hampir 600 orang dilaporkan tewas, termasuk puluhan warga sipil dan ratusan pejuang dari semua pihak, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights) yang berbasis di Inggris.

Seiring meningkatnya ketegangan, Israel, dengan dalih melindungi komunitas Druze di Suriah, melancarkan serangkaian serangan udara yang menargetkan lokasi-lokasi militer Suriah di Sweida dan Damaskus, ibu kota Suriah. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Menlu Turki dan Rusia Bahas Konflik Ukraina dan Pelayaran di Laut Hitam

Bertemu Sekjen NATO, Erdogan Tegaskan Dukungan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina

Putin Usulkan Dimulainya Kembali Perundingan Damai dengan Ukraina di Istanbul

Warga Suriah Korban Perang Buka Puasa Bersama di Tengah Reruntuhan di Damaskus

Exit mobile version