Mengenang Italia di Piala Dunia 2006

Berlin, GERMANY: Italian midfielder Francesco Totti and Italian forward Filippo Inzaghi hold up the 2006 World Cup trophy among his team players after Italy won their final football match against France at Berlin?s Olympic Stadium, 09 July 2006. Italy won 5-3 on penalties. AFP PHOTO/ROBERTO SCHMIDT (Photo credit should read ROBERTO SCHMIDT/AFP via Getty Images)

Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat

Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial

PESTA sepak bola dunia telah dimulai, tapi timnas kegemaran saya tak ikut. Meskipun begitu, saya tetap ingat kenyataan-kenyataan penting timnas kegemaran saya yang berjaya menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman dulu. Saat saya masih SMA. Kenyataan-kenyataan itu, tetap ada dalam pikiran saya sampai sekarang. Kenyataan-kenyataan itu adalah…

1. Italia tak punya mesin gol seperti Christian Vieri, yang terpaksa absen karena cidera. Padahal, mereka membawa enam penyerang. Ini disebabkan Marcello Lippi salah memilih penyerang utama. Seharusnya, yang menjadi penyerang utama adalah Antonio Cassano. Tapi nyatanya, jangankan menjadi penyerang utama, Cassano justru tak dibawa ke Jerman. Ini kesalahan Lippi. Setelah Cassano, yang pantas menjadi penyerang utama adalah Filippo Inzaghi. Tapi malangnya, Inzaghi hanya menjadi cadangan.

2. Di sepanjang pagelaran, Filippo Inzaghi hanya dimainkan dalam satu pertandingan, saat melawan Ceko. Inzaghi mencetak satu gol cantik pada pertandingan itu. Ini juga kesalahan Lippi. Karena di antara semua penyerang yang dibawanya, Inzaghi lah yang paling pantas menjadi penyerang utama Italia saat itu. Karena naluri mencetak golnya adalah yang tertinggi. Andai Inzaghi lebih sering dimainkan, dia pasti sering menjadi pahlawan. Khususnya saat melawan Prancis di final. Italia tak perlu sampai menang lewat adu penalti.

3.  Nyawa permainan Italia adalah hasil karya gabungan otak Andrea Pirlo dan Francesco Totti. Sehingga, walaupun lini depan Italia tampil buruk saat itu, tapi di setiap pertandingan Italia cenderung mampu menguasai pertandingan. Didukung Fabio Cannavaro yang kokoh memimpin lini belakang dan Gianluigi Buffon yang kehadirannya menenangkan semua kawan-kawannya. Dan satu lagi Gennaro Gattuso, gelandang perkasa yang menjadi jangkar antara Canavaro ke Pirlo dan Totti. Satu tiang penting di kubu Italia.

4. Alessandro Del Piero… pemain kesayangan Italia. Yang sering dicadangkan, tetap sering dimainkan Lippi. Walau sebagai pengganti. Del Piero tetap dimainkan, karena Del Pero adalah pemain kesayangan masyarakat Italia. Orang-orang Italia selalu ingin melihat Del Piero bermain, walau hanya 30 menit dan walau Del Piero tak selalu bisa memuaskan pendukungnya. Mujurnya, Del Piero mencetak gol ke gawang Jerman di semi final. Gol itu semakin membuat masyarakat Italia mencintainya.

5.  Bagi saya, daripada membawa Vincenzo Iaquinta dan menjadikan Luca Toni sebagai penyerang utama Italia, jelas lebih baik membawa Antonio Cassano dan menjadikannya penyerang utama. Tapi, karena ego Lippo terlalu besar, sehingga dia menyia-nyiakan Cassano. Akibatnya, lini depan italia cenderung tumpul di sepanjang pagelaran. Secara umum, masing-masing penyerang hanya mencetak satu gol. Ini adalah pencapaian buruk untuk sebuah timnas, yang dikenal dengan kumpulan penyerang hebatnya.

6. Di antara semua pemain yang dibawa dan dimainkan Lippi, Gianluca Zambrotta adalah yang terbaik. Karena dia bisa bermain di banyak tempat, mulai dari bek kanan sampai sayap kanan. Dari belakang ke depan. Penampilan hebat Zambrotta sangat mendukung kerja sama Pirlo dan Totti dalam mengacak-acak kubu pertahanan lawan. Tendangannya juga kuat seperti peluru dan tubuhnya tetap kuat bermain dalam waktu panjang. Kelihaiannya membaca arah permainan adalah kelebihan utamanya.

7. Saya tak puas gol tunggal Italia dalam 120 menit pertandingan final dicetak Marco Materazzi, bagi saya, seharusnya gol satu-satunya itu dicetak Filippo Inzaghi. Tapi malangnya, Inzaghi tak dimainkan walau semenit pun. Padahal, kalau malam itu Inzaghi dimainkan, bisa jadi Italia menang dalam waktu 90 menit. Begitu juga dengan penentu kemenangan Italia, Fabio Grosso. Seharusnya penalti terakhir itu diambil Del Piero. Andai ini terjadi, sempurna rasanya kemenangan Italia malam itu.

Demikianlah kenyataan-kenyataan penting yang tetap teringat di pikiran saya, walau pagelaran itu telah dua puluh tahun yang lalu berlalu. Setiap saya menonton ulang cuplikan pertandingan-pertandingan Italia di pagelaran itu, saya sering menyayangkan Cassano yang tak dibawa ke Jerman. Tapi, semuanya sudah menjadi sejarah, tepung sudah jadi donat. Walau tak sesempurna yang diharapkan, tapi setidaknya, Italia juara dunia. ****

Penulis adalah penggemar Serie A 90an. Juventus dan Parma adalah club masa kecilnya.

*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.

Exit mobile version