KAIRO (Kepri.co.id – Xinhua) – Amerika Serikat (AS), Mesir, dan Qatar, para mediator perundingan gencatan senjata di Gaza, telah mengakhiri diskusi selama dua hari mereka di Doha, dengan rencana menggelar pertemuan lagi di Kairo pekan depan.
Namun demikian, seorang akademisi Palestina meragukan peran yang dimainkan Washington.
Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Kairo. (XHTV)
“Saya rasa, Mesir dan Qatar memiliki integritas dalam mediasi mereka, tetapi AS adalah mitra penting bagi Israel dan memainkan peran ilusionis, untuk membiarkan perang ini terus berlanjut dan terus membantu Israel mencapai tujuannya,” ujar Abdel Mohdy Motawe, peneliti yang berbasis di Kairo/ Direktur Eksekutif Forum Timur Tengah untuk Studi Strategis dan Keamanan Nasional.
Baca Juga: Anak-Anak di Gaza Genggam Harapan Perdamaian di Tengah Konflik Palestina-Israel
Sejak 7 Oktober 2023, Hamas dan tentara Israel terlibat dalam konflik berskala besar yang dimulai dengan serangan mematikan Hamas, di kota-kota Israel di dekat Jalur Gaza yang terkepung hingga menewaskan sekitar 1.200 orang.
Jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza, telah melampaui 40.000 orang, kata otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Kamis (15/8/2024).
Baca Juga: Mimpi Warga Gaza Jalani Hidup Normal Pupus oleh Pengungsian Berulang Kali
“Tujuan Israel adalah untuk mematahkan semangat rakyat Palestina agar tidak ada lagi upaya perlawanan terhadap Israel di masa depan. Perang ini akan membayangi setidaknya dua generasi. AS dan Israel sibuk menciptakan status di mana rakyat Palestina tidak dapat memenuhi ambisi mereka,” ujar Abdel Mohdy Motawe, peneliti yang berbasis di Kairo/ Direktur Eksekutif Forum Timur Tengah untuk Studi Strategis dan Keamanan Nasional. (amr/ xinhua-news.com)
