Perundingan Gencatan Senjata di Doha Berakhir dengan Proposal “Menjembatani”, Hamas Tolak “Syarat-syarat Baru”

Perundingan Gencatan Senjata di Doha Berakhir dengan Proposal "Menjembatani", Hamas Tolak "Syarat-syarat Baru"
Seorang anak terlihat di Rumah Sakit Nasser di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 13 Agustus 2024. (F. Xinhua/Khaled Omar)

DOHA (Kepri.co.id – Xinhua) – Negara-negara mediator perundingan gencatan senjata Perang Gaza pada Jumat (16/8/2024) mengumumkan, diskusi selama dua hari di ibu kota Qatar, Doha, telah berakhir, dengan rencana bertemu kembali di Kairo pekan depan, guna memfinalisasi kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik.

Dalam sebuah pernyataan bersama, Amerika Serikat (AS), Mesir, dan Qatar menggambarkan perundingan itu, sebagai perundingan yang konstruktif dan dilaksanakan dalam lingkungan positif.

Baca Juga: 84 Persen Wilayah Jalur Gaza di Bawah Perintah Evakuasi Militer Israel

Pernyataan tersebut mengatakan, sebuah “proposal yang sifatnya menjembatani” telah dikemukakan ketiga mediator kepada Hamas dan Israel, yang sesuai prinsip-prinsip Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2735, menyerukan gencatan senjata yang “segera, komprehensif, dan tuntas” di Gaza demi mengakhiri konflik.

Perundingan yang dimulai pada Kamis (15/8/2024) itu, berfokus pada upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 bulan, dan menjamin pembebasan para sandera. Kesepakatan yang sukses dipandang penting, untuk mencegah konflik regional lebih lanjut.

Seorang wanita meratapi para korban di Rumah Sakit Nasser di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 13 Agustus 2024. (F. Xinhua/Khaled Omar)

Hamas, yang tidak berpartisipasi secara langsung dalam perundingan, menuduh Israel menambahkan syarat-syarat baru, ke dalam proposal yang sebelumnya telah didukung.

Kelompok militan tersebut mengeklaim, Israel menuntut penempatan pasukan di sepanjang perbatasan Gaza dengan Mesir, dan memberlakukan pembatasan pertukaran tawanan.

Hamas menuntut gencatan senjata penuh, penarikan pasukan Israel, kembalinya para pengungsi, dan pertukaran tawanan tanpa pembatasan.

Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri menuding pemerintahan Presiden AS, Joe Biden berusaha menciptakan “atmosfer positif yang palsu”, dan menyatakan skeptisisme terhadap hasil perundingan.

Hamas berargumen, proposal yang ada saat ini berbeda dengan rencana sebelumnya yang telah didukung Biden.

Kantor Perdana Menteri (PM), Israel Benjamin Netanyahu menyatakan rasa terima kasih atas upaya para mediator, dan berharap mereka akan membuat Hamas menerima syarat-syarat proposal yang dibuat pada akhir Mei 2024 tersebut.

Netanyahu telah dituding menambahkan tuntutan-tuntutan baru, tetapi dia bersikukuh, tuntutan-tuntutan tersebut hanya berupa penjelasan.

Orang-orang menghadiri pemakaman para korban yang tewas, akibat serangan udara Israel di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 14 Agustus 2024. (F. Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Setelah berakhir perundingan di Doha itu, Biden menyatakan, pencapaian kesepakatan gencatan senjata “lebih dekat dari sebelumnya.”

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Antony Blinken, yang membatalkan perjalanannya ke Israel sebelumnya pekan ini lantaran ancaman serangan dari Iran, akan mengunjungi Israel pada akhir pekan ini, guna mendorong kesepakatan gencatan senjata tersebut. Demikian diumumkan Departemen Luar Negeri AS, menyusul pernyataan optimistis Biden.

Mesir, yang akan menjadi tuan rumah perundingan putaran berikutnya, juga menekankan pentingnya gencatan senjata mencegah konflik regional yang lebih luas.

“Ini merupakan kunci dimulainya solusi di kawasan ini dan dimulainya deeskalasi,” ujar Menlu Mesir, Badr Abdelatty dalam kunjungannya ke Beirut, di tengah meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel.

Foto yang diabadikan pada 11 Agustus 2024 ini, menunjukkan bangunan-bangunan yang hancur di Jalur Gaza, sebagaimana terlihat dari perbatasan selatan Israel dengan Jalur Gaza. (F. Xinhua/Gil Cohen Magen)

Badan-badan PBB telah menyerukan dua jeda pertempuran, masing-masing selama tujuh hari untuk memberikan kesempatan bagi pelaksanaan vaksinasi polio kepada lebih dari 640.000 anak-anak di Gaza.

Hamas mendukung permintaan ini dan juga menuntut pengiriman pasokan penting ke wilayah tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berencana meluncurkan kampanye vaksinasi pada akhir Agustus dan September 2024, tetapi program tersebut membutuhkan penghentian pertempuran untuk sementara.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan perlunya jeda kemanusiaan untuk memastikan pemberian vaksin, seraya menambahkan “vaksin terbaik untuk semua anak di Gaza adalah perdamaian.” (amr/ xinhua-news.com)

Exit mobile version