Xi Jinping, Sang Reformis (Bagian 1)

Xi Jinping meletakkan karangan bunga di depan patung perunggu Deng Xiaoping di Taman Lianhuashan di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 8 Desember 2012. (F. Xinhua/Lan Hongguang)

BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Presiden China, Xi Jinping meluncurkan serangkaian reformasi baru yang akan menentukan lintasan pertumbuhan perekonomian terbesar kedua di dunia itu, saat kepemimpinan Partai Komunis China (Communist Party of China/ CPC) memulai sebuah pertemuan yang berlangsung selama empat hari, Senin (15/7/2024).

Dalam pembukaan Sesi Pleno Ketiga Komite Sentral CPC ke-20, Xi, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komite tersebut, menyampaikan laporan kerja atas nama Biro Politik Komite Sentral CPC, memaparkan sebuah draf keputusan tentang pendalaman reformasi dan percepatan modernisasi China secara lebih komprehensif.

Baca Juga: Xi Jinping Gelar Pembicaraan dengan Presiden Peru

Sesi Pleno Ketiga Komite Sentral CPC ke-20 yang sedang berlangsung ini, dianggap setara dengan “sesi pleno ketiga” bertema reformasi lainnya, termasuk sesi pleno bertema serupa tahun 1978, ketika Deng Xiaoping memulai upaya reformasi dan keterbukaan China.

Menjelang sesi pleno itu, Xi telah kerap kali mempromosikan reformasi, yang mendesak upaya “membebaskan pikiran, membebaskan dan mengembangkan kekuatan produktif sosial, serta mencurahkan dan meningkatkan vitalitas sosial”, sehingga dapat “memberikan dorongan kuat dan jaminan institusional bagi modernisasi China”.

Hal ini telah meningkatkan ekspektasi putaran baru dari reformasi yang mendalam, menepis kekhawatiran mengenai apakah reformasi China “sedang mengalami stagnasi” atau apakah ekonomi China “sedang mengalami perlambatan”.

Sejak Xi menjabat sebagai pemimpin tertinggi lebih dari satu dekade lalu, China telah memasuki “era baru.” Kekuatan ekonomi negara itu tumbuh, dan martabatnya di kancah internasional terus meningkat. Reformasi telah menjadi ciri dari era ini.

Namun demikian, di tengah banyaknya tantangan lama maupun baru, China kini berada dalam masa krusial mempercepat laju reformasinya.

 

REFORMASI TIDAK AKAN BERHENTI, KETERBUKAAN TIDAK AKAN BERAKHIR

Xi dianggap sebagai seorang reformis terkemuka di China setelah Deng Xiaoping.

Kedua pemimpin tersebut menghadapi misi yang sama, memodernisasi China namun dengan latar belakang yang sangat berbeda.

Ketika Deng meluncurkan reformasi dan keterbukaan pada akhir tahun 1970-an, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita China, saat itu kurang dari 200 Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.154). Upayanya melakukan reformasi dan keterbukaan dimulai hampir dari nol.

Xi Jinping mengunjungi keluarga Tang Rongbin di Desa Luotuowan di Longquanguan yang terletak di Wilayah Fuping, Provinsi Hebei, China utara, pada 30 Desember 2012. (F. Xinhua/Lan Hongguang)

Tahun 2012, ketika Xi terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral CPC, China telah menjadi perekonomian terbesar kedua di dunia, dengan PDB per kapita tercatat lebih dari 6.000 dolar AS.

Namun, pertumbuhan sedang bergeser ke arah yang lebih baik, dan banyak keuntungan, termasuk biaya tenaga kerja yang rendah, sudah mulai menyusut.

Alih-alih berpuas diri dengan apa yang telah dicapai pendahulunya, Xi berkomitmen melanjutkan reformasi, walaupun dia tahu betapa sulitnya komitmen tersebut dilakukan.

“Bagian mudah dari upaya ini telah dilakukan, dengan hasil yang memuaskan semua pihak. Yang tersisa hanyalah tugas-tugas yang sulit dan rumit diselesaikan,” ujar Xi.

Selama satu dekade terakhir, lebih dari 2.000 langkah reformasi telah diluncurkan, yang membuat China dapat memberantas kemiskinan ekstrem, mendorong pembangunan perkotaan-pedesaan yang terpadu, memberantas korupsi, mendukung dunia bisnis, meningkatkan inovasi, dan mempercepat “revolusi hijau”.

Berkat langkah-langkah reformasi itu, ekonomi China tidak hanya mempertahankan pertumbuhan kuat, tetapi juga meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2012, memperkuat status global negara tersebut sebagai kontributor pertumbuhan utama.

Xi Jinping melihat pemandangan kota dari Taman Lianhuashan di Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan, pada 14 Oktober 2020. Xi menghadiri pertemuan besar yang diadakan merayakan 40 tahun pendirian Zona Ekonomi Khusus Shenzhen, dan menyampaikan pidato penting dalam pertemuan tersebut pada 14 Oktober 2020. (F. Xinhua/Ju Peng)

Sembari mengupayakan masa depan yang lebih baik bagi negara dan rakyatnya, Xi menyoroti reformasi dan keterbukaan sebagai “sarana penting”, mewujudkan modernisasi China dan memperluas keajaiban pembangunan negara tersebut.

Dalam sebuah sesi studi berkelompok di Biro Politik Komite Sentral CPC pada Januari 2024, Xi menegaskan kembali pentingnya reformasi.

Beberapa pekan kemudian, dalam sesi tahunan badan legislatif nasional dan badan penasihat politik tertinggi China, Xi menekankan perlunya upaya memperdalam reformasi di berbagai sektor.

“Reformasi adalah kekuatan pendorong untuk pembangunan,” ungkap Xi pada Mei 2024, ketika dirinya melakukan inspeksi di Provinsi Shandong, China timur.

Dalam inspeksi tersebut, Xi mengadakan simposium meminta pendapat dari para pemimpin bisnis, dan cendekiawan mengenai cara makin memperdalam reformasi.

“Sangat jelas bahwa reformasi memiliki porsi yang signifikan dalam pemikiran Xi. Saya rasa, dia memiliki pemahaman yang baik mengenai semua isu terkait reformasi,” ujar Huang Hanquan, kepala Akademi Penelitian Makroekonomi China, yang merupakan salah satu pembicara tamu dalam simposium tersebut.

Komitmen Xi terhadap reformasi selama ini sangat konsisten.

Tahun 1969, ketika dia bahkan belum berusia 16 tahun, Xi dikirim ke Desa Liangjiahe di Provinsi Shaanxi, China barat laut, melakukan pekerjaan pertanian.

Di desa tersebut, dia mengalami kelaparan. Aspirasi Xi muda kala itu, memastikan semua penduduk desa bisa mendapatkan cukup makanan.

Dorongan yang kuat bagi Xi, melakukan reformasi juga berasal dari aspirasi rakyat untuk kehidupan yang lebih baik.

Langkah-langkah reformasi yang diterapkan Xi sebagai ketua Partai di Liangjiahe, termasuk penggunaan biogas, pembukaan toko pandai besi, dan toko kebutuhan sehari-hari. Semuanya bertujuan, meningkatkan kehidupan penduduk desa.

Komitmen Xi terhadap reformasi dipengaruhi ayahnya, Xi Zhongxun, seorang revolusionis tua serta pendukung reformasi dan keterbukaan. Tahun 1978, ayah Xi ditunjuk sebagai pejabat tertinggi di Provinsi Guangdong, China selatan.

Dia kemudian membantu membangun zona-zona ekonomi khusus pertama di China, termasuk Shenzhen, Zhuhai, dan Shantou.

Tahun 1978 pula, sang ayah memberi amanat kepada Xi, kala itu sedang menimba ilmu di Universitas Tsinghua bergengsi, melakukan penelitian lapangan mengenai sistem tanggung jawab kontrak rumah tangga yang diprakarsai di Provinsi Anhui, China timur.

Xi membuat banyak catatan di bukunya hingga buku itu penuh. Hingga saat ini, Xi masih menyimpan buku tersebut.

Reputasi Xi sebagai seorang reformis makin kuat, seiring kemajuan karier politiknya.

Xi Jinping berinteraksi dengan perwakilan bisnis dan akademisi yang menghadiri simposium di Jinan, Provinsi Shandong, China timur, pada 23 Mei 2024. Xi memimpin simposium tersebut dan menyampaikan pidato penting pada 23 Mei 2024. (F. Xinhua/Li Tao)

Pada awal tahun 1980-an, Xi memulai eksperimen reformasi di wilayah miskin Zhengding di Provinsi Hebei, China utara, yang dimulai uji coba sistem kontrak tanah pedesaan. Ini menjadikan Zhengding, sebagai wilayah pertama di Hebei yang mengadopsi praktik ini.

Sebuah artikel yang diterbitkan di majalah China Youth tahun 1985, menggambarkan transformasi wilayah tersebut secara mendetail. Artikel itu mengutip pernyataan seorang Sekretaris Partai dari sebuah wilayah di salah satu provinsi tetangga, yang pernah mengunjungi Zhengding.

Dia mengatakan, di sini, Anda tidak mendengar orang-orang meneriakkan ‘reformasi’, tetapi reformasi terjadi di mana-mana.

“Mengingat kembali tahun-tahun itu, salah satu hal yang kami capai adalah membebaskan pemikiran kami,” kata Xi, saat mengenang reformasi yang dia pimpin di Zhengding.

Setelah Zhengding, Xi ditugaskan bekerja di Xiamen, sebuah zona ekonomi khusus di Provinsi Fujian, di mana Xi memelopori pendirian bank usaha patungan (joint venture) pertama di China, yakni Xiamen International Bank.

Setelah naik jabatan menjadi Gubernur Fujian, Xi memimpin reformasi kepemilikan hutan kolektif, yang kemudian diterapkan secara nasional ke wilayah lain di seluruh China.
Inisiatif ini dikenal sebagai langkah revolusioner lainnya, reformasi pedesaan di China setelah sistem tanggung jawab kontrak rumah tangga.

Selama menjabat sebagai ketua Partai di Provinsi Zhejiang, China timur, Xi mengusulkan sebuah inisiatif mendorong pembangunan melalui peningkatan industri.

Xi secara aktif mendukung bisnis swasta, serta mendorong para pebisnis untuk “datang langsung” ke kantornya, guna mendapatkan bantuan. Xi juga memperluas reformasi di Zhejiang melampaui bidang ekonomi dan politik, hingga mencakup aspek sosial, budaya, dan ekologi.

Reputasi Xi sebagai reformis. meninggalkan kesan mendalam pada tokoh-tokoh internasional terkemuka. Pada September 2006, Henry Paulson, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan Amerika Serikat, mengunjungi China dan memilih Hangzhou, ibu kota Zhejiang, sebagai perhentian pertamanya.

Paulson menganggap Xi sebagai “pilihan sempurna”, untuk pertemuan pertamanya di China. Paulson menggambarkan Xi sebagai “tipe orang yang tahu cara mencapai tujuan.”

Paulson kemudian menceritakannya, selama pertemuan lainnya dengan Xi tahun 2014, pemimpin China itu menyatakan, “Perhatian utama saya, reformasi dan isu-isu terkait.”

Tahun 2007, sebagai ketua Partai di Shanghai, Xi melihat perlu reformasi mengalihkan ekonomi kota tersebut ke pembangunan yang didorong inovasi, meningkatkan daya saingnya sebagai pusat keuangan internasional, serta memperkuat perannya sebagai kota terdepan di China dalam reformasi dan keterbukaan.

Usai menduduki jabatan tertinggi Partai tahun 2012, inspeksi domestik pertama Xi membawanya ke Shenzhen, mengikuti jejak sang ayah.

Di sana, Xi meletakkan karangan bunga di patung perunggu Deng Xiaoping di Taman Lianhuashan, seraya menyatakan, sebuah komitmen tegas terhadap reformasi: “Reformasi tidak akan berhenti, dan keterbukaan tidak akan berakhir!”

Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral CPC ke-18, yang digelar tahun 2013 di bawah kepemimpinan Xi, dianggap sebagai sebuah tonggak sejarah, sama seperti Sidang Pleno Ketiga Komite Sentral CPC ke-11 pada 1978 yang mengawali era reformasi. Sidang tahun 2013 tersebut, menandai dimulainya era reformasi baru.

Xi Jinping berinteraksi dengan para staf di sebuah pusat perbelanjaan bebas bea internasional di Sanya, Provinsi Hainan, China selatan, pada 11 April 2022. (F. Xinhua/Li Xueren)

Dalam sidang itu, Xi menyebutkan serangkaian tantangan yang dihadapi pembangunan China lebih lanjut, termasuk korupsi, pembangunan tak berkelanjutan, serta isu-isu lingkungan hidup.

Xi menekankan, “kunci untuk mengatasi masalah-masalah tersebut terletak pada upaya memperdalam reformasi.”

Lebih dari sebulan kemudian, China mengumumkan keputusan membentuk Kelompok Pemimpin Sentral untuk Memperdalam Reformasi Secara Komprehensif, yang dipimpin sendiri oleh Xi.

Ini menandai pertama kalin dalam sejarah Partai, sebuah badan kepemimpinan yang secara khusus didedikasikan reformasi dibentuk di tingkat pusat.

Selanjutnya, kelompok ini berkembang menjadi Komisi Sentral Memperdalam Reformasi Secara Komprehensif, dengan Xi sebagai pemimpinnya. (***/ Bersambung)

Exit mobile version