BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Tim ilmuwan China telah memublikasikan penelitian baru yang mendeskripsikan mekanisme penciuman serangga, dan bagaimana paparan bahan kimia tertentu menghasilkan perilaku serangga yang spesifik, memberikan informasi terobosan yang dapat digunakan mengembangkan pestisida yang ramah lingkungan, aman, dan efisien.
Tim peneliti itu dipimpin Wang Guirong, seorang peneliti di Institut Genomik Pertanian di Shenzhen yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/ CAAS), bersama para ilmuwan dari Universitas Pertanian Huazhong dan Institut Perlindungan Tanaman yang juga berada di bawah naungan CAAS.
Makalah penelitian tersebut, diterbitkan secara daring dalam edisi terbaru jurnal akademis Science. Menurut Wang, serangga mengandalkan indra penciuman mereka yang sensitif merasakan semiokimia di lingkungan, yang berarti bahan kimia yang dilepaskan organisme memicu respons.
Reseptor bau memainkan peran inti dalam proses pengenalan penciuman, dan ketika aktif, reseptor itu dapat mengubah sinyal kimia eksternal menjadi sinyal bioelektrik, sehingga memediasi respons perilaku serangga yang relevan, kata Wang.
Di antara berbagai reseptor bau terdapat reseptor untuk feromon peringatan. Para ilmuwan telah menemukan, sebagian besar kutu daun melepaskan tetesan kecil mengandung feromon peringatan dari tabung perut (abdominal tube), ketika diserang musuh alami atau bahaya lainnya, memperingatkan kutu daun di sekitarnya segera melarikan diri, ujar Wang.
Dengan menggunakan teknologi mikroskop krioelektron, tim Wang mempelajari struktur reseptor feromon peringatan pada kutu daun kacang polong, dan berhasil mengungkap mekanisme yang digunakan kutu daun mengenali feromon peringatan. Sehingga, memberikan perspektif baru
memahami interaksi antarserangga.
Wang mengatakan, penemuan ini memiliki signifikansi ilmiah dan nilai penerapan praktis, memberikan dukungan teoritis dan panduan praktis bagi pengembangan teknologi ramah lingkungan guna mencegah dan mengendalikan kutu daun.
Bill Hansson, seorang ilmuwan dari Max Planck Institute for Chemical Ecology di Jerman dan anggota luar negeri di Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/ CAS).
“Pengetahuan ini sangat penting, karena kita masih belum sepenuhnya memahami bagaimana reseptor bau mendeteksi molekul pada organisme apa pun. Selain itu, penelitian mereka berfokus pada kutu daun, hama pertanian yang sangat penting, menunjukkan pengetahuan ini dapat digunakan mengelola serangga tersebut dalam pertanian,” laporan CAS.
Sementara itu, Kang Le, seorang akademisi dari CAS, mengatakan, “Terobosan penting ini akan secara efektif mendorong proses penelitian dan pengembangan produk pengendalian hama ramah lingkungan yang baru, memberikan dukungan kuat mencapai model produksi pertanian yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.”
Menurut Song Bao’an, seorang akademisi dari Akademi Teknik China (Chinese Academy of Engineering), hal ini merupakan terobosan besar bidang penelitian mekanisme pengodean penciuman serangga, dan diharapkan dapat melahirkan deretan produk baru ramah lingkungan dan efisien pengendalian perilaku serangga. (asa/ xinhua-news.com)
