KEPUTUSAN menunjuk Kabupaten Natuna sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XI Kepulauan Riau (Kepri) tahun 2028 layak mendapat apresiasi dan salut setinggi-tingginya.
Ini bukan sekadar keputusan administratif tentang pergiliran tuan rumah sebuah pesta olahraga pelajar. Lebih dari itu, penunjukan Natuna merupakan sebuah keputusan bersejarah yang membawa pesan penting tentang pemerataan pembangunan, keberanian memberikan kepercayaan kepada daerah perbatasan, sekaligus upaya menghadirkan panggung olahraga hingga ke beranda terdepan Indonesia.
Selama sepuluh kali penyelenggaraan, POPDA Kepri digelar secara bergiliran setiap dua tahun di sejumlah kabupaten dan kota. POPDA VIII tahun 2022 berlangsung di Kabupaten Bintan dan ditutup dengan Batam sebagai juara umum.
POPDA IX tahun 2024 digelar di Kota Batam pada 23–27 Juli 2024. Selanjutnya Kabupaten Karimun dipercaya menjadi tuan rumah POPDA X tahun 2026 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Sebelumnya, penyelenggaraan POPDA juga pernah berpusat di Batam dan Tanjungpinang. Tanjungpinang bahkan pernah mencatat prestasi sebagai juara umum pada 2006.
Dari rentetan perjalanan tersebut, Natuna belum pernah memperoleh kesempatan menjadi tuan rumah. Karena itu, keputusan menjadikan Natuna sebagai tuan rumah POPDA XI tahun 2028 bukan sekadar pergantian lokasi.
Ini adalah bentuk pemerataan sekaligus kepercayaan, daerah terluar pun mampu menjadi pusat kegiatan olahraga tingkat provinsi.
Kita harus memahami terlebih dahulu posisi Natuna. Kabupaten ini berada di beranda utara Indonesia, di tengah kawasan strategis Laut Natuna Utara. Natuna bukan daerah yang mudah dijangkau seperti Batam, Tanjungpinang atau Bintan. Dari Tanjungpinang jaraknya sekitar 440 Kilometer, sementara penerbangan Batam–Natuna mencapai sekitar 565 Kilometer.
Dari Bandara Hang Nadim Batam menuju Bandara Raden Sadjad Ranai, perjalanan udara sekitar satu jam, tergantung jadwal dan kondisi penerbangan.
Bagi kontingen dari Karimun, Lingga, Bintan, Anambas, Batam dan Tanjungpinang, perjalanan menuju Natuna bukan sekadar perpindahan tempat. Mereka harus menyeberangi ruang geografis yang luas, menuju sebuah gugusan pulau di ujung utara negeri.
Karena itu, POPDA XI nantinya harus dipandang sebagai perjalanan olahraga sekaligus perjalanan kebangsaan. Anak-anak pelajar Kepri datang bertanding, tetapi pada saat yang sama mereka sedang menyaksikan secara langsung wajah Indonesia di kawasan perbatasan.
Dalam konteks itulah langkah cepat Bupati Natuna, Cen Sui Lan yang langsung menggelar rapat internal untuk mempersiapkan penyelenggaraan patut diapresiasi.
Waktu dua tahun memang terlihat panjang, tetapi sesungguhnya sangat singkat untuk menyiapkan sebuah event olahraga tingkat provinsi yang melibatkan tujuh kabupaten dan kota.
Apalagi, POPDA X di Karimun baru saja selesai, sehingga pengalaman dan evaluasi dari penyelenggaraan sebelumnya harus segera dijadikan bahan menyiapkan Natuna 2028.
Tantangan Natuna tentu tidak kecil. Salah satu pekerjaan rumah terbesar adalah ketersediaan fasilitas olahraga. Natuna masih membutuhkan kolam renang yang memenuhi standar pertandingan, stadion dengan fasilitas atletik yang memadai, serta gedung olahraga tertutup yang representatif untuk berbagai cabang olahraga.
Karena itu, persiapan tidak boleh dilakukan dengan pola kerja menjelang hari-H. Time schedule harus disusun sejak sekarang, lengkap dengan target pembangunan, renovasi, pengadaan peralatan, uji kelayakan venue, hingga simulasi penyelenggaraan.
Pembangunan fasilitas olahraga juga jangan dipandang sebagai proyek sesaat untuk memenuhi kebutuhan POPDA. Inilah kesempatan emas, meninggalkan warisan olahraga bagi Natuna. Venue yang dibangun hari ini harus dapat digunakan bertahun-tahun setelah POPDA berakhir.
Anak-anak Natuna, harus menjadi penerima manfaat utama. Mereka tidak boleh hanya menjadi penonton, ketika atlet dari kabupaten dan kota lain datang bertanding di tanah mereka sendiri.
Persoalan transportasi juga harus menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah perlu membangun komunikasi sejak dini dengan PT Pelni, operator transportasi laut, maskapai penerbangan, serta berbagai pihak terkait agar mobilitas kontingen berjalan lancar.
Harga tiket pesawat yang relatif tinggi juga perlu dicarikan solusi bersama. Jangan sampai jarak geografis dan mahalnya biaya transportasi, menjadi beban bagi kontingen yang datang ke Natuna. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri harus hadir, karena POPDA adalah agenda provinsi, bukan semata-mata agenda Kabupaten Natuna.
Untuk urusan kepanitiaan, Natuna sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat. Sebagai wilayah strategis dan perbatasan negara, Natuna memiliki struktur pertahanan dan keamanan yang lengkap, mulai dari Kodim 0318 Natuna, Lanal Ranai, Lanud Raden Sadjad, Skadron Udara 52, Batalyon Komposit 1 Gardapati, Satuan Radar 212 Ranai, Detasemen Pertahanan Udara 477 Kopasgat, unsur Koarmada I, Polres Natuna, Basarnas hingga BPBD Natuna.
Kekuatan kelembagaan tersebut, dapat menjadi modal penting membangun koordinasi, keamanan, kedisiplinan, kesiapsiagaan dan pelayanan selama POPDA berlangsung.
Tentu pemerintah daerah harus realistis dalam menyusun pembiayaan. Kemampuan APBD Natuna memiliki keterbatasan, struktur pendapatannya masih sangat bergantung pada transfer pemerintah pusat.
Karena itu, pembangunan venue dan kebutuhan penyelenggaraan POPDA tidak seharusnya seluruhnya dibebankan kepada APBD Natuna. Pemprov Kepri harus mengambil peran lebih besar, dan dukungan pemerintah pusat juga perlu diperjuangkan melalui program pembangunan fasilitas olahraga, konektivitas, transportasi serta pengembangan kawasan perbatasan.
Justru, karena keterbatasan itulah diperlukan keberanian menyusun skema pembiayaan yang kreatif, bertahap dan terukur. Mana fasilitas yang harus dibangun permanen, mana yang cukup direnovasi, mana yang dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia, semuanya harus dipetakan sejak awal. Jangan sampai setelah POPDA selesai, fasilitas olahraga menjadi bangunan yang kembali sepi dan tidak terurus.
Di balik segala keterbatasannya, Natuna memiliki kelebihan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Alamnya adalah kekuatan besar. Natuna merupakan laboratorium maritim sekaligus kawasan yang menyimpan kekayaan geowisata luar biasa.
Geopark Natuna yang ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 29 November 2018 memiliki sejumlah geosite utama, antara lain Bukit Senubing, Pulau Senua, Goa dan Pantai Kamak, Tanjung Datuk, Gunung Ranai, Pantai Batu Kasah, Pulau Akar, dan Pulau Setanau.
Di sekitar Ranai saja terdapat banyak destinasi yang dapat menjadi bagian dari pengalaman para kontingen. Ada Alif Stone Park di Desa Sepempang, sekitar 10 Kilometer dari pusat Kota Ranai, dengan hamparan batu granit raksasa yang berdiri di tepian laut.
Ada Pantai Piwang di pusat kota, Tanjung Senubing yang letaknya relatif dekat dari Ranai, Pulau Senua dengan pasir putih dan laut jernih, Air Terjun Gunung Ranai, Pantai Sengiap, Pantai Sahi, dan berbagai destinasi lain yang menawarkan karakter alam Natuna yang khas.
Semua itu membuka peluang besar untuk mengembangkan konsep sport tourism dan sportainment. POPDA tidak harus berhenti pada pertandingan di dalam venue.
Ke depan, Natuna dapat mengembangkan lomba dayung, olahraga perahu layar, beach volleyball, trail run, snorkeling, diving, dan berbagai kegiatan olahraga berbasis alam.
Dengan demikian, olahraga dapat menjadi pintu masuk bagi pariwisata, ekonomi kreatif, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM( dan promosi Natuna sebagai destinasi unggulan Kepri.
Namun, Natuna juga memiliki satu hal yang tidak boleh diabaikan: laut. Pemerintah dan panitia harus benar-benar memahami karakter cuaca setempat. Masyarakat Natuna mengenal musim utara yang dipengaruhi monsun Asia, umumnya berlangsung sekitar November hingga Februari, dengan angin yang dapat bertiup kencang dan gelombang tinggi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pelayaran, penerbangan, kegiatan luar ruang maupun distribusi logistik.
Karena itu, penentuan waktu penyelenggaraan harus mempertimbangkan karakter cuaca Natuna secara serius.
Periode sekitar April hingga September, bahkan dapat diperluas hingga Oktober dengan tetap memperhatikan prakiraan cuaca, relatif lebih bersahabat untuk kegiatan luar ruang.
Laut yang lebih tenang dan cuaca yang lebih cerah akan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kontingen, sekaligus membuka kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kegiatan olahraga berbasis alam.
POPDA XI tahun 2028 juga harus menjadi momentum menggerakkan ekonomi masyarakat. Hotel, homestay, restoran, transportasi lokal, pelaku UMKM, pedagang kecil, pengrajin, pemandu wisata hingga pelaku ekonomi kreatif harus mendapatkan ruang.
Tamu yang datang bukan hanya atlet dan ofisial. Mereka adalah keluarga, pelatih, wartawan, pengurus olahraga, dan masyarakat dari berbagai daerah di Kepri. Mereka semua adalah bagian dari pergerakan ekonomi Natuna.
Kuliner lokal seperti tabal mendo, lempeng sagu, dan beragam olahan hasil laut dapat diperkenalkan lebih luas. Natuna tidak perlu menjadi daerah lain untuk menarik perhatian. Justru kekuatan utamanya adalah menjadi Natuna dengan segala keunikan alam, budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakatnya.
Jika seluruh persiapan dilakukan sungguh-sungguh oleh seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, masyarakat, insan olahraga, dan pemerintah provinsi, seperti semangat yang mulai ditunjukkan Bupati Natuna Cen Sui Lan bersama Kadispora Hikmatul Arif, POPDA XI 2028 dapat menjadi lebih dari sekadar agenda pertandingan. Ia bisa menjadi panggung kebangkitan.
Kebangkitan fasilitas olahraga. Kebangkitan ekonomi masyarakat. Kebangkitan pariwisata. Kebangkitan pembinaan atlet muda. Dan yang tidak kalah penting, kebangkitan rasa percaya diri anak-anak perbatasan, mereka memiliki hak yang sama untuk bermimpi menjadi atlet besar Indonesia.
Sebab pembangunan olahraga tidak hanya berbicara tentang medali. Olahraga berbicara tentang karakter, disiplin, persahabatan, persatuan, dan masa depan generasi muda.
Ketika pelajar dari Batam, Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, Anambas, dan Natuna bertanding dalam satu arena, sesungguhnya mereka sedang membangun sebuah persaudaraan besar bernama Kepri.
Maka, mari kita dukung Natuna. Jangan melihatnya semata-mata dari jauh dan mahalnya perjalanan. Lihatlah Natuna sebagai bagian penting dari rumah besar Indonesia.
Datanglah, rasakan angin lautnya, lihat batu-batu granitnya yang kokoh seperti penjaga zaman, nikmati kekayaan alam dan kulinernya, lalu saksikan anak-anak pelajar Kepri bertanding di ujung utara negeri.
POPDA XI Kepri 2028 harus menjadi pesan kuat, pembangunan tidak boleh berhenti di pusat-pusat kota. Prestasi olahraga tidak ditentukan oleh dekat atau jauhnya jarak. Ia lahir dari fasilitas yang baik, pembinaan yang konsisten dan tekad yang tidak pernah padam.
Dari Natuna, kita belajar satu hal: semakin jauh sebuah daerah dari pusat, semakin besar pula alasan bagi negara untuk datang dan memberikan perhatian.
Dan pada 2028 nanti, ketika api POPDA menyala di Natuna, semoga seluruh Kepri menyaksikan bukan hanya pertandingan para pelajar, tetapi juga sebuah tanda bahwa beranda terdepan Indonesia sedang tumbuh, bergerak dan menatap masa depan dengan penuh percaya diri. ***
