Pemelayuan atau Pembugisan?

Suqyan Rahmat alias Abang Mat. (F. Dok Pribadi)

Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial

MENGETAHUI penamaan banyak calon nama baru simpang-simpang di Batam dengan nama Bugis membuat saya terkejut dengan tindakan semua pengurus LAM. Karena judul agenda mereka adalah me-Melayu-kan semua nama tempat di Batam. Mulai dari simpang, jalan, gedung, sampai bundaran. Tapi, yang terjadi justru lebih terasa ke pembugisan Batam. Ini adalah satu kecerobohan fatal, yang didasari kurangnya wawasan pengurus LAM dan lemahnya jiwa Melayu. Apa pengurus LAM tidak sadar ini salah!!?

Encik Mohamed Apan, Bupati pertama Kepulauan Riau.

Banyak nama tokoh-tokoh Melayu yang layak dijadikan nama-nama simpang di Batam, tapi tak dipilih. Contohnya seperti Sultan Mahmud Muzzafar Shah IV dan Sultan Sulaeman Badrul Alamsyah II yang tak ada dalam daftar itu. Selanjutnya, ada nama Encik Mohamed Apan dan Adnan Qasim, tokoh Agung Kepulauan Riau yang besar jasanya, juga tidak ada. Merekalah yang memimpin Kepulauan Riau di masa lalu. Ibrahim Sattah, penyair termahsyur yang mendunia juga tidak ada. Ini sangat memprihatinkan.

Bugis memang ada perannya dalam sejarah Melayu di Kepulauan Riau, tapi sejak dulu Bugis juga sudah mendapatkan hadiahnya dari pihak Melayu. Yaitu jabatan Yang Dipertuan Muda Riau. Ini sudah lebih daripada cukup. Dalam pandangan saya sebagai anak watan, penamaan simpang-simpang itu dengan nama Bugis adalah tidak bijak. Sebab, Batam sangat khas dengan citra Melayunya dan Batam bukan di Sulawesi letaknya. Batam letaknya di Kepulauan Riau, di antara Bintan dan Karimun.

Bagi saya, orang Bugis yang layak diabadikan namanya di Batam ini adalah BJ Habibie. Namanya ditempatkan menjadi pengganti nama jalan yang sekarang, di depan Bank Mandiri Nagoya, Jalan BJ Habibie. Sedangkan nama-nama seperti Daeng Marewa dan Daeng Celak misalnya, itu sudah banyak dijumpai di Tanjungpinang. Jadi, itu sudah cukup. Aneh rasanya, Bugis lebih diutamakan dalam agenda penamaan ini. Tentu, ini tidak adil, tidak benar, dan menjadi bahan pelucuan bagi suku-suku lain yang ada di Batam.

Demikianlah ungkapan keberatan saya sebagai anak watan Batam, saya sangat tidak setuju dengan rencana pem-Bugis-an simpang-simpang di Batam. Saya piker, kebijakan yang keliru ini harus segera diperbaiki, sebelum nama-nama itu terlanjur terpakai. Abadikanlah nama simpang-simpang di Batam dengan nama-nama Melayu asli, sebagai penanda Batam ini berjatidiri Melayu. Bangga dengan Melayunya. Simpang Hamzah Haz misalnya, yang mewakili ke-Indonesia-an kita. Cerdaslah. ***


 

Penulis adalah Anak Watan Batam. Lahir di Batam dari keluarga bersuku Melayu. Menghabiskan pendidikannya di Batam dan berkarya di Batam.

*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.

Exit mobile version