BATAM (Kepri.co.id) — Di tengah geliat pembangunan Rempang Eco City, secercah cahaya tradisi kembali bersinar dari jantung Pulau Galang.
Ruang Nuansa Melayu, yang baru saja dibuka di area publik Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang sejak 8 Juli 2025, kini menjelma menjadi ruang hidup bagi warisan budaya yang mengakar kuat di tanah Melayu.
Hari Minggu (12/7/2025) menjadi saksi semaraknya antusiasme warga yang datang berbondong-bondong.
Puluhan keluarga dari Perumahan Rempang Eco City memenuhi ruang budaya ini, bukan sekadar untuk melihat-lihat, tetapi untuk mengalami dan menyatu dengan semangat budaya yang terus menyala.
Dalam pameran ini, pengunjung disuguhkan karya-karya lukisan ekspresif dari seniman Asep Carno, serta ragam presentasi budaya Melayu: mulai dari permainan tradisional, artefak sejarah, busana penganten, tanjak, hingga ruang interaktif ekspresi bebas.
Di ruang ini, siapa pun boleh menulis, menggambar, atau menuangkan isi hatinya melalui seni.
Salah satu momen mengharukan datang dari Pak Den, warga Rempang yang sejak muda dikenal sebagai jawara gasing.
Di tengah kerumunan, ia spontan menunjukkan kepiawaiannya memainkan gasing, sambil berbagi kisah masa mudanya yang penuh semangat.
Aksi ini, sontak memantik nostalgia dan tepuk tangan meriah dari pengunjung.
Tak hanya itu, dinding ekspresi di pameran menjadi tempat bersejarah baru, ketika Pak Den menuliskan kalimat penuh makna:
”Hancur badan dikandung tanah, budi baik PT MEG kami kenang juga.”
Sebuah penghormatan atas dibukanya ruang ini, yang mempertemukan warisan budaya dengan ruang partisipasi masyarakat.
Semarak budaya semakin terasa dengan hadirnya Ibu Dian, yang memperagakan busana adat Melayu lengkap dengan pernak-pernik autentik.
Kehadirannya menjadi penanda, bahwa keanggunan budaya Melayu hidup bukan hanya dalam ingatan, tapi dalam wujud yang membanggakan.
Turut hadir pula Mak Leha, tokoh sepuh yang membawa kisah dan makna dari tari-tarian dan alat musik tradisional Melayu.
Dalam tutur lembutnya, ia menegaskan bahwa budaya adalah napas panjang dari generasi ke generasi.
Ruang yang Menghidupkan, Menghubungkan, dan Mendorong Keterlibatan
Lebih dari sekadar pameran, Ruang Nuansa Melayu adalah panggung keterlibatan.
Anak-anak, pelajar, orang tua, bahkan siapa pun dari berbagai latar belakang, diajak untuk tak sekadar menjadi penonton, tetapi turut mencipta.
Dari menggambar, menulis pantun, membuat puisi, hingga hanya sekadar mencurahkan isi hati melalui warna—semuanya menjadi bentuk keterlibatan yang bermakna.
Ruang ini juga membuka jalan bagi komunitas, untuk menjadikannya titik kumpul inspiratif—sebuah tempat belajar bersama sambil bersenang-senang, mengenal budaya sendiri dengan cara yang reflektif dan menyentuh hati.
Dengan tema besar ”Ruang Nuansa Melayu”, tempat ini hadir sebagai jembatan yang menyatukan masa lalu dan masa kini—antara identitas budaya dan arah pembangunan.
Ia bukan ruang yang beku, melainkan ruang yang tumbuh karena partisipasi warganya.
Ajak Keluarga Anda, Hadiri, dan Biarkan Budaya Menyentuh Jiwa
Ruang Nuansa Melayu terbuka untuk umum setiap hari hingga 17 Agustus 2025, pukul 13.00–16.00 WIB.
“Mari datang bersama keluarga, sahabat, dan komunitas Anda. Ambil bagian, ekspresikan diri, dan jadilah bagian dari perjalanan besar kebudayaan Melayu yang tak lekang oleh waktu,” ajak Talim Lim (Direktur Keuangan PT Makmur Elok Graha/ MEG).
Sebab, lanjut Talim, budaya tak akan pernah mati—selama kita masih peduli dan mau menjaga nyalanya. (asa)
BERITA TERKAIT:
Ruang Nuansa Melayu: Simfoni Warna, Sejarah, dan Jiwa di Pulau Galang
