Warga Gaza Protes Perintah Evakuasi di Tengah Krisis Kemanusiaan yang Kian Parah

Warga Gaza Protes Perintah Evakuasi di Tengah Krisis Kemanusiaan yang Kian Parah
Warga Palestina berdemonstrasi menentang perintah evakuasi terbaru dari militer Israel. (F. Xinhua)

GAZA (Kepri.co.id – Xinhua) – Di persimpangan al-Saraya di Gaza City bagian tengah, ratusan keluarga Palestina berkumpul menentang perintah evakuasi terbaru dari militer Israel.

Mereka memegang spanduk dan meneriakkan slogan, seraya menegaskan, mereka tidak memiliki tempat aman lagi untuk dituju.

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Gaza, Palestina. (XHTV)

Demonstrasi tersebut mencerminkan kelelahan dan kemarahan warga yang sudah bertahan hampir dua tahun, dalam perang yang telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa sebagian besar penduduk Gaza mengungsi, dan menghancurkan infrastruktur di daerah kantong tersebut.

Pria, wanita, dan anak-anak berjalan bersama, beberapa membawa spanduk bertuliskan “Kami tidak akan meninggalkan rumah kami” dan “Wilayah selatan tidak aman.”

Demonstran lainnya memegang foto-foto sejumlah kerabat yang tewas dalam serangan udara baru-baru ini.

Ahmed Salim, seorang ayah dari lima anak dari kawasan permukiman al-Rimal di Gaza City, mengatakan, rumah keluarganya telah rusak tetapi dia tidak akan meninggalkannya.

“Israel mengklaim selatan aman, tetapi pesawat-pesawat melakukan pengeboman di mana-mana,” katanya.

“Tidak ada tempat perlindungan yang nyata di sana, hanya tenda-tenda yang padat serta kelangkaan makanan dan obat-obatan.”

Bagi Nawal al-Khatib (27) aksi protes itu merupakan bentuk perlawanan. “Kami ingin memberi tahu Israel dan dunia bahwa kami adalah warga sipil, bukan pejuang,” ujarnya.

“Setiap hari mereka menyuruh kami melakukan evakuasi ke daerah yang sudah padat, tetapi mengungsi berarti kelaparan dan kehausan. Kami melarikan diri dari kematian demi kematian. Saya lebih memilih menunggu kematian di kota saya, berharap dunia akan sadar dan menyelamatkan kami.”

Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel telah mengintensifkan operasinya, menyerang gedung-gedung tempat tinggal dan komersial di berbagai penjuru Gaza City.

Para saksi mata dan pejabat setempat mengatakan, serangan tersebut telah menghancurkan bangunan-bangunan utama dan memaksa ribuan keluarga lainnya mengungsi.

Di antara mereka adalah Samer Abu Hussein, yang kehilangan rumahnya di Gedung Al-Roya di Gaza selatan dan kini tinggal di dalam sebuah tenda bersama istri dan tujuh anaknya.

“Bahkan di tenda, kami tidak merasa aman,” tuturnya. “Pesawat tempur terus melintas di atas kepala, dan aksi pengeboman terjadi di mana-mana.”

Pada Selasa (9/9/2025), tentara Israel memerintahkan semua warga Gaza City untuk mengungsi, seraya memperingatkan, mereka yang tetap tinggal di sana akan menghadapi bahaya serius.

“Tentara akan bertindak dengan kekuatan besar di wilayah itu,” tulis juru bicara militer Avichay Adraee di platform X, seraya mendesak hampir satu juta orang untuk pindah ke Al-Mawasi, sebuah jalur pesisir sempit yang Israel tetapkan sebagai “zona kemanusiaan.”

Perintah tersebut dikeluarkan saat Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengatakan, pasukan Israel telah menghancurkan puluhan gedung tinggi, menuding Hamas menggunakan gedung-gedung itu sebagai pos pengawasan.

Sejumlah pejabat kesehatan Gaza mengatakan, serangan Israel dalam 24 jam terakhir telah menewaskan 83 orang dan melukai 223 lainnya, sehingga jumlah korban tewas sejak 7 Oktober 2024 tercatat melampaui 64.600 orang.

Namun, kondisi di selatan sangat buruk. Tempat penampungan penuh sesak, dengan keluarga-keluarga berdesakan di sekolah, tenda, dan bangunan publik. Para pekerja bantuan memperingatkan tentang kelangkaan parah makanan, air bersih, dan obat-obatan.

“Kapasitas untuk menampung gelombang baru keluarga pengungsi telah habis,” ungkap Rawan Ahmed, seorang pekerja kemanusiaan di Khan Younis. “Banyak orang terpaksa tidur di luar ruangan.”

Warga mengatakan, kondisi tersebut membuat evakuasi menjadi pilihan yang mustahil. “Jika saya mati di sini, saya akan mati di dalam tembok rumah saya,” kata Mohammed Zaqout dari kawasan Tal al-Hawa di Gaza City barat.

“Tapi, jika saya mengungsi, saya akan mati kelaparan dan kehausan di kamp-kamp. Seluruh Gaza menjadi sasaran. Tidak ada tempat yang aman.”

Menurut pejabat kesehatan, rumah sakit di wilayah selatan sudah kewalahan menangani banyaknya korban akibat serangan udara terbaru.

Kekurangan bahan bakar dan obat-obatan semakin memperburuk situasi, memicu kekhawatiran bahwa serangan yang lebih luas bisa membuat sistem kesehatan Gaza yang sudah rapuh benar-benar kolaps.

Namun, banyak warga Gaza merasa dunia telah meninggalkan mereka. “Mungkin dunia akan sadar dan mencoba menyelamatkan kami,” ujar Mariam al-Khatib, salah satu perempuan muda yang ikut dalam aksi protes itu.

“Tetapi, untuk saat ini, kami tidak punya pilihan selain tinggal di rumah kami dan berjuang untuk bertahan.” (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

PM Israel Akan Paparkan Rencana Aneksasi Gaza jika Hamas Tolak Kesepakatan

Prancis Tolak Aneksasi Gaza dan Tepi Barat oleh Israel

PM Australia Sebut Netanyahu Sengaja “Pungkiri” Penderitaan Warga Gaza

Kanada Kecam Israel atas Bencana Kemanusiaan di Gaza

Norwegia, Irlandia, dan Spanyol Umumkan Pengakuan Resmi Atas Negara Palestina

Eropa Kecam Rencana Pengambilalihan Gaza oleh Israel, Peringatkan Krisis yang Memburuk

Belanda Akan Ambil Tindakan jika Israel Langgar Kesepakatan Akses Bantuan ke Gaza

Sekjen PBB Khawatir dengan Laporan Israel Perluas Operasi Militer dan Blokir Penyaluran Bantuan di Gaza

 

Exit mobile version