Kenapa Orang Minang di Singapura Tidak Berbahasa Minang?

Penulis: Suqyan Rahmat Alias Abang Mat

Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial 

1. Restoran-restoran Minang di Singapura adalah tanda keberadaan orang-orang Minangkabau di Singapura. Contohnya adalah Sinar Pagi, Putra Minang, dan Pariaman. Suku Minang adalah salah satu suku yang membentuk bangsa Singapura dan sudah ada sejak awal abad 20 di Singapura. Tapi, setahu saya sampai sekarang, suku Minang di Singapura tidak memakai bahasa Minang. Nah… kenapa orang-orang Minang di Singapura tak memakai bahasa Minang? Seperti di Padang misalnya? Atau seperti dengan sesama orang-orang Minang yang ada di Batam? Apakah tidak cocok bahasa minang dipakai di Singapura?

2. Setelah saya ketahui sekian lama, ternyata karena di Singapura memakai bahasa Inggris. Di sekolah, di kantor, dan di semua tempat umum semuanya memakai bahasa Inggris. Sehingga, membuat semua warga negaranya lebih sering memakai bahasa inggris. Bahkan, di generasi yang sekarang, di dalam rumah pun dengan sesama anggota keluarga, juga memakai bahasa Inggris. Tak adanya kesempatan memakai bahasa minang membuat bahasa minang di Singapura telah pupus. Hal ini tentu sangat tidak diinginkan generasi Minang pertama yang datang ke Singapura dulu.

3. Sebab lainnya, karena memakai bahasa Inggris dianggap lebih membanggakan oleh anak cucu keturunan suku Minangkabau di Singapura. Bahasa Inggris adalah bahasanya jutawan. Sehingga, membuat orang-orang Minang menjadi tidak yakin untuk berbahasa Minang di tempat-tempat umum. Sama seperti orang Jawa dan orang Bugis di Singapura yang juga tidak mau berbahasa asli sukunya. Padahal, pemerintah Singapura tidak pernah melarang pemakaian bahasa Jawa dan bahasa Bugis. Tidak adanya saluran TV berbahasa Minang di Singapura, memang ikut berperan membuat hilangnya bahasa Minang.

4. Suku yang dikenal dengan bentuk atap Bagonjong, adat matrilinear, dan marga-marganya ini perlu menghidupkan ulang bahasanya di Singapura. Setidaknya, dipakai dengan sesama suku saat sedang ada perkumpulan tahunan suku Minang se-Singapura. Meskipun mungkin nantinya bisa terjadi percampuran bahasa antara bahasa Minang dengan bahasa Inggris. Justru itu, membuat keturunan Minang bersemangat melestarikannya. Bukan berarti karena sudah ter-inggris-kan lidahnya artinya orang Minang Singapura sudah bukan orang Minang lagi, atau menunggu bangsa Minang merdeka dari Indonesia. Kan tidak begitu.

5. Demikianlah pemikiran saya. Semoga hendaknya bahasanya suku Minangkabau tidak dilupakan oleh generasi terkininya di Singapura, karena ini juga adalah bahasa yang mengayakan peradaban nusantara. Semoga ada upaya berkelanjutan untuk melestarikan bahasa Minang di Singapura. Misalnya dengan mengadakan kelas bahasa Minang setiap minggu di tempat yang diselenggarakan persatuan Minang Singapura. Dan juga dengan mengunjung Sumatera Barat setahun sekali. Dengan begini  bahasa Minang bisa tetap hidup selamanya di Singapura dan menjadi kebanggaan orang-orang Minang di Singapura. ***

Penulis adalah sosok yang menginginkan nama ibukota Malaysia diganti, bendera Malaysia diganti, dan lagu kebangsaannya juga diganti.

*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.

Exit mobile version