Houthi Yaman Sebut Pelayaran di Laut Merah “Tidak Terancam” Usai Kuasai Kota Pelabuhan Strategis

Foto yang bersumber dari Pusat Media Houthi ini, memperlihatkan peluncuran drone yang diduga mengarah ke Mocha, Yaman, pada 9 Agustus 2026. (F. Xinhua/Pusat Media Houthi)

SANAA (Kepri.co.id – Xinhua) – Kelompok Houthi Yaman pada Kamis (10/9/2026) mengatakan, pelayaran internasional melalui Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab yang strategis tetap aman, dalam upayanya untuk meredakan kekhawatiran setelah pasukannya merebut kota pelabuhan strategis Mocha di pesisir barat Yaman.

Juru bicara kelompok tersebut, Mohammed Abdul-Salam, mengatakan dalam pernyataan yang diunggah di platform media sosial X bahwa kebebasan navigasi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab tetap “aman dan normal”, seraya menegaskan bahwa operasi kelompoknya “tidak menimbulkan ancaman” bagi pelayaran internasional.

Abdul-Salam mengatakan operasi militer kelompoknya yang masih berlangsung memiliki sasaran khusus dan bersifat “defensif”, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.

Dia tidak menyinggung larangan pelayaran oleh kelompok tersebut, yang diumumkan pada 20 Juli 2026, bagi kapal-kapal Saudi. Houthi mengeklaim telah melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal tanker Saudi sejak memulai blokade angkatan laut tersebut.

Sebelumnya pada Kamis tersebut, pasukan Houthi merebut Kota Mocha di Provinsi Taiz, Yaman barat daya, dan Kepulauan Hanish yang strategis di Laut Merah, sehingga memaksa pasukan pemerintah mundur ke arah selatan dan mendorong garis depan pertempuran semakin dekat ke Selat Bab al-Mandab.

Selat Bab al-Mandab, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, merupakan jalur utama perdagangan internasional dan pengiriman energi. Mocha terletak sekitar 70 Kilometer di sebelah utara titik tersempit di selat tersebut.

Pasukan pemerintah pada Kamis (10/9/2026), menetapkan wilayah yang membentang di sepanjang pesisir barat sebagai “zona tembak.” Mereka mengatakan akan menggunakan “segala jenis senjata dan daya tembak” untuk menyerang pasukan Houthi yang bergerak memasuki zona tersebut.

Seorang pejabat militer mengatakan kepada Xinhua, pasukan pemerintah yang mundur dari Mocha telah berkumpul kembali di dekat Bab al-Mandab dan bersiap melancarkan serangan balik “dalam beberapa jam mendatang” untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Meluasnya pertempuran di Yaman menandai eskalasi paling serius sejak gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 menghentikan sebagian besar permusuhan berskala besar.

Konflik Yaman bermula pada akhir 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan memperluas kekuasaannya ke sebagian besar wilayah utara Yaman, yang mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada 2015, untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Houthi Yaman Klaim Tembak Jatuh Drone Arab Saudi, Kapal Tanker Laporkan Insiden di Laut Merah

Jumlah Korban Jiwa Akibat Serangan Udara AS Semalaman di Yaman, Bertambah Jadi 31 Orang

Iran Minta Houthi Yaman Tutup Selat Bab el-Mandeb jika AS Serang Pembangkit Listrik

Houthi Yaman Bersumpah akan Targetkan Kapal-kapal AS jika Washington Serang Iran

 

Exit mobile version