ANAMBAS, Kepri.co.id – Saulihin, pemain sepak bola Desa Tiangau, harus menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan penanganan medis setelah mengalami patah tulang kaki kanan saat mengikuti Turnamen Sepakbola Piala Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri 2026.
Insiden tersebut terjadi saat pertandingan antara Desa Tiangau melawan Desa Tebang di Lapangan Sepak Bola Sulaiman Abdullah, Tarempa, Selasa (3/11/2026). Setelah mendapatkan pemeriksaan awal di RSUD Tarempa, Saulihin melanjutkan perjalanan medis ke Batam hingga kemudian menuju sebuah rumah sakit di Tanjungpinang.
Manajer Tim Desa Tiangau, Fahri, menceritakan bahwa kejadian bermula ketika Saulihin menggiring bola melalui sisi sayap kiri. Saat itu, seorang pemain lawan berusaha menyapu bola, tetapi justru mengenai kaki kanan Saulihin.
“Saulihin sedang menggiring bola melalui sisi sayap kiri. Kemudian, pemain dari tim lawan berusaha menyapu bola, tetapi tidak mengenai bola dan justru mengenai kaki kanan Saulihin,” kata Fahri.
Benturan tersebut menyebabkan Saulihin mengalami cedera serius hingga patah tulang. Pertandingan kemudian dihentikan sementara. Tim langsung membawa Saulihin ke RSUD Tarempa untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Setibanya di rumah sakit, Saulihin menjalani pemeriksaan rontgen. Hasil pemeriksaan menunjukkan patah pada tulang kering kaki kanan, khususnya bagian tulang yang lebih besar.
Menurut Fahri, sejumlah orang sempat memberikan saran agar Saulihin menjalani pengobatan alternatif atau urut tulang. Namun, pihak tim tetap berupaya mencari penanganan melalui fasilitas kesehatan.
Perjalanan Rujukan dari Tarempa ke Batam
Setelah pemeriksaan awal, pihak rumah sakit berkoordinasi mencari fasilitas kesehatan yang dapat menerima Saulihin. Awalnya, mereka menghubungi sejumlah rumah sakit di Tanjungpinang.
Namun, rumah sakit yang mereka hubungi saat itu dalam kondisi penuh. Pihak rumah sakit kemudian mencoba mencari fasilitas kesehatan di Batam yang masih memiliki kapasitas untuk menangani Saulihin.
Proses pencarian rumah sakit rujukan tersebut berlangsung cukup lama. Fahri bersama pihak pendamping bahkan harus menunggu semalaman hingga mendapatkan kepastian.
“Awalnya memang dicari rumah sakit di Tanjungpinang, tetapi tempatnya penuh. Setelah itu, pihak rumah sakit mencoba mencari rumah sakit di Batam yang masih memiliki tempat dan bisa menerima Saulihin,” ujarnya.
Dalam proses tersebut, muncul kendala terkait pembiayaan pengobatan. Fahri menyebut pihak RS Awal Bros Batam awalnya menyampaikan bahwa mereka tidak dapat menerima pembiayaan BPJS Kesehatan untuk cedera yang terjadi dalam kegiatan turnamen.
Sebagai alternatif, pembahasan kemudian mengarah pada BPJS Ketenagakerjaan melalui skema Trauma Center (TC).
“Untuk kegiatan seperti turnamen atau Porprov, setahu saya ada perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan dengan skema Trauma Center,” jelas Fahri.
Sekitar pukul 06.00 pagi, pihak pemerintah daerah mencoba menghubungi RS Awal Bros untuk membicarakan penanganan lanjutan. Rumah sakit tersebut kemudian bersedia menerima Saulihin dengan pembahasan penggunaan skema Trauma Center.
Fahri menyebut pihak rumah sakit, panitia, dan pihak terkait sempat membicarakan pengurusan BPJS Ketenagakerjaan dalam waktu 3 x 24 jam.
Setibanya di Batam, Saulihin langsung mendapatkan perawatan. Pihak rumah sakit memberikan infus, melakukan pemeriksaan rontgen, serta memberikan obat.
Namun, petugas rumah sakit kemudian meminta kepastian mengenai penerbitan jaminan BPJS Trauma Center. Setelah Fahri kembali berkoordinasi dengan pihak terkait, jaminan tersebut ternyata tidak dapat diterbitkan.
Akhirnya, Fahri bersama tim memutuskan membayar perawatan secara umum selama satu malam. Mereka juga membatasi pemeriksaan tambahan karena mempertimbangkan kemampuan pembiayaan.
Lanjut ke Tanjungpinang untuk Mendapatkan Penanganan
Kendala pembiayaan operasi di Batam membuat Fahri dan Saulihin harus mempertimbangkan pilihan lain. Keduanya merasa belum sanggup menanggung biaya operasi dengan pembiayaan umum di RS Awal Bros.
“Kami memutuskan untuk mencari jalan lain karena tidak sanggup membayar biaya operasi secara umum di RS Awal Bros. Biayanya cukup besar,” ungkap Fahri.
Saat itu, keluarga sempat menyarankan agar Saulihin kembali ke Anambas. Fahri bahkan menyatakan kesediaannya menanggung tiket pesawat apabila mereka harus pulang.
Namun, seorang teman atau orang kepercayaan Saulihin menyarankan agar mereka mencoba mencari penanganan di Tanjungpinang terlebih dahulu. Setelah berdiskusi, keduanya akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan ke ibu kota Provinsi Kepulauan Riau tersebut.
Malam harinya, Fahri menerima telepon yang membawa kabar bahwa sebuah rumah sakit di Tanjungpinang bersedia menerima Saulihin. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan untuk mendapatkan penanganan medis di sana.
“Alhamdulillah, sekarang Saulihin sudah mendapatkan penanganan yang cukup baik,” kata Fahri.
Saat wawancara berlangsung, Saulihin telah menjalani pemeriksaan rontgen. Namun, kondisi rumah sakit yang sedang penuh membuatnya harus menunggu ruang rawat inap.
Fahri menyebut Saulihin sempat berada di Unit Gawat Darurat (UGD) sambil menunggu kamar perawatan. Sementara itu, dokter merencanakan tindakan operasi pada Jumat (6/11/2026).
Perjalanan medis Saulihin dari Tarempa hingga Tanjungpinang menjadi upaya panjang untuk mendapatkan penanganan atas cedera yang dialaminya saat bertanding. Di tengah proses tersebut, pihak keluarga dan tim terus mengupayakan agar Saulihin memperoleh perawatan yang dibutuhkan.
