Pasar Tenaga Kerja Melemah, Tingkat Pengangguran di AS Naik Jadi 4,3 Persen

Foto yang diabadikan pada 5 Agustus 2022 ini, menunjukkan informasi perekrutan yang dipasang di jendela sebuah toko retail di Washington DC, Amerika Serikat. (F. Xinhua/Ting Shen)

WASHINGTON (Kepri.co.id – Xinhua) – Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat (AS) hanya menambahkan 114.000 pekerjaan pada Juli 2024, membawa tingkat pengangguran naik ke level 4,3 persen dan menandai perlambatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja, demikian dilaporkan Departemen Ketenagakerjaan AS pada Jumat (2/8/2024).

Penyerapan tenaga kerja melanjutkan tren peningkatan di sektor perawatan kesehatan, konstruksi, transportasi, dan penyimpanan, sementara industri informasi mengalami penurunan, menurut Biro Statistik Ketenagakerjaan di departemen tersebut.

Baca Juga: Utang Nasional AS Lampaui 35 Triliun Dolar AS untuk Pertama Kalinya

Total tenaga kerja nonfarm payroll (data tingkat ketenagakerjaan di AS selain dari sektor pertanian, pemerintahan, rumah tangga, dan lembaga-lembaga nirlaba), naik tipis sebesar 114.000 pada Juli 2024, lebih rendah dari rata-rata kenaikan bulanan sebanyak 215.000 selama 12 bulan sebelumnya, menurut laporan itu.

Pertumbuhan dalam jumlah tenaga kerja nonfarm payroll untuk Mei 2024, direvisi turun sebanyak 2.000 menjadi 216.000. Sedangkan perubahan untuk Juni 2024, direvisi turun sebanyak 27.000 menjadi kenaikan sebanyak 179.000.

Setelah memperhitungkan revisi tersebut, total lapangan kerja pada Mei 2024 dan Juni 2024 sebanyak 29.000 lebih rendah dari angka yang dilaporkan sebelumnya.

Pada Februari 2024, tingkat pengangguran di AS meningkat menjadi 3,9 persen, yang merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir, kemudian turun tipis menjadi 3,8 persen pada Maret 2024.

Pada April 2024, tingkat pengangguran kembali naik menjadi 3,9 persen sebelum mencapai angka 4,0 persen pada Mei 2024. Sementara pada Juni 2024, tingkat pengangguran naik menjadi 4,1 persen.

Tingkat pengangguran 4,3 persen menandai angka tertinggi sejak Oktober 2021. Jika data terbaru untuk Juli 2024 turut diperhitungkan, tingkat pengangguran telah mengalami tren kenaikan selama empat bulan beruntun, seiring pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Baca Juga: Inflasi Mereda, Federal Reserve AS Pertahankan Suku Bunga di Angka 5,25-5,5 Persen

Desmond Lachman, seorang senior fellow di American Enterprise Institute sekaligus mantan pejabat Dana Moneter Internasional, mengatakan kepada Xinhua, dia yakin Federal Reserve (The Fed) seharusnya menurunkan suku bunga pada pertemuan mereka yang digelar sebelumnya pada pekan ini.

“Inflasi telah turun hingga mendekati target inflasi The Fed sebesar 2 persen, ekonomi melambat, dan pasar tenaga kerja tidak lagi mengalami overheating,” ujar Lachman.

“Selain itu, kondisi ekonomi global tampaknya memburuk dan suku bunga The Fed yang tinggi memperparah kekacauan yang sedang terjadi di pasar properti komersial.”

“Penting untuk diingat bahwa The Fed memiliki dua mandat. Mereka tidak dapat menunggu hingga 100 persen, yakin bahwa inflasi sudah kembali ke target. Mereka harus memperhatikan mandatnya terkait lapangan kerja penuh,” kata Dean Baker, seorang ekonom senior di Pusat Penelitian Ekonomi dan Kebijakan AS, kepada Xinhua.

Baca Juga: IMF Desak AS Kurangi Defisit Fiskal Yang Tinggi dan Turunkan Utang

Ada “risiko nyata” bahwa pengangguran akan terus meningkat di sisa tahun 2024 ini, kata Baker.

Pada Juli 2024, rata-rata pendapatan per jam untuk semua karyawan di sektor nonfarm payroll swasta meningkat 8 sen, atau 0,2 persen, menjadi 35,07 Dolar AS (1 Dolar AS = Rp16.243). Dalam 12 bulan terakhir, rata-rata pendapatan per jam mencatat peningkatan sebesar 3,6 persen. (amr/ xinhua-news.com)

Exit mobile version