Memutus Dominasi, Mampukah Napoli Juara (Lagi)?

Oleh: Mohammad Yayat Ayatullah

Lebih dari 120 tahun lamanya pergelaran Serie-A telah tersaji, kompetisi yang sempat menjadi favoritnya anak muda pada medio 90an hingga awal 2000 telah menghasilkan berbagai macam tim yang mengangkat trofi. Juventus masih terbanyak gelar Serie-A dengan 33 kali mengangkat trofi meskipun pihak mereka mengakui sudah 35 karena 2 gelar mereka ditarik lagi oleh FIGC (PSSI-nya Italia) karena kasus calciopoli yang lalu. Menyusul di belakang duo dari kota mode Milano, yakni Internazionale dan AC Milan dengan perolehan gelar sebanyak 18 gelar, kemudian berturut-turut, Genoa (9), Torino(7), Bologna(7), Pro Vercelli(7), AS Roma(3), Lazio(2), Fiorentina(2), Napoli(2), Cagliari(1), Casale(1) dan Novese(1).

Juventus masih terlalu superior di Serie A bahkan walaupun sempat didegradasi ke Serie-B dan ditandai dengan eksodus besar-besaran bintang-bintang ternama mereka mulai dari Cannavaro, Thuram, Emerson, Vieira hingga Zlatan Ibrahimovic satu persatu meninggalkan si Nyonya Tua, meskipun begitu masih banyak juga yang tetap setia bertahan di pentas Serie-B. ‘Il Capitano’ Alessandro Del Piero, Mauro Camoranesi, Pavel Nedved, hingga satu yang masih tersisa The Legend kiper kesayangan publik Turin Gianluigi Buffon pun masih tetap bermain di klub bermotif zebra tersebut.

Enam musim terakhir dimulai musim 2011-2012 Juventus selalu finis di peringkat tertinggi klasemen secara beruntun, suatu pencapaian yang luar biasa mengingat Juve pernah terpuruk dan tertatih-tatih membangun skuadnya. Bahkan di awal musim ini pun mayoritas juga sepakat bahwa Juventus akan menggondol kembali Trofi Serie-A untuk ketujuh kalinya. Di tengah perjalanannya menuju gelar ketujuh secara beruntun atau gelar ke-34 nya, Juventus mendapat perlawanan dari tim yang kembali dari masa gelapnya, Napoli.

Setelah promosi dari Serie-B pada musim 2006-2007 di bawah komando Pelatih Edoardo Reja, Napoli langsung tancap gas musim selanjutnya finish di peringkat 8 pada musim 2007-2008, sebuah pencapaian yang baik untuk tim yang baru promosi.

Setelah hampir satu dekade berada di puncak tertinggi Serie-A, Napoli semakin konsisten berada di papan atas klasemen, dalam 5 musim terakhir Napoli tidak pernah keluar dari zona eropa dan sempat 2 kali merasakan runner-up yaitu pada musim 2012-2013 dan 2015-2016. Napoli tampak hadir sebagai penantang lama yang dating kembali, selagi di era transisi duo Milano yang belum juga mampu menemukan performa terbaik mereka semenjak berganti kepemilikan.

Musim ini kegemilangan Napoli mulai tampak, setidaknya hingga giornata ke-26 Napoli nyaman di puncak klasemen yang dikuasainya secara penuh dari giornata ke-17, dengan keunggulan 4 poin dari pesaing terdekatnya, Juventus yang masih mempunyai sisa 1 pertandingan melawan Atalanta ditunda karena cuaca buruk.

Dries Mertens merupakan pemain yang paling krusial untuk Napoli musim ini dengan lesakan 16 golnya menjadikannya sementara berada di peringkat 4 urutan pencetak gol di Serie-A dan selalu jadi pilihan utama dalam 26 pertandingan Serie-A jadi bukti pentingnya pemain ini untuk Napoli. Sisi pertahanan Napoli pun sama baiknya dengan kebobolan hanya 15 gol, mereka bersama Juventus menjadi tim dengan tembok pertahanan paling kokoh, Pepe Reina sebagai penjaga gawang yang memang tak perlu diragukan lagi kualitasnya setelah sempat sukses di Liverpool, kemudian singgah di Jerman bersama Bayern Munchen meskipun bukan jadi pilihan utama. Kini Reina berdiri kokoh di bawah mistar gawang milik Napoli.

Sebenarnya boleh dikatakan Napoli sudah pantas untuk mendapatkan trofi kembali yang terakhir didapatkan mereka 27 tahun yang lalu, tepatnya  pada musim 1989-1990 kala itu Napoli masih diperkuat oleh legenda hidup Argentina, Diego Armando Maradona. Hanya saja Juventus bukanlah tim kemaren sore yang dengan mudahnya putus asa terhadap apa yang mereka perjuangkan, semangat bertanding dan mentalitas Juventus di Serie-A tak perlu diragukan lagi, Juventus siap bertarung hingga giornata terakhir demi mengamankan gelarnya yang ke-34 ataupun gelar ke-7 nya secara beruntun.

“Statistik tidaklah berguna. Kami memiliki 96 poin dari dua musim yang berbeda, jadi kami punya [hitungan] perbandingan yang salah,” buka Sarri kepada Mediaset Premium.

Maurizio Sarri, Pelatih Napoli saat ini yang enggan bicara mengenai peluangnya juara karena menurutnya statistik hanyalah sekedar statistik dan bisa saja meleset, kritikan pun ia tunjukkan kepada anak asuhnya setelah kegagalan mereka di Liga Eropa kemarin

“Saya sangat kecewa dengan sikap kami. Para pemain saya sepertinya tidak terlalu antusias. Kami tampil di bawah standar, tidak hanya dari sisik teknik namun juga mental,” tuturnya di Goal International.

Sarri sangat menekankan pentingnya mental juara, karena sebaik apapun berusaha jika mental pemain telah jatuh maka akan mempengaruhi performa mereka di sisa musim ini, apalagi yang membuntuti Napoli saat ini adalah tim sekelas Juventus.

Sekarang yang menjadi pertanyaan kita semua, Mampukah Napoli memutus dominasi Juventus dan kembali berjaya lagi ? Mampukah Maurizio Sarri meracik taktik dan strategi guna mengamankan gelar pertama Napoli di dekade ini ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *