Peneliti China Identifikasi Mekanisme di Balik Bakteri Pemicu Obesitas

Seorang warga menikmati hidangan di sebuah restoran di Distrik Xixiu, Anshun, Provinsi Guizhou, China barat daya, pada 24 Januari 2023. (F. Xinhua/ Chen Xi)

BEIJING (Kepri.co.id – Xinhua) – Dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah orang dapat makan banyak namun tetap terlihat langsing, sementara yang lain begitu mudah mengalami kenaikan berat badan dan secara alami rentan terhadap obesitas.

Pengamatan ini kini didukung temuan terbaru para peneliti China yang diterbitkan dalam jurnal Cell Host & Microbe, yang menunjukkan penyebab utama dari fenomena ini adalah Megamonas, keluarga bakteri pemicu obesitas.

Baca Juga: Aksi China Tangani Penyakit Langka Bangkitkan Harapan di Kalangan Pasien

Sebuah tim peneliti dari Rumah Sakit Ruijin yang berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Jiao Tong Shanghai, BGI Research, dan Institut Penelitian Medis Pintar di bawah naungan BGI Genomics, berhasil mengidentifikasi bakteri pemicu obesitas potensial ini dan mengungkap mekanisme kerjanya, dalam kelompok individu penderita obesitas skala besar di China, lansir China Science and Technology Daily pada Senin (29/7/2024).

MENGIDENTIFIKASI BAKTERI

Sejumlah studi telah menyoroti peran penting probiotik usus dalam kasus obesitas. Namun, mikroba spesifik yang berkontribusi terhadap obesitas dan mekanisme kerjanya masih belum diketahui.

Tim peneliti ini melaksanakan metode shotgun metagenomic sequencing pada sampel tinja, dari kelompok yang terdiri dari 631 individu penderita obesitas, dan kelompok kontrol dengan 374 individu yang memiliki berat badan normal, dan mengidentifikasi klaster mikroba yang didominasi Megamonas terkandung pada subjek penderita obesitas.

Para peneliti mengidentifikasi tiga klaster yang menyerupai enterotipe di antara 1.005 sampel, yaitu Bacteroides, Prevotella, dan Megamonas.

Individu yang memiliki kandungan Megamonas menunjukkan Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index/ BMI), lebih tinggi dan proporsi obesitas yang lebih besar dibandingkan dengan dua tipe lainnya.

Analisis lanjutan menunjukkan, tiga spesies Megamonas berkorelasi positif dengan berat badan, lingkar pinggang, dan BMI. Dari analisis ini, tim peneliti kemudian menyimpulkan ada hubungan signifikan antara Megamonas dan obesitas.

RISIKO GENETIK

Berdasarkan temuan tentang Megamonas pemicu obesitas, tim penelitian tersebut menyelidiki dampak Megamonas, pada populasi dengan risiko genetik yang berbeda untuk obesitas.

Studi ini menemukan, pada populasi dengan risiko genetik yang rendah, dampak Megamonas terhadap BMI secara signifikan lebih tinggi, dibanding populasi dengan risiko genetik tinggi.

Lebih lanjut, perbedaan mikrobiota usus antara kelompok obesitas dan kelompok kontrol dengan berat badan normal, lebih jelas terlihat pada populasi dengan risiko genetik rendah untuk obesitas.

Menurut Wu Chao, penulis pertama studi ini sekaligus peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Jiao Tong Shanghai, temuan ini mengindikasikan, bagi populasi yang memiliki risiko genetik rendah untuk obesitas, dampak mikrobiota usus terhadap terjadinya obesitas lebih besar, dibandingkan mereka yang memiliki risiko genetik lebih tinggi.

MEKANISME KERJA

Untuk mengungkap mekanisme kerja bakteri pemicu obesitas ini, tim peneliti melakukan eksperimen lanjutan menggunakan berbagai model seperti tikus bebas patogen spesifik (specific-pathogen-free/ SPF), tikus bebas kuman (germ-free/ GF), dan organel usus kecil, dengan M. rupellensis, spesies yang mewakili Megamonas, yang berfungsi sebagai agen pemberi makan eksperimental.

Eksperimen pada hewan tersebut menunjukkan, M. rupellensis tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berat badan tikus SPF, yang diberi makan dengan asupan normal. Tetapi, secara signifikan meningkatkan berat badan dan penumpukan lemak pada tikus SPF, yang diberi asupan tinggi lemak.

Pada model tikus GF yang diberi asupan tinggi lemak, M. rupellensis juga secara signifikan meningkatkan berat badan dan meningkatkan transportasi asam lemak usus, dan penyerapan lipid secara signifikan.

Tim tersebut juga memverifikasi kemampuan M. rupellensis, untuk menurunkan inositol baik secara in vitro maupun in vivo. Inositol dapat menghambat efisiensi pengangkutan asam lemak. Hal ini menunjukkan, efek pemicu obesitas dari M. rupellensis dapat dijembatani melalui degradasi inositol.

Menurut Yang Fangming, salah satu penulis pertama makalah ini sekaligus peneliti di BGI, studi ini mengungkap adanya hubungan yang kuat antara Megamonas dan obesitas, serta memperjelas mekanisme Megamonas dalam memicu obesitas.

Yang menyebutkan, bahwa penelitian ini diharapkan dapat memunculkan bakteri target baru, untuk diagnosis dan pengobatan obesitas di masa mendatang. (hen/ xinhua-news.com)

Exit mobile version