Warga Natuna Tewas Serangan “Drone” di Konflik Rusia-Ukraina, Diduga Direkrut jadi Tenaga Logistik

NATUNA, Kepri.co.id — Seorang warga asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, bernama Rendi (30), dilaporkan tewas dalam serangan pesawat tak berawak (drone) Ukraina pada 20 September 2026 lalu.

Korban diduga kuat berada di wilayah konflik, setelah direkrut secara non-prosedural menjadi tenaga logistik untuk militer Rusia.

​Kabar duka ini, telah dikonfirmasi oleh pihak keluarga yang berdomisili di Kelurahan Ranai Darat, Kecamatan Bunguran Timur.

Orang tua Rendi, Rustamal dan Eniyanti, membenarkan, putra mereka meregang nyawa di medan perang.

Informasi tersebut, mereka terima dari rekan korban, yang juga bekerja sebagai tenaga logistik di Rusia.

​Menurut Rustamal, Rendi baru bekerja di negara beruang merah itu, selama kurang lebih lima bulan sebelum insiden nahas terjadi.

Ia menuturkan, perekrutan putranya diduga dilakukan melalui sebuah agen secara tidak resmi, sebuah skema yang berisiko tinggi bagi keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri.

​Sebelum berangkat ke Rusia, Rendi diketahui sempat bekerja sebagai teknisi listrik di Filipina. Keputusannya yang mendadak berpindah ke wilayah rawan konflik, sempat memicu kekhawatiran mendalam dari pihak keluarga.

​Rustamal mengaku, pernah memberikan peringatan keras kepada putranya terkait eskalasi perang antara Rusia dan Ukraina.

“Saya bilang, ‘Kenapalah di sana, di sana kan lagi perang’. (Rendi menjawab) ‘Mudah-mudahan aman Pak, doa saja’,” kenang Rustamal menirukan percakapan terakhirnya.

​Selain di lingkungan keluarga, kabar kepergian Rendi juga menjadi duka mendalam di kalangan alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur angkatan 2014-2015.

Rekan almarhum, Yumiga, membenarkan kabar yang beredar di grup pertemanan mereka, namun tetap mengedepankan pihak keluarga sebagai sumber informasi utama.

​Menunggu Langkah Pemerintah

​Merespons kejadian ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna menyatakan, masih mengumpulkan data dan informasi yang lebih komprehensif.

Bupati Natuna, Cen Sui Lan menyebut pihaknya belum mendapatkan pembaruan data secara resmi, terkait nasib warganya tersebut.

​Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Natuna, Boy Wijanarko Varianto, mengatakan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan intelijen TNI, untuk menelusuri detail insiden tersebut.

“Baru tahu pula, kami akan lakukan kroscek dan bertanya ke intel TNI dulu,” ujarnya.

​Hingga saat ini, proses evakuasi dan pemulangan jenazah Rendi, diprediksi akan menghadapi tantangan logistik yang sangat berat.

Berdasarkan keterangan rekan korban, situasi gawat darurat di medan perang yang masih aktif, membuat proses pemulangan belum bisa dipastikan.

​Peristiwa ini, sekaligus menyoroti kerentanan WNI terhadap praktik rekrutmen ilegal ke zona konflik bersenjata.

Kasus Rendi menjadi preseden atas adanya celah pengawasan perbatasan, terkait tujuan akhir WNI yang berujung pada pelibatan di fasilitas militer asing.

​Publik kini menanti kejelasan hukum dari pemerintah pusat, baik terkait status korban, mekanisme darurat pemulangan jenazah, maupun penerbitan aturan tegas guna mencegah berulangnya praktik rekrutmen WNI ke wilayah perang.

Di tengah ketidakpastian tersebut, keluarga di Natuna hanya bisa menanti kabar, kepulangan jenazah sang putra. (abed)

Exit mobile version