DI panggung kehidupan yang fana ini, hati manusia adalah kompas yang rapuh sekaligus kuat. Ia dapat menuntun kita menuju ketenangan, tetapi juga bisa menyesatkan ketika arah perasaan dibiarkan tanpa kendali.
Sapardi Djoko Damono pernah menulis, ”Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.” (BALAI BAHASA PROVINSI JAWA TENGAH)
Kalimat sederhana itu sesungguhnya menyimpan kedalaman yang panjang. Cinta tidak harus gaduh, tidak harus memiliki, apalagi sampai kehilangan diri sendiri. Ketika cinta berubah menjadi keterikatan yang berlebihan, ia bukan lagi memberi kehangatan, melainkan mulai membakar.
Kita sering keliru menempatkan rasa. Terlalu mengagumi seseorang hingga menutup mata terhadap kekurangannya. Terlalu menyukai hingga rela mengorbankan harga diri. Terlalu berharap kepada manusia hingga lupa bahwa manusia juga bisa berubah, pergi, bahkan mengecewakan.
Menyukai seseorang boleh. Mengagumi boleh. Dekat pun boleh. Tetapi, jangan pernah menempatkan manusia sedemikian tinggi, hingga kita kehilangan akal sehat dan merendahkan diri sendiri.
Berilah cinta sebuah batas. Bukan batas untuk menjauh, melainkan pagar untuk menjaga kewarasan. Dekatlah tanpa kehilangan diri. Hormatilah tanpa menjadi pengikut buta. Kagumlah tanpa menutup mata.
Sebab manusia bukan malaikat. Ia bisa menjadi baik hari ini dan mengecewakan esok hari. Ketika itu terjadi, jangan biarkan satu kekecewaan menghapus seluruh kewarasan. Sakit hati adalah manusiawi; kehilangan diri karena sakit hati adalah pilihan yang seharusnya kita hindari.
Dan jika cinta yang berlebihan dapat membutakan, kebencian yang berlebihan pun dapat menggelapkan.
Allah telah mengingatkan, ”Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Rasulullah SAW juga bersabda, ”Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan itu semakin penting di zaman ketika kebencian tidak lagi berhenti di dalam hati. Ia bisa diketik, disebarkan, dipertontonkan, bahkan dikobarkan agar orang lain ikut membenci. Padahal orang yang gemar menyalakan api kebencian sering kali lupa bahwa asapnya pertama-tama akan memenuhi rumahnya sendiri.
Maka jangan menjadi manusia yang mudah mabuk oleh pujian dan mudah terbakar oleh kebencian. Jangan mengangkat seseorang terlalu tinggi hanya karena kita menyukainya, dan jangan menjatuhkan seseorang terlalu rendah hanya karena kita tidak menyukainya.
Belajarlah menempatkan rasa pada tempatnya.
Cintailah dengan akal. Kagumilah dengan kewajaran. Berharaplah terutama kepada Allah. Dan jika kecewa, ambillah jarak secukupnya agar hati tidak berubah menjadi ladang dendam.
Sebab hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam pemujaan yang membutakan atau kebencian yang melelahkan.
Cinta yang sehat membuat kita tetap menjadi diri sendiri. Kekecewaan yang diterima dengan lapang membuat kita semakin dewasa. Dan kebencian yang berhasil kita kendalikan adalah kemenangan paling sunyi atas ego sendiri.
Pada akhirnya, hati yang paling merdeka bukanlah hati yang tidak pernah mencintai dan tidak pernah terluka. Hati yang paling merdeka adalah hati yang mampu mencintai tanpa kehilangan dirinya, mampu kecewa tanpa kehilangan kewarasannya, dan mampu membenci tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Kembalikan seluruh rasa kepada Tuhan. Sebab manusia hanyalah tempat singgah bagi sebagian cerita, sedangkan Allah adalah tempat pulang bagi seluruh rasa. ***
