Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
TAK lolosnya Italia ke Piala Dunia 2026 adalah kenyataan yang memilukan. Kenapa sampai di tahap pilu? Bukan lagi di tahap sedih ataupun di tahap malu, tapi pilu? Sebab ini adalah kegagalan yang ketiga kalinya lolos ke Piala Dunia, berturut-turut. Artinya bukan hanya menyedihkan dan memalukan, tapi juga memilukan.
Negara dengan budaya sepakbola yang kokoh, prestasi yang hebat, dan pamor yang mendunia, tak lolos ke Piala Dunia selama tiga kali berturut-turut, adalah hal yang sangat berat diterima oleh semua penggemarnya di seluruh dunia. Satu hal yang pasti, dari tiga kegagalan ini adalah tentu ada yang salah dengan Italia. Pasti.
Banyak sebab diajukan di depan umum sebagai penyebab gagalnya timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026, bemacam-macam. Mulai dari tak ada regenarasi pemain-pemain hebat di tingkat club, sampai ke pembinaan yang tidak seperti di Spanyol, Belgia, Prancis, Inggris, dan Jerman.
Banyak pengamat sampai mantan pemain timnas, telah mengedepankan semua teori mereka masing-masing karena kegagalan ini. Bagi saya, sebab utamanya tidaklah sulit diketahui, yaitu adalah karena FIGC yang sering salah memilih pelatih. Bahkan, terkesan asal-asalan dalam memilih. Jadi pihak yang paling bersalah adalah Ketua FIGC.
Di awali dari zaman pemilihan Ventura. Meskipun kalau mau membahas lebih jauh lagi, adalah sudah dimulai pada zaman Donadoni. Tapi, di sini saya fokus sejak zaman Ventura. Pelatih dengan pamor yang tidak mentereng, dan tidak dikenal. Tak ada yang bisa dibanggakan darinya, untuk menjadi pengurus timnas sekelas Italia. Pelatih yang biasa mengurus club-club kecil di serie A dan serie B. Dan yang terpenting, permainan timnya tidak lah memikat.
Akibatnya? Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Satu dunia sedih. Siapa yang paling bersalah? Ventura? Ya… jelas bukan. Yang paling bersalah adalah FIGC. Karena mereka yang memiih Ventura.
Kenapa sejak mundurnya Conte, FIGC tak mengejar Capello atau Ancelotti? Atau setidaknya Di matteo yang sudah jelas berjaya dengan Chelsea. Pemilihan Ventura seolah-olah membuat di Italia tak ada pelatih hebat. Padahal, Italia adalah gudangnya pelatih-pelatih hebat. Pemilihan Ventura adalah keputusan terburuk pertama yang pernah dibuat FIGC.
Kegagalan kedua terulang di tahun 2022, setelah kalah di pertandingan hidup mati melawan Makedonia. Bagi saya, setelah Italia juara Euro, harusnya Mancini langsung diganti Ancelotti. Untuk memberi jalan yang panjang bagi Ancelotti membangun ulang timnas. Mulai dari memperbaiki sampai menghebatkannya lagi.
Sebelum membahas kegagalan puncak (gagal ke Piala Dunia 2026), setelah Mancini ke luar, FIGC kembali salah memilih pelatih, yaitu Spalletti, yang tampil buruk bersama Italia di Euro 2024.
Untuk tim sekelas Italia, kalah melawan tim yang pamornya lebih rendah, itu adalah hal yang sangat memalukan. Tak lama setelah Spallettti dirasa tak meyakinkan bisa meloloskan Italia ke Piala Dunia 2026, dipilihlah Gatusso. Pelatih yang tak jelas latar belakang prestasinya, hanya mengandalkan nama besarnya sebagai pemain. Pemilihan Gatusso seolah-olah terkesan Italia bukan sedang bertanding untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Sangat asal-asalan.
Harusnya yang dipilih adalah di antara Simone Inzaghi, Max Allegri, atau Carlo Ancelotti. Tapi, ini malah Gatusso, yang sekadar di tingkat club pun tak pernah berjaya. Setidaknya membawa clubnya lolos ke Piala Champions.
Hasilnya? Italia di tangan Gatusso? Gagal lagi. Kalah melawan Bosnia. Ini bukan hanya memalukan, tapi juga memilukan. Sebab utamanya? Lagi-lagi, karena salah memilih pelatih. Apalah salahnya memilih Claudio Ranieri? Walau identik sebagai tuan juara dua, tapi sekurang-kurangnya, beliau pernah menjuarai liga terberat di dunia. Dan yang hebatnya, karena Leicester bukanlah lima besarnya Inggris.
Andai setelah Euro 2024 Italia langsung dilatih Ranieri, saya yakin Italia bisa lolos ke Piala Dunia 2026 dan lolos dari grup. Peluang juara tetap ada, sebab Ranieri adalah seorang juara. Ranieri adalah jenis pelatih yang teliti terhadap semua hal kecil, yang membuat permainan timnya sering merepotkan tim lawan, dan timnya seimbang di semua lini.
Hal ini sudah lama saya ketahui, sejak beliau melatih club-club besar di Italia, Spanyol, Inggris, dan Prancis. Janganlah karena citranya yang sering dipojokkan media, membuat FIGC menyingkirkan Ranieri dari menjadi calon pelatih timnas Italia. Saya heran, pelatih sehebat Ranieri kok disia-siakan?
Akhir kata, Kementerian Olahraga Italia tak boleh salah lagi memilih Ketua FIGC beserta jajarannya. Pilihlah yang pandangannya jelas terhadap masa depan sepakbola Italia.
Saya menjagokan Roberto Baggio menjadi Ketua FIGC. Sebab, saya setuju dengan semua rencananya membenahi sepakbola Italia. Semoga, Baggio memilih Carlo Ancelotti sebagai pelatih timnas, andai beliau tak bisa memaksa Fabio Capello turun gunung. Atau setidaknya, kalau gagal mendapatkan tandatangan Ancelotti, Ranieri adalah pilihan terbaik saat ini. Di bawah kepelatihannya, saya yakin Italia pelan-pelan akan kembali ke naluri juaranya lagi. Insya Allah. ***
—
Penulis adalah penggemar timnas Italia sejak tahun 1998. Italia adalah satu-satunya timnas yang dicintainya. Menganggap Gianluca Zambrota sebagai pemain terbaik Italia sepanjang zaman.
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.
