PADA 24 September 2026, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) genap berusia 24 tahun. Angka itu bukan sekadar penanda usia administratif sebuah provinsi yang lahir melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002, tetapi juga momentum menengok perjalanan panjang sebuah negeri kepulauan yang dibangun dari sejarah, laut, perjuangan, keberagaman, dan harapan masa depan.
Tema hari jadi ke-24, ”Dari Penyengat, Menyatukan Semangat, Kepri Maju Berkelanjutan”, terasa seperti ajakan untuk kembali kepada akar sebelum melangkah lebih jauh: mengenang dari mana kita berasal, melihat di mana kita berdiri, dan bertanya ke mana Kepri hendak dibawa.
Provinsi ini tidak lahir dari ruang yang kosong. Pembentukannya merupakan buah perjuangan panjang berbagai unsur masyarakat, tokoh daerah, pemerintah, dunia usaha, pemuda, mahasiswa, serta masyarakat Kepri di perantauan. Karena itu, 24 tahun Kepri semestinya tidak hanya dirayakan dengan seremoni, tetapi juga dengan kesadaran bahwa kita menerima warisan yang mahal.
Kini, tujuh kabupaten/ kota—Tanjungpinang, Batam, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas—berdiri dalam satu rumah besar. Rumah itu sangat luas, tetapi sebagian besar halamannya berupa laut. Dengan karakter sekitar 96 persen wilayah laut dan 2.408 pulau, Kepri tidak mungkin dibangun dengan logika daratan semata. Laut bukan pemisah, melainkan jalan raya terbesar yang Tuhan bentangkan di hadapan kita.
Konektivitas yang adil: menghubungkan pulau, mendekatkan pelayanan. Karena itu, prioritas pertama adalah konektivitas yang adil. Pembangunan tidak boleh berhenti di Batam, Tanjungpinang atau pusat-pusat pertumbuhan. Masyarakat Natuna, Anambas, Lingga, pulau-pulau kecil dan wilayah perbatasan harus merasakan kehadiran negara, melalui transportasi laut dan udara yang terjangkau, pelabuhan yang berfungsi baik, internet yang merata, pendidikan, kesehatan, energi, air bersih, dan pelayanan administrasi yang mudah.
Gagasan besar seperti konektivitas Batam–Bintan tentu memiliki arti strategis, tetapi proyek sebesar apa pun harus dibangun di atas kajian, pembiayaan, tata ruang, lingkungan dan manfaat sosial yang jelas. Yang lebih penting, konektivitas jangan hanya menghubungkan titik di peta; ia harus menghubungkan manusia dengan kesempatan.
Ekonomi maritim yang memberi nilai tambah: jangan hanya menjadi tempat kapal melintas. Prioritas kedua adalah mengubah keunggulan geografis menjadi nilai ekonomi yang dirasakan masyarakat. Kepri berada di kawasan strategis Selat Malaka dan Selat Singapura, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, serta berada di jalur perdagangan regional. Namun, posisi strategis tidak otomatis menjadi kesejahteraan.
Kita jangan hanya menjadi tempat kapal lewat, kontainer singgah, atau wisatawan transit. Kepri harus mampu menangkap nilai tambah melalui industri, logistik, pariwisata, perikanan, budidaya laut, ekonomi digital, pengolahan hasil laut dan ekonomi kreatif. Investasi tidak cukup dihitung dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari tenaga kerja lokal yang terserap, usaha masyarakat yang tumbuh, keterampilan yang meningkat, teknologi yang ditransfer, dan lingkungan yang tetap terjaga.
Setiap daerah memiliki kekuatan yang dapat saling melengkapi. Batam dapat terus memperkuat industri, inovasi dan tenaga kerja terampil; Bintan dan Karimun mengembangkan industri, pariwisata serta logistik; Tanjungpinang memperkokoh peran sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, kebudayaan dan jasa; sedangkan Lingga, Natuna dan Anambas memiliki ruang besar untuk mengembangkan perikanan, ekonomi kelautan, pariwisata berbasis masyarakat dan komoditas lokal.
Pendidikan dan pelatihan pun harus benar-benar bertemu dengan kebutuhan dunia usaha. Jangan sampai kita sibuk mencetak sertifikat, sementara industri masih mencari tenaga terampil dan anak-anak daerah masih mencari pekerjaan. Ekonomi maritim harus menjadi ekosistem, bukan sekadar jargon pembangunan.
Kebudayaan sebagai cahaya masa depan: merawat akar, menghidupkan identitas. Prioritas ketiga adalah kebudayaan. Penyengat bukan sekadar pulau kecil di tengah laut. Ia adalah salah satu halaman penting sejarah intelektual Melayu, tempat jejak Raja Ali Haji mengingatkan kita: sebuah pulau kecil dapat melahirkan gagasan yang pengaruhnya menembus batas zaman.
Karena itu, warisan Penyengat tidak cukup dipajang dalam upacara atau disebut dalam pidato. Ia harus dihidupkan melalui pendidikan, literasi, riset, diplomasi budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif. Begitu pula kesenian seperti Mendu, Gubang, Joget Dangkong, Ghazal Melayu, Mak Yong, Jogi, Berdah dan Joget Tandak perlu dirawat sebagai identitas yang hidup. Kebudayaan bukan ornamen pembangunan; ia adalah jiwa yang membuat pembangunan memiliki wajah dan karakter.
Kepri juga memiliki kekayaan alam yang seolah tidak pernah selesai diceritakan: Natuna dengan bentang geopark dan kekayaan baharinya, Pulau Bawah dan gugusan Anambas, sejarah Kesultanan Riau-Lingga di Lingga, Penyengat dengan warisan Melayu, pesona Bintan, hingga berbagai destinasi bahari dan ekonomi kreatif di Batam.
Potensi tersebut harus dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan manfaat bagi masyarakat lokal. Begitu pula kegiatan seperti Dekrafest dan berbagai festival budaya, jangan hanya diukur dari ramainya panggung atau jumlah pengunjung.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah perajin mendapatkan pasar, usaha mikro kecil menengah (UMKM) memperoleh pelanggan, seniman mendapat ruang, produk lokal naik kelas, dan ekonomi masyarakat terus bergerak setelah lampu panggung dipadamkan.
Pada akhirnya, tiga prioritas itu harus berjalan sebagai satu orkestrasi pembangunan. Konektivitas yang adil membuka jalan bagi manusia dan pelayanan. Ekonomi maritim yang memberi nilai tambah mengubah posisi geografis menjadi kesejahteraan. Kebudayaan yang hidup menjaga identitas sekaligus membuka ruang pendidikan, pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah perlu menjadi konduktor yang menjaga arah, dunia usaha menggerakkan energi ekonomi, masyarakat menjaga akar budaya, akademisi menyumbangkan pengetahuan, dan generasi muda membawa keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Dua puluh empat tahun Kepri adalah usia untuk bersyukur sekaligus bercermin. Kita boleh bangga dengan apa yang telah dicapai, tetapi jangan sampai kebanggaan membuat kita lupa pada wajah-wajah di pulau terluar, nelayan yang masih bergulat dengan laut, anak-anak yang menempuh perjalanan panjang menuju sekolah, tenaga kesehatan yang bertugas jauh dari pusat kota, pelaku UMKM yang mencari pasar, dan masyarakat perbatasan yang setiap hari menjadi wajah Indonesia.
Ukuran kemajuan bukan hanya gedung yang tinggi, jalan yang lebar, investasi yang besar atau acara yang meriah, tetapi seberapa jauh kesejahteraan benar-benar sampai ke tempat yang paling jauh.
Kepri tidak harus menjadi Bali, tidak harus menjadi Singapura, dan tidak perlu menjadi salinan daerah mana pun. Kepri harus menjadi dirinya sendiri: provinsi kepulauan yang maju tanpa kehilangan akar, terbuka tanpa kehilangan arah, modern tanpa meninggalkan tradisi, dan strategis tanpa membuat masyarakatnya hanya menjadi penonton.
Kita boleh bermimpi tentang jembatan, pelabuhan, kawasan industri, wisata bahari kelas dunia, konektivitas lintas pulau bahkan jejaring ekonomi Selat Melaka yang hari ini mungkin terdengar terlalu jauh. Mimpi besar memang kadang tampak utopis, tetapi masa depan selalu bermula dari keberanian membayangkan sesuatu yang belum ada, lalu mengubahnya menjadi rencana, kerja, dan kenyataan.
Selamat hari kadi ke-24 Provinsi Kepri. Dari Penyengat kita menjaga cahaya sejarah, dari laut kita menjemput peluang, dari pulau-pulau kita merawat persatuan. Dua puluh empat tahun bukan garis akhir, melainkan pintu menuju perjalanan yang lebih panjang.
Semoga Kepri tumbuh dengan akar yang semakin kuat, layar yang semakin terkembang, dan arah yang semakin jelas. Segantang lada namanya Kepulauan Riau; pulaunya berserak, lautnya luas, budayanya beragam, tetapi hatinya satu. Happy Anniversary Kepri. Kepri tetap di hati. ***
