Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
MELAYU adalah suku asli Batam. Sebelum Batam menjadi kota yang terdiri dari beragam suku seperti sekarang. Melayu adalah suku yang pertama kali menempati Batam. Sejak berpuluh abad yang dulu, saat Batam masih menjadi negara kota/ city state.
Orang Melayu di Batam semuanya mempunyai kaitan persaudaraan dengan semua orang Melayu di sekitarnya. Misalnya dengan Melayu di Bintan, Karimun, Singkep, dan, Natuna di Lingga. Dan di Timur Sumatera, biasanya dengan Melayu Indragiri. Sejak Batam resmi dikelola Otorita pada tahun 1973, Batam menjadi tempat utama berkumpulnya orang-orang Melayu dari seluruh Provinsi Kepulauan Riau sejak tahun 1990. Mandi syafar, makan talam sehidang, dan silat Pengantin contoh tradisi Melayu yang ada di Batam.
Dilihat dari sejarah, Batam sejak berpuluh abad yang dulu telah berjaya sebagai sebuah negara kota. Karena keuntungannya yang terletak di titik utama jalur pelayaran dunia. Keadaan ini dulu, membuat pelabuhannya dikunjungi saudagar mancanegara dari timur tengah.
Batam waktu itu adalah pusat penjualan rempah-rempah di Asia. Keadaan ini berjalan selama berabad-abad. Selama 400 tahun, dari tahun 1511 sampai tahun 1911 Batam berada di dalam wilayahnya Kesultanan Riau, yang wilayah kedaulatannya pernah sampai meliputi setengah semenanjung.
Hal ini terus berlanjut, sampai dengan dibunuhnya Kesultanan Riau, dan Batam berada dalam wilayah Karesidenan Riau yang diatur langsung oleh pemerintahan kerajaan hindia Belanda.
Riwayat pejabat walikota di Batam, ada banyak Melayu yang pernah menjabat jabatannya. Mulai dari Raja Usman Draman yang seorang Melayu Tembilahan, Raja Abdul Aziz yang seorang Melayu Tarempa, Nyat Kadir yang seorang Melayu Lingga, Muhamad Rudi yang seorang Melayu Tanjungpinang, dan sekarang Amsakar Achmad yang seorang Melayu Dabo Singkep.
Ini satu fakta yang memikat bagi saya. Ini semua bisa terjadi, sebab nasib Batam yang dijadikan tempat berjumpanya orang Melayu dari semua penjuru Kepulauan Riau.
Satu-satunya pejabat Walikota Batam yang pernah dijabat bukan Melayu adalah Ahmad Dahlan, yang seorang Bugis. Mskipun begitu, beliau adalah orang bugis yang lahir di Batam, tepatnya di Batubesar.
Seseorang dikategorikan sebagai Melayu Batam, apabila orangtuanya bersuku Melayu dan orang itu lahir di Batam.
Melayu dari kabupaten manapun di Provinsi Kepulauan Riau orangtuanya, kalau orang itu lahir di Batam, maka orang itu adalah Melayu Batam.
Contoh untuk hal ini adalah Randi Zulmariadi SM. Seorang anggota DPR RI yang mewakili daerah Kepulauan Riau.
Ayah Randi adalah seorang Melayu tanjungpinang, ibundanya adalah seorang Melayu Tanjungbalai Karimun, dan Randi lahir di Batam.
Bukan hanya lahir di Batam, tapi Randi juga menghabiskan masa pendidikannya di Batam. Dari TK sampai SMA.
Itu sebabnya, beliau adalah seorang Melayu Batam. Seorang Melayu tentunya berpedoman kepada ayahandanya yang juga seorang bersuku Melayu atau etnis Melayu.
Di Batam, pelestarian budaya Melayu bisa dijumpai dalam bentuk pemakaian baju Melayu di sekolah pada hari Jumat dan pelajaran Arab Melayu di sekolah-sekolah. Serta ekstra kurikulernya. Kedai-kedai nasi lemak milik peniaga Melayu juga ikut berperan dalam menghidupkan budaya Melayu.
Adanya kampung-kampung Melayu juga semakin mendukung pelestarian kebudayaan Melayu. Contohnya pada pelatihan musik tradisional dan tari zapin.
Semua ini, didukung dengan adanya Lembaga Adat Melayu yang menjadi pengerat orang-orang Melayu di Batam, dengan menaungi semua organisasi Melayu yang ada di Batam.
Ajang-ajang seperti kenduri seni Melayu, juga menjadi agenda penting dalam pelestarian kebudayaan Melayu. Ajang ini, biasanya diadakan setahun sekali.
Dalam pandangan saya pribadi, orang Melayu di Batam yang paling termahsyur adalah Muhammad Candra. Beliau adalah seorang ustad yang biasa berceramah di Batam, bahkan berkeliling ke kabupaten-kabupaten lain di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Saya mengetahui beliau sudah dari kecil.
Sejak beliau berceramah di mesjid dekat rumah saya, kemudian di sekolah saya. Beliau adalah seseorang yang sangat lucu saat sedang berceramah, hal ini lah yang membuat saya sangat menyukai ceramah-ceramah beliau.
Bukan hanya lucu, beliau juga pandai memainkan perasaan pendengar beliau. Dengan membuat keadaan menjadi penuh haru biru saat beliau sedang bercerita tentang akhir bersama orangtua. Beliau adalah alumni SMP Kartini dan tinggal di Tanjung Uma.
Saya sebagai anak watan Batam tidak setuju dengan pembangunan Batam seperti sekarang, apalagi Batam yang sekarang dibuat terbiar pada industri pemukiman, hal ini sangat menyedihkan saya. Karena sangat banyak mudaratnya.
Saya sedih Batam menjadi seperti sekarang, karena pada tahun 1970-an Batam bisa dibuat seperti Bali, atau bahkan seperti kota-kota di Eropa.
Pada tahun 1970-an Batam masih sangat gampang dibentuk karena tidak sepadat Jakarta. Tapi, karena semuanya sudah terlanjur begini dan hasilnya sudah bisa dibandingkan, maka terpaksa dijalani, walau sebenarnya tidak pernah diterima.
Batam yang sering dicitrakan sebagai lokomotif ekonomi Indonesia, sebenarnya adalah lambang dari ketidak adilan pembangunan pemerintah Indonesia. ***
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.
