NANNING (Kepri.co.id – Xinhua) – Dari kopi dan kerajinan tangan Indonesia hingga solusi pertanian berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI), Pameran Tiongkok-ASEAN (China-ASEAN Expo) ke-23 di Nanning, ibu kota Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, menyoroti cakupan kerja sama yang semakin luas antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN.
Diselenggarakan dari 17 hingga 21 September 2026, pameran tersebut mempertemukan berbagai perusahaan dari kawasan tersebut, dengan para peserta pameran asal Indonesia memanfaatkan platform ini untuk memperkenalkan produk khas daerah, menjalin koneksi dengan para pembeli dari Tiongkok, dan menjajaki pasar baru.
Di paviliun Indonesia di Nanning International Convention and Exhibition Center, aroma kopi Indonesia berpadu dengan produk cokelat alami, kerajinan tangan tradisional, dan berbagai produk khas lainnya. Karakteristik khas Asia Tenggara dan kualitas produk tersebut menarik minat pembeli dari Tiongkok dan negara-negara ASEAN lainnya.
Bagi Winda Hengelia, seorang pebisnis asal Indonesia, pameran tersebut telah menjadi bagian yang familier dalam perjalanan bisnisnya. Tahun ini menandai partisipasinya yang ke-15.
Berdiri di stan produk berbahan dasar kayu miliknya, Winda memperkenalkan teknik pembuatan, konsep desain, dan unsur budaya di balik produknya kepada para pengunjung.
Setelah bertahun-tahun berkecimpung di pasar Tiongkok-ASEAN, dia telah menyaksikan perkembangan serta berbagai peluang bisnis yang diciptakan pameran tersebut, bagi perusahaan-perusahaan Indonesia.
“Pameran Tiongkok-ASEAN merupakan platform penting bagi pertukaran ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN,” ujar Winda. “Pameran itu memungkinkan produk khas Indonesia menjangkau konsumen Tiongkok secara lebih langsung dan menjadikan komunikasi dan kerja sama antarbisnis kedua pihak semakin efisien.”
Selama satu dekade terakhir, pameran tersebut telah membantu meningkatkan kesadaran terhadap produknya, membangun jaringan mitra bisnis yang stabil, dan memperluas jangkauan pasarnya.
Winda mengatakan bahwa dirinya berencana untuk terus mengembangkan pasar Tiongkok dan memanfaatkan pameran tersebut untuk menjajaki lebih banyak peluang kerja sama yang saling menguntungkan.
Sementara itu, bagi Dwi Sabda Irawati, pameran tersebut masih menjadi pengalaman yang relatif baru. Tahun ini merupakan kali kedua dirinya berpartisipasi, dengan syal buatan tangan khas Indonesia sebagai salah satu produk yang dibawa Dwi ke Nanning.
Di stan miliknya, Dwi menunjukkan teknik tenun tradisional yang digunakan untuk membuat syal tersebut serta menjelaskan bahan dan tradisi budaya di baliknya. Produk-produk tersebut menarik minat para pengunjung dan calon pembeli.
“Banyak pembeli asal Tiongkok dan pelaku usaha dari negara-negara ASEAN lainnya mengunjungi stan kami untuk membahas kerja sama dalam beberapa hari terakhir,” ujar Dwi. “Beberapa calon klien bahkan telah menambahkan saya di WeChat untuk membahas detail produk dan pengaturan pasokan. Saya berharap pembahasan tersebut dapat menghasilkan kerja sama yang konkret dan kemitraan jangka panjang.”
Dari komoditas khas hingga produk budaya, kisah kedua peserta pameran tersebut mencerminkan satu aspek dari hubungan ekonomi dan perdagangan yang lebih luas antara Tiongkok dan ASEAN.
Namun, kerja sama tersebut tak hanya terbatas pada pertukaran barang. Seiring kian eratnya hubungan antara Tiongkok dan ASEAN, bidang-bidang baru seperti ekonomi digital dan pertanian pintar membuka peluang tambahan.
Di Area Pameran Ekonomi Digital, Jiarun Technology Group Co Ltd memajang “Agricultural Digital Brain,” yang menarik minat pengunjung melalui demonstrasi bagaimana teknologi digital dan kecerdasan buatan dapat diterapkan dalam produksi pertanian.
Sistem tersebut mengintegrasikan stasiun cuaca, perangkat pemantauan hama, dan sensor tanah untuk mengumpulkan data lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan pH tanah dalam waktu nyata (real time). Teknologi pengenalan visual berbasis AI juga dapat memantau pertumbuhan tanaman dan mengidentifikasi lebih dari 60 jenis hama dan gulma.
“Alih-alih hanya mengandalkan pengalaman seperti di masa lalu, para petani kini dapat memanfaatkan data untuk mendukung pengambilan keputusan mereka,” tutur Chen Xiujuan, Direktur Pusat Manajemen Korporat di perusahaan tersebut.
Sistem tersebut telah diterapkan di beberapa negara ASEAN, termasuk Kamboja, Laos, dan Thailand.
Di kebun durian Thailand, teknologi pengenalan gambar berbasis AI digunakan untuk menilai tingkat kematangan buah. Di perkebunan durian Musang King di Malaysia, berbagai sensor memantau kondisi lingkungan, termasuk cahaya, suhu, air, dan udara. Di perkebunan pisang di Laos, rencana pengelolaan air dan pupuk yang disesuaikan digunakan untuk meningkatkan efisiensi.
Penerapan tersebut mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam kerja sama pertanian, dari peralatan dan produk individual menuju solusi digital yang terintegrasi.
“Dari pertukaran barang hingga kerja sama digital dan cerdas, kolaborasi Tiongkok-ASEAN berkembang dari sektor ekonomi dan perdagangan tradisional ke bidang-bidang baru seperti ekonomi digital dan pertanian pintar,” kata Tang Xiaofu, associate professor di Fakultas Pertanian Universitas Guangxi.
Ke depannya, Tang memperkirakan kerja sama yang lebih erat dalam bidang teknologi, talenta, industri, dan pasar akan menciptakan lebih banyak penerapan praktis serta model kerja sama baru. Kerja sama tersebut dapat menghadirkan lebih banyak manfaat bagi bisnis dan masyarakat kedua pihak, sekaligus memberikan dorongan baru bagi hubungan Tiongkok-ASEAN untuk semakin berkembang di berbagai bidang. (hen/ xinhua-news.com)
