Penulis: Bonardo T Sianturi SE MBA CFP CRGP
Dewan Pakar Ekonomi, Industri dan Investasi DPN APPEKNAS
TEMBUSNYA Dolar Amerika Serikat (AS) ke kisaran Rp17.500 bukan sekadar peristiwa pasar uang. Ini adalah alarm ekonomi yang harus dibaca dengan jernih, tenang, tetapi juga serius.
Di satu sisi, ekonomi Indonesia memang masih menunjukkan daya tahan: pertumbuhan masih positif, inflasi masih terkendali, defisit anggaran belum melewati batas aman, dan cadangan devisa masih memadai.
Namun di sisi lain, pelemahan Rupiah menunjukkan pasar sedang gelisah, pelaku usaha mulai berhitung ulang, dan masyarakat mulai bertanya-tanya apakah harga barang, biaya hidup, dan lapangan kerja akan ikut terdampak dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan kepanikan, tetapi juga bukan sikap meremehkan keadaan. Pemerintah perlu hadir dengan langkah yang lebih tegas, lebih disiplin, dan lebih mudah dipahami publik.
Sebab, nilai tukar Rupiah bukan hanya urusan Bank Indonesia atau pelaku pasar keuangan. Rupiah adalah wajah kepercayaan terhadap ekonomi nasional. Ketika Rupiah melemah tajam, yang harus dijaga bukan hanya angka kurs, tetapi juga keyakinan rakyat bahwa negara tetap memegang kendali.
Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (DPN APPEKNAS) yang lahir dari semangat UU Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi dan senantiasa mendukung terhadap agenda pembangunan nasional, DPN APPEKNAS memandang bahwa pemerintah perlu segera memperkuat langkah stabilisasi ekonomi secara lebih terarah.
APPEKNAS terus mendukung pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional, tetapi dukungan itu harus diwujudkan dalam imbauan yang jujur dan konstruktif. Pemerintah harus menjaga kepercayaan pasar, menajamkan belanja negara, serta memperkuat pasokan dolar melalui ekspor, devisa hasil ekspor, pengendalian impor yang tidak mendesak, dan percepatan investasi produktif.
Bagi APPEKNAS, fakta dolar Amerika menembus level Rp17.500 tidak boleh dilihat hanya sebagai masalah teknis keuangan. Ini adalah soal daya tahan rakyat. Jika Rupiah terus melemah, biaya impor naik, harga energi dan pangan berisiko tertekan, dunia usaha menjadi lebih hati-hati, dan beban rumah tangga bisa bertambah.
Karena itu, pemerintah harus memastikan setiap Rupiah uang negara dipakai untuk melindungi rakyat kecil, menjaga harga kebutuhan pokok, mempertahankan lapangan kerja, dan memperkuat sektor-sektor produktif yang mampu menghasilkan devisa.
APPEKNAS juga menilai, pemerintah perlu berbicara dengan satu suara. Dalam masa penuh ketidakpastian global, komunikasi ekonomi yang tidak konsisten dapat memperbesar kegelisahan.
Masyarakat dan pasar membutuhkan kepastian, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap disiplin, defisit dijaga, inflasi dikendalikan, Bank Indonesia (BI)tetap kredibel, dan kebijakan pemerintah tidak berubah-ubah secara mendadak. Ketegasan komunikasi sama pentingnya dengan ketepatan kebijakan.
Oleh karena itu, APPEKNAS memandang perlu menyampaikan tiga imbauan utama kepada pemerintah:
Pertama, jaga kepercayaan pasar melalui disiplin APBN, komunikasi satu suara, dan kebijakan yang konsisten.
APPEKNAS menghmbau pemerintah, menjaga kepercayaan pasar melalui disiplin APBN, komunikasi ekonomi yang satu suara, serta kebijakan yang konsisten dan tidak menimbulkan kejutan.
Dalam situasi rupiah menembus Rp17.500 per Dolar AS, yang paling penting bukan hanya menahan kurs, tetapi memulihkan kepercayaan bahwa pemerintah tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Kedua, tajamkan belanja negara dengan menunda yang tidak mendesak, melindungi rakyat kecil, serta mengutamakan belanja produktif.
APPEKNAS mengharapkan pemerintah untuk segera menajamkan prioritas belanja negara. Belanja yang tidak mendesak perlu ditunda, sementara anggaran untuk menjaga daya beli rakyat kecil, stabilitas harga pangan, energi, lapangan kerja, dan sektor produktif harus diamankan.
Dalam situasi Rupiah melemah, setiap Rupiah uang negara harus dipakai untuk memperkuat daya tahan rakyat dan ekonomi nasional.
Ketiga, perkuat pasokan dolar nasional melalui ekspor, devisa hasil ekspor, pengendalian impor, dan percepatan investasi produktif.
APPEKNAS berharap, pemerintah memperkuat pasokan dolar nasional melalui percepatan ekspor, optimalisasi devisa hasil ekspor, pengendalian impor barang konsumsi yang tidak mendesak, serta percepatan investasi produktif.
Indonesia tidak boleh hanya bertahan menghadapi dolar yang kuat, tetapi harus memperbaiki struktur ekonomi, agar Rupiah tidak terus-menerus rentan terhadap gejolak global.
Indonesia tidak boleh hanya bertahan menghadapi dolar yang kuat. Indonesia harus menggunakan momentum ini, memperbaiki ketahanan ekonominya. Rupiah yang kuat tidak lahir hanya dari intervensi pasar, tetapi dari ekonomi yang dipercaya, APBN yang disiplin, produksi nasional yang kuat, ekspor yang meningkat, dan rakyat yang merasa dilindungi.
Dolar tembus Rp17.500 adalah peringatan. Jika pemerintah bergerak cepat, tepat, dan berpihak kepada rakyat, peringatan ini bisa menjadi titik balik memperkuat kembali kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. ***
