Abdul Somad, Hijrahnya Orangtua Jaman Now

Penulis : Mohammad Endy Febri, warga Tanjungpinang.

Abdul Somad, Lc, M.A masih dinanti. Dari kedai – kedai kopi terdekat, pelataran mesjid hingga (barisan) shaff – shaff dalam mesjid. Ada yang menantinya dengan berbincang seraya merokok ditemani kopi, ada pula yang menunggunya dengan berzikir didalam mesjid. Semua penantian tersebut untuk melihat sosok ulama dari Pulau Sumatera itu, jika apes mendengar suaranya saja, jadi lah.

Pekan lalu, karena lelaki itu, untuk kedua kalinya saya menghadirkan diri ke Kota Kijang, Kabupaten Bintan. Masih dengan rasa penasaran yang sama dengan kehadirannya di Batam, pertengahan tahun lepas. Kala itu, saya juga menanti tausyiah Abdul Somad yang kian kesini kian banyak yang mengecap dirinya sebagai ulama anti kebhinekaan.

Saat datang perdana, nama dosen itu belum dikaitkan dengan kebhinekaan dan keingintahuan saya murni karena pria itu menjadi magnet di You Tube. Pada sambangan kedua ini, rasa penasaran lebih pada; masihkan ramai peminat tausyiahnya saat dicap miring ditambah bullying dari netizen yang kontra dengan pola Abdul Somad bertutur?

Ternyata tidak berkurang. Ribuan orang Bintan, mungkin juga dari Tanjungpinang datang ke mesjid itu. Kurang lebih sama padatnya seperti tahun lalu di Batam. Kiranya, korelasi antara kritik pedas warganet dunia maya tak berbanding lurus dengan fenomena di Kota Kijang.

Saya tidak menjadikan tulisan ini menjadi sebuah counter atau semacam gerakan bela Ustadz Abdul Somad. Sebab, ulama jika ilmunya luas dan pemahamannya benar, tak perlu dibela secara frontal. Ummat masih dan pasti akan memercayai, juga menjadikannya tauladan sekaligus referensi ilmu berjalan.

Ustad Abdul Somad (net)

Karakter dan ilmu. Itu yang sebenarnya menjadi PR saya selain mencoba memahami ilmu agama yang disampaikannya saat kunjungan kedua itu. Ribuan orang yang datang dari mana – mana itu, merelakan dirinya hadir karena karakter dan ilmu yang dimilikinya, walaupun sisanya ada juga yang cenderung mengejar berswafoto-ria, tetapi itupun imbas dari kepribadian penceramahnya jugakan?

Pandangan saya, orang sekaliber itu, untuk terpilih jadi kepala daerah di kampung halamannya atau menjadi petinggi di Kementerian Pendidikan bukanlah hal sulit. Jadi menteri agama sekalipun atau memimpin ormas dilevel pusat. Ia telah memiliki modal politik yang besar: massa yang mendengarkannya. Dengan banyaknya ketidaksukaan padanya didunia maya saja, dikehidupan nyata tak banyak mengubah apapun; tak sanggup menahan kerinduan orang – orang untuk berkunjung, menghabiskan penasaran mereka yang sebelumnya melihat dari streaming belaka, itupun kalau ada quota.

Didalam mesjid, muatan ceramahnya juga tak mengarah pada ujaran kebencian pada golongan lain. Bahkan ia punya kekhawatiran apabila penjelasannya diparuh – paruh, dipahami sepotong – sepotong. Dapat jadi kontroversi yang baru menurutnya. Sepertinya, ia sangat memahami peta dakwahnya, penyuka dan pembencinya merupakan aset yang unik dalam dakwah Abdul Somad.

Kembali ke PR diatas tadi, karakter dan ilmu. Tak bisa dipungkiri bahwa warga Pekanbaru ini seperti memberikan dampak terhadap pola fikir orangtua muslim di Indonesia. Jaman now, sebagian besar anak – anak Muslim dididik oleh orangtuanya “secara hijrah,” jauh lebih islami dibanding generasi papa – mamanya dahulu. Dimasukkan ke sekolah – sekolah berbasis Islam dan jika si anak berminat, secepatnya dilepas ke dunia barunya yang bernama pesantren.

Dasar pendidikan sang ustadz yang berlatar Timur Tengah juga menginspirasi para pelajar SMU dan mahasiswa muda Indonesia untuk mengejar beasiswa ke kawasan tersebut, mendalami ilmu agama lebih komprehensif dari akarnya langsung.

Ini semua merupakan perspektif saya dan pernah didiskusikan ke beberapa rekan dan mereka punya pendapat yang sama tentang dampak fenomena Ustadz Abdul Somad setahun lebih ini. Karakter atau pola menyampaikan gagasannya dan ilmunya membuat ia begitu ditunggu oleh jamaah dikota – kota yang didatanginya.

Ulama ini memiliki peluang yang lebih besar dari ‘sekadar’ menjadi mubaligh, perkataannya didengarkan dan dilaksanakan ummat yang memercayai kadar keilmuannya. Dengan level ini, sudah tentu pria yang lahir di Sumatera Utara ini menjadi sorotan nasional dan jamaah negara serumpun. Juga diamati rekan ustadz kondang lainnya, tokoh – tokoh ormas keagamaan, pengurus mesjid hingga politisi ternama, apalagi mereka yang merasa terusik dengan tuturnya yang bisa merugikan pihak tertentu karena perkataannya dijadikan pertimbangan banyak orang.

Terlepas dari kontroversialnya Ustadz Abdul Somad sekarang, didiklah anak kita dengan pembentukan karakter yang memaksimalkan kepribadiannya dengan baik, sekaligus fokus pada ilmu yang ingin diraihnya. Gapai maksimal, suatu saat ia akan dinantikan seperti jamaah menanti Abdul Somad dan memberi manfaat bagi kehidupan orang lain yang menginginkan sesuatu yang lebih baik dalam dirinya. Entah itu berupa ketenangan atau sebuah keahlian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *