JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia (RI), berharap jumlah kunjungan wisatawan China ke Indonesia dapat menebus angka 1,5 hingga 2 juta tahun 2025 ini, naik signifikan dari tahun 2024 lalu yang sukses membukukan hampir 1,2 juta meski relatif masih di bawah level tahun 2019.
Tren peningkatan ini, diharapkan berlanjut pada 2025 dengan menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya, melalui penambahan frekuensi penerbangan langsung dari China ke Indonesia.
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan China ke Indonesia Naik 52 Persen pada 2024
“Penerbangan dari China ke Indonesia belum kembali normal atau masih sekitar 70 persen dari level tahun 2019, inilah yang kini kita berupaya dorong,” kata Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenpar RI, Vinsensius Jemadu kepada Xinhua di Jakarta, belum lama ini.
Pemerintah Indonesia mendorong penambahan rute penerbangan langsung dari China ke beberapa destinasi wisata, baik berupa penerbangan rutin maupun carter.
Terbaru, maskapai China, Lucky Air telah membuka penerbangan langsung dari Kunming ke Manado mulai 18 Februari 2025, dengan frekuensi tiga kali sepekan.
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan China ke Indonesia Tembus 1 Juta Dalam 10 Bulan Pertama 2024
Di samping itu, promosi pariwisata di pasar China akan terus ditingkatkan melalui kerja sama dengan media sosial, layanan pemesanan tiket penerbangan dan hotel, hingga agen perjalanan wisata.
Pasar yang disasar pun kini diperluas, mencakup segmen free independent traveler (FIT) atau wisatawan yang berlibur tanpa paket tur, serta wisatawan dari daerah China bagian utara dan kelas menengah atas.
Wisatawan China menyumbang 8,6 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang tahun 2024 lalu, penyumbang terbesar keempat setelah Malaysia, Australia, dan Singapura. Mayoritas dari mereka masuk melalui Jakarta, Bali, dan Surabaya.
Baca Juga: Wisatawan Indonesia Puji Kuliner Pedas dan Suasana Semarak Kota Chongqing di China
Selain promosi pariwisata, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), menyebut pemerintah bisa meningkatkan daya saing wisata Indonesia di pasar China melalui kebijakan pembebasan visa, serta peningkatan kemampuan Bahasa Mandarin bagi pelaku wisata domestik. (amr/ xinhua-news.com)
