Menyikapi Tren Foto AI: Ketika Teknologi Berkembang, Adab dan Kesakralan Agama Tak Boleh Hilang

DI PERTENGAHAN September 2026, linimasa media sosial kembali dipenuhi beragam kreasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI).

Wajah-wajah manusia diubah menjadi lebih rupawan, suasana dipoles menjadi lebih dramatis, dan berbagai figur keagamaan ditampilkan dalam visual yang tampak sempurna.

Teknologi menghadirkan keindahan yang dahulu sulit dibayangkan. Namun, di balik kemudahan itu, terselip pertanyaan penting: sampai di mana kreativitas boleh berjalan, dan kapan ia perlu berhenti demi menghormati kebenaran, adab, serta kesakralan agama?

Islam tidak pernah menempatkan kemajuan teknologi sebagai sesuatu yang harus dimusuhi. Sejak dahulu, perkembangan ilmu pengetahuan dan berbagai sarana komunikasi telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban Islam. Persoalannya bukan terletak pada kecanggihan alat, melainkan pada niat, cara penggunaan, dan dampak yang ditimbulkannya.

AI dapat menjadi sarana pendidikan, dakwah, dokumentasi sejarah, serta pengembangan seni. Namun, teknologi yang seharusnya membantu manusia memahami kenyataan, jangan sampai digunakan untuk menciptakan kenyataan palsu yang menyesatkan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara seni, ilustrasi, dan rekayasa substansi. Menggunakan AI untuk membuat ilustrasi suasana masjid, menggambarkan perjalanan sejarah Islam, atau menyajikan materi edukasi dengan pendekatan visual merupakan bentuk kreativitas yang dapat memberi manfaat.

Selama konteksnya jelas, tidak mengandung penipuan, dan tetap menghormati batasan agama, seni dapat menjadi jembatan yang mendekatkan pesan dakwah kepada masyarakat, termasuk generasi muda. Keindahan bukan musuh kebenaran, tetapi keindahan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengubah kebenaran.

Persoalan menjadi lebih sensitif, ketika teknologi digunakan untuk merekayasa wajah, suara, perkataan, atau tindakan seorang ulama. Sehingga, seolah-olah ia menyampaikan sesuatu yang tidak pernah dikatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan. Di titik ini, kita tidak sedang membicarakan persoalan estetika semata, melainkan menyentuh wilayah kejujuran dan amanah. Sebuah visual yang diberi keterangan sebagai ilustrasi tentu berbeda dengan gambar yang sengaja ditampilkan seolah-olah merupakan dokumentasi nyata. Perbedaan konteks tersebut perlu dijelaskan agar masyarakat tidak terjebak dalam persepsi yang keliru.

Dalam ajaran Islam, kejujuran bukan sekadar akhlak tambahan, melainkan fondasi kehidupan beragama. Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra: 36, bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Pesan ini memiliki relevansi kuat di tengah era AI. Apa yang kita lihat, dengar, dan sebarkan tidak seharusnya diterima tanpa pertimbangan. Teknologi boleh menghasilkan gambar yang meyakinkan, tetapi keyakinan manusia tetap harus dibangun di atas kebenaran, bukan sekadar kemiripan visual.

Kebutuhan untuk melakukan tabayyun juga semakin penting. Dalam QS. Al-Hujurat: 6, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk memeriksa kebenaran suatu berita agar tidak menimbulkan kerugian akibat ketidaktahuan. Dalam konteks digital, tabayyun bukan hanya memeriksa siapa yang mengunggah sebuah konten, tetapi juga menelusuri sumber, konteks, waktu, dan kemungkinan perubahan yang terjadi pada gambar maupun suara. AI bukan sumber kebenaran tunggal. Informasi keagamaan tetap memerlukan verifikasi melalui Al-Qur’an, hadis, penjelasan ulama yang berkompeten, serta rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kita juga perlu memahami bahwa agama memiliki wilayah sakral yang tidak selayaknya diperlakukan sebagai bahan eksploitasi visual. Ibadah, ayat suci, hadis, dan keteladanan Rasulullah SAW bukan sekadar ornamen untuk memperindah sebuah karya. Semuanya mengandung nilai, tuntunan, dan tanggung jawab. Karena itu, penggunaan teknologi dalam menyampaikan pesan keagamaan perlu menjaga kejujuran terhadap konteks ibadah. Jangan sampai sebuah rekayasa visual menciptakan kesan seolah-olah suatu peristiwa ibadah benar-benar terjadi, padahal hanya hasil imajinasi digital.

Pada saat yang sama, seni dan kreativitas dalam kegiatan keagamaan tetap memiliki ruang yang luas. Islam menghargai keindahan selama tidak mengaburkan prinsip-prinsip ajarannya. Dalam penyampaian dakwah, ekspresi seni dapat memperkaya suasana dan memperluas jangkauan pesan. Namun, bentuk penyajiannya tetap perlu mempertimbangkan nilai tauhid, penghormatan terhadap ibadah, dan substansi ajaran yang dibawa. Kemasan boleh menarik, tetapi jangan sampai kemegahan tampilan justru membuat isi dakwah kehilangan kedalaman.

Dakwah pada hakikatnya adalah upaya menyampaikan kebenaran dengan hikmah, kebijaksanaan, dan cara yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Karena itu, pemanfaatan AI dalam dakwah dapat diarahkan untuk memperjelas makna ayat, membantu penyajian sejarah Islam, memperkenalkan khazanah keilmuan, atau menghadirkan materi pembelajaran yang lebih mudah dipahami. Namun, teknologi hendaknya menjadi sarana yang memperkuat pesan, bukan pusat perhatian yang menggeser substansi. Dakwah boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak boleh kehilangan ruh Al-Qur’an dan hadis.

Penghormatan terhadap ulama pun perlu ditempatkan secara proporsional. Ulama adalah manusia yang memiliki kedudukan penting dalam membimbing umat melalui ilmu, keteladanan, dan pengabdian. Menghormati mereka merupakan bagian dari adab. Namun, penghormatan tidak berarti mengkultuskan individu atau menempatkan figur tertentu di atas prinsip kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Yang perlu disebarluaskan adalah ilmu, keteladanan, dan nilai kebaikan, bukan pengultusan terhadap wajah atau popularitas seseorang.

Bagi para kreator, pendakwah, pendidik, dan pengguna media sosial, tantangan terbesar hari ini bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan membangun kedewasaan dalam menggunakannya. Setiap karya perlu melewati pertanyaan sederhana: apakah konten ini jujur terhadap konteksnya? Apakah ia menghormati nilai agama? Apakah ia berpotensi menyesatkan atau merugikan orang lain? Apakah keindahan yang ditampilkan benar-benar membantu pesan, atau justru menutupi substansi? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan penghalang kreativitas, melainkan pagar agar kreativitas tetap memiliki arah dan tanggung jawab.

Pada akhirnya, AI akan terus berkembang, sementara kehidupan beragama tetap membutuhkan kejujuran, ilmu, adab, dan ketakwaan. Kita tidak perlu menolak teknologi hanya karena khawatir terhadap penyalahgunaannya. Sebaliknya, kita perlu mendidik diri agar mampu menggunakannya secara bijaksana. Agama tetap menjadi fondasi, teknologi menjadi sarana, dan seni menjadi bahasa yang memperindah penyampaian. Jangan biarkan kecanggihan layar membuat kita lupa bahwa ibadah bukan pertunjukan, dakwah bukan perlombaan popularitas, dan kebenaran tidak pernah membutuhkan rekayasa untuk menjadi mulia. Teknologi boleh menyesuaikan zaman, tetapi nilai agama harus tetap menjadi kompas perjalanan. ***

Exit mobile version