Kembalinya NBA ke China: Dua Malam, Satu Kota dan Sebuah Awal Baru di Makau

Kembalinya NBA ke China: Dua Malam, Satu Kota, dan Sebuah Awal Baru di Makau
Nick Claxton (tengah) melakukan dunk dalam NBA China Games 2025 antara Brooklyn Nets dan Phoenix Suns pada 12 Oktober 2025 di Venetian Arena, Makau, China Selatan. (Sumber: Instagram Brooklyn Nets)

JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Di bawah sorotan lampu gemerlap Venetian Arena dan gemuruh Cotai Strip, dua malam pada Oktober 2025 menandai reuni yang dinanti-nantikan, yakni kembalinya NBA ke China setelah enam tahun.

Ketika Phoenix Suns dan Brooklyn Nets turun ke lapangan, mereka membawa lebih dari sekadar basket. Mereka membawa kenangan, rekonsiliasi, dan janji awal baru antara liga dan jutaan penggemar China.

Dua malam di bulan Oktober 2025, dua malam yang melampaui skor dan statistik, menjadi simbol kembalinya hubungan yang pernah renggang.

LEBIH DARI SEKADAR PERTANDINGAN

Bagi sebagian besar yang hadir malam itu, suara sepatu berdecit di lantai kayu, terasa seperti melodi masa lalu yang hidup kembali. Setelah enam tahun jeda karena dinamika politik dan pandemi global, panggung ini adalah simbol pertemuan kembali dua dunia yang pernah berjarak.

Komisaris NBA, Adam Silver menyebut momen ini sebagai “langkah untuk membangun kembali jembatan, bukan hanya antar pasar, melainkan juga antar budaya, generasi, dan impian yang lahir dari permainan ini.”

Selama sepekan penuh, Makau berubah menjadi laboratorium kebahagiaan bagi para penggemar bola basket.

Di ajang NBA House, antrean panjang melingkar di sekitar permainan interaktif dan sesi foto bersama legenda NBA. Anak-anak mengenakan jersey, orang tua membawa kamera, dan suasana di lorong-lorong Venetian Arena terasa seperti pesta olahraga yang tak pernah benar-benar pergi.

“Energinya seperti Final NBA,” ujar salah satu staf liga. “Namun, dengan sentuhan emosional yang lebih dalam.”

DUA MALAM YANG SERU DI MAKAU

Malam pertama, 10 Oktober 2025. Venetian Arena berguncang. Brooklyn Nets tampil tajam sejak awal, tapi Phoenix Suns menolak menyerah. Devin Booker, dengan tenang dan percaya diri, memimpin kebangkitan. Suns pun menang 132-127 lewat babak perpanjangan waktu.

“Energinya luar biasa,” kata Booker usai pertandingan. “Anda bisa merasakan betapa mereka merindukan NBA. Rasanya seperti bermain di kampus lagi, murni tentang cinta terhadap permainan.”

Dua malam kemudian, panggung yang sama, tetapi cerita berbeda.

Kali ini Brooklyn membalas. Cam Thomas menjadi sorotan, melesakkan tembakan krusial di menit-menit akhir dan memastikan kemenangan 111-109 untuk Nets. NBA China Games di Makau pun berakhir imbang, adil, tetapi sarat makna.

“Tidak ada yang merasa ini cuma pertandingan pramusim,” kata pelatih Suns Frank Vogel. “Setiap pemain tahu, mereka sedang memainkan sesuatu yang jauh lebih besar.”

 

Fanbo Zeng (kanan) dari Brooklyn Nets menjaga Dillon Brooks dari Phoenix Suns dalam pertandingan NBA China Games 2025 di Venetian Arena, Makau, China Selatan, pada 10 Oktober. (Sumber: Istimewa)

FANBO ZENG: “SI ANAK RANTAU”

Dan mungkin tidak ada momen yang lebih menyentuh hati daripada ketika “Si Anak Rantau” Fanbo Zeng memasuki lapangan.

Saat forward muda asal China itu menggantikan pemain Nets di kuarter kedua, seluruh arena seolah bergemuruh serentak. Setiap sentuhan bolanya disambut dengan sorakan panjang, seolah seluruh bangsa mendukungnya.

“Bermain di depan penggemar sendiri… rasanya seperti mimpi,” ujar Zeng, matanya berbinar usai laga di mana dia tampil penuh semangat selama 10 menit.

Sebelum Zeng, hanya tiga pemain China yang pernah tampil di NBA China Games, yaitu Yao Ming (Houston Rockets, 2004 dan 2010), Liu Wei (Sacramento Kings, 2004), dan Ding Yanyuhang (Dallas Mavericks, 2018). Kini, Zeng menambahkan namanya dalam daftar kecil itu.

Meski hanya satu pemain China yang kini memiliki kontrak NBA penuh, rookie Portland Trail Blazers, Yang Hansen, sorotan terhadap Zeng memberi harapan baru.

“Pendahulu kami sudah membuktikan bahwa hal ini mungkin,” katanya lembut. “Sekarang, giliran kami untuk melanjutkan.”

ANTARA BISNIS DAN KEBERSAMAAN

Namun kembalinya NBA ke China bukan hanya soal bola yang memantul di lapangan. Ini juga tentang kota yang kembali hidup. Hotel-hotel penuh, restoran ramai, toko-toko souvenir kehabisan stok.

“Rasanya seperti pekan Tahun Baru bagi kami,” ujar seorang manajer hotel di Cotai Strip. “Semua datang untuk basket dan membawa kehidupan kembali ke Makau.”

NBA memanfaatkan momentum ini untuk membangun masa depan. Liga menandatangani kemitraan jangka panjang dengan Alibaba Group guna memperluas pengalaman digital penggemar melalui teknologi cloud dan AI.

Tak hanya itu, NBA dan Asosiasi Bola Basket China (CBA) juga menandatangani perjanjian baru untuk pengembangan pemain, pelatih, dan wasit.

“Tidak ada prioritas yang lebih besar,” kata Silver, “Daripada membantu pemain muda China berkembang agar bisa sukses, baik di tim nasional, maupun suatu hari nanti di NBA atau WNBA.”

Sejak 2009, lebih dari 3.500 pemain, pelatih, dan ofisial China telah mendapat manfaat dari program bersama kedua organisasi ini. Kini, pertukaran lintas liga kian erat, dengan 30 pemain berpengalaman NBA bermain di CBA musim lalu, dan rekor 26 pemain WNBA tampil di WCBA.

 

Suasana lapangan di Venetian Arena, Makau, China selatan, saat Brooklyn Nets menghadapi Phoenix Suns dalam NBA China Games 2025. (Sumber: Istimewa)

“KEPULANGAN” PENUH ARTI

Ketika lampu-lampu Venetian Arena meredup pada malam terakhir, banyak yang tak segera beranjak. Mereka bertepuk tangan lebih lama, seolah ingin menahan momen itu sedikit lagi.

NBA China Games 2025 bukan hanya dua pertandingan pramusim. Itu merupakan kisah tentang jembatan yang dibangun kembali, antara dua dunia yang dulu terpisah oleh diplomasi dan jarak. Itu menjadi pengingat bahwa olahraga, pada akhirnya, punya bahasa universal, yakni kebersamaan.

Bagi NBA, ini merupakan bab baru dari kisah global yang terus berkembang. Bagi penggemar China, ini adalah kepulangan yang sudah lama ditunggu.

NBA telah kembali ke China. Dan kali ini, rasanya mereka akan tinggal lebih lama, bukan sekadar di kalender, tetapi juga di hati penggemarnya. (hen/ xinhua-news.com)

BERITA TERKAIT:

Dari Persaingan Sneaker hingga Kuil Shaolin: Bintang NBA Bangkitkan Lagi Hubungan dengan China

Yang Hansen: Dari Pilihan Draft yang Mengejutkan Menjadi Eksperimen Terberani NBA

 

Exit mobile version