JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Suasana riuh gemuruh para penggemar EXO memenuhi arena konser di Jakarta beberapa waktu lalu. Di sudut keramaian yang dipenuhi lautan cahaya lightstick, Imawati Muslimah (37), atau yang akrab disapa Ima, tampak sibuk melayani pelanggannya. Alih-alih ikut masuk ke area konser, Ima justru fokus menjalankan pekerjaan yang belakangan ini mendatangkan putaran modal cepat baginya, yaitu menyewakan ponsel flagship.
Tangannya dengan cekatan memverifikasi identitas pelanggan dan memastikan setiap gawai premium siap digunakan. Ini menjadi rutinitas baru yang menggiurkan, di tengah tingginya permintaan akan dokumentasi konser berkualitas tinggi dari bangku penonton.
BERKAH SEWA PONSEL DARI KONSER MUSIK
Menurut Ima, ide bisnis penyewaan ponsel premium ini berawal dari hal sederhana yang dia sadari, setelah pembatasan kegiatan masyarakat akibat pandemi Covid-19 mulai dilonggarkan pada 2022 lalu. “Awalnya iseng, waktu itu banyak teman yang ingin meminjam ponsel saya untuk berbagai keperluan, salah satunya motret-motret di acara konser musik,” ungkapnya kepada Xinhua melalui surel pada Kamis (3/9/2026).
Menyadari besarnya peluang dari gelaran festival musik seperti PestaPora dan Soundrenaline, wanita yang juga bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta ini, merasa empat gawai miliknya ternyata berpotensi besar menjadi sumber penghasilan sampingan. Sejak saat itu, dia mengembangkan usahanya secara bertahap.
Saat ini, Ima menyewakan 10 unit ponsel premium dengan patokan tarif yang bervariasi antara Rp450.000 hingga Rp850.000 per hari. Gawai unggulan seperti Apple iPhone 17 Pro Max dan Samsung Galaxy S26 Ultra menjadi unit yang paling sering disewa, karena kualitas kamera dan kapasitas memori internalnya besar, sementara belakangan ini ponsel Xiaomi 17 Ultra juga kian banyak dicari karena keunggulan fitur zoom-nya.
Untuk memastikan roda usahanya berjalan mulus, Ima kini makin proaktif “menjemput bola” dengan menawarkan langsung jasa sewanya kepada penonton di lokasi acara konser, selain melalui sistem pemesanan via WhatsApp (WA). Dia juga memasang beragam aplikasi media sosial favorit pada gawainya, agar para penyewa bisa dengan mudah langsung membagikan foto atau video mereka ke internet.
Mengingat nilai aset yang disewakannya mencapai belasan juta Rupiah, risiko kehilangan dan kerusakan telah dia antisipasi dengan pengamanan ketat. Selain mengharuskan penyewa menitipkan kartu tanda penduduk (KTP) dan menjaminkan ponsel pribadi, Ima juga melengkapi setiap ponsel miliknya dengan aplikasi pelacak.
“Jadi ketika dibawa kabur, saya bisa langsung melacak dan menonaktifkannya dari jauh,” ujar Ima yang turut membekali gawainya dengan case pelindung serta asuransi khusus.
Dari sudut pandang penyewa, merogoh kocek ekstra untuk layanan penyewaan ini, dipandang sebagai sebuah investasi demi pengalaman dokumentasi yang optimal. Shinta Anggraeni (30), salah satu penonton yang memanfaatkan jasa ini untuk gelaran konser EXO, mengakui sangat membutuhkan perangkat kelas atas tersebut.
“Saya memang sengaja menyewa ponsel flagship, karena spesifikasi kamera ponsel pribadi saya kurang memadai untuk zoom jarak jauh,” tutur Shinta kepada Xinhua melalui sambungan telepon pada Jumat (4/9/2026).
Dia rela menyewa Samsung Galaxy S23 Ultra dengan merogoh biaya Rp350.000 untuk durasi penggunaan 24 jam penuh. Mengingat tingginya harga tiket masuk ke arena konser, Shinta merasa akan amat disayangkan, apabila momen langka tersebut diabadikan dengan hasil dokumentasi yang buram.
Walaupun diwajibkan melewati sederet proses administrasi keamanan, mulai dari penyerahan KTP asli hingga tahapan verifikasi akun media sosial seperti Instagram, Shinta merasa sangat puas dengan keputusannya.
Fitur perbesaran optik dari ponsel tersebut, terbukti memungkinkannya menangkap detail wajah personel EXO, seperti Suho dan D.O., kendati tempat duduknya berada di kelas menengah dan tak terlalu dekat dengan panggung utama.
“Resolusi videonya sangat tajam, reproduksi warna tetap stabil meskipun di bawah sorotan lampu tata panggung yang dinamis,” pujinya. terhadap kinerja gawai sewaannya. Satu-satunya kendala yang dijumpai hanyalah repotnya memindahkan salinan data video berkapasitas puluhan gigabita ke flash drive menggunakan konektor OTG, agar tidak kehabisan waktu sewa yang sempit.
Meski demikian, bagi Shinta, sistem penyewaan ini jauh lebih efisien karena memungkinkannya menggunakan gawai mutakhir tanpa perlu membelinya, dan dana bisa dialokasikan khusus untuk membeli tiket kelas VIP ke depannya.
MESIN BARU PERTUMBUHAN EKONOMI
Tumbuhnya bisnis turunan seperti persewaan ponsel dalam ekosistem ini, hanyalah satu indikasi mikro dari masifnya roda ekonomi yang tengah bergerak. Minat masyarakat Indonesia menikmati pertunjukan musik secara langsung di stadion, tampaknya tak mampu dibendung oleh ketidakpastian ekonomi.
Bahkan, ketika ekonomi global kian menantang, masyarakat mengadopsi fenomena lipstick effect, di mana biaya untuk rekreasi dan hiburan tetap diprioritaskan demi meredakan stres. Hal ini didukung oleh temuan survei Jakpat di tahun 2025 yang mencatat, setidaknya 52 persen responden menonton konser karena membutuhkan hiburan, dan 46 persen lainnya menjadikannya sebagai sarana melepas stres.
Ditunjang pula oleh inovasi cara pembayaran seperti fitur paylater, aksesibilitas masyarakat menikmati pertunjukan musik semakin terbuka. Menurut data platform ticketing LOKET, sepanjang 2023 hingga 2025 transaksi paylater meningkat 44,05 persen, jumlah tiket terjual naik 51,21 persen, dan gross market value (GMV) tumbuh 58,98 persen.
Momentum ini menyadarkan banyak pihak bahwa industri pertunjukan seni dan konser bukan sekadar selebrasi hiburan semata, namun juga bergeser fungsinya menjadi instrumen pendorong ekonomi. Terbukti, dari besarnya efek berganda (multiplier effect) gelaran konser internasional pada naiknya pundi-pundi di industri penerbangan, tingkat hunian hotel, transportasi, dan kuliner usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat.
Merespons potensi nilai ekonominya yang semakin besar, pemerintah berupaya memperkuat ekosistem penyelenggaraan konser, agar para musisi global tak lagi mengalihkan jadwalnya ke negara tetangga. Mengambil pelajaran krusial dari masifnya perputaran devisa yang mendompleng tur global bintang besar seperti Taylor Swift, BTS, hingga Blackpink, Indonesia kini secara serius mempersiapkan sarana dan prasarananya.
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, didorong agar berpartisipasi mewujudkan pembangunan “rumah musik” kelas dunia, sekaligus memberi sokongan dalam negosiasi persaingan untuk mengundang musisi global. Harapan besar ini, turut dimanifestasikan pemerintah melalui pembangunan tata kota di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sebagai wujud pembangunan kota masa depan yang menghargai seni, IKN diproyeksikan akan segera menghadirkan concert hall bertaraf dunia. Dengan membawa rancangan juara Sayembara Desain Pusat Kebudayaan Nusantara (PKN) bertajuk “Cerlang Nusantara” karya Tim Gregorius (Yori) Antar Awal, fasilitas ikonis tersebut, rencananya akan mulai dibangun paling cepat pada 2027.
Pada akhirnya, tren maraknya acara konser di Indonesia telah terbukti ampuh mendorong sekaligus menggerakkan perekonomian pada banyak tingkatan. Efek berganda dari tren ini, tidak saja terfokus pada mendongkrak devisa untuk negara, tetapi juga sukses menyuburkan tumbuhnya industri kreatif turunan yang konkret.
Munculnya peluang dan lapangan kerja musiman yang unik, seperti usaha penyewaan gawai premium mutakhir yang dilakoni Ima, menjadi representasi kuat bahwa ekosistem hiburan yang terbangun kokoh, mampu menciptakan peluang kesejahteraan baru yang menjanjikan bagi masyarakat. (hen/ xinhua-news.com)
BERITA TERKAIT:
Dibekali Kamera Canggih, Huawei Pura 80 Series Resmi Meluncur di Indonesia
Dari Nol hingga Puncak: Kisah Kebangkitan Ponsel China di Dunia
Produsen Ponsel Pintar China Luncurkan Ponsel Baru Honor Magic6 Pro
Huawei Luncurkan Pura 90s Series di Indonesia
Dominasi Smartphone China di Indonesia Saat Ekonomi Lesu dan Persaingan Ketat
