JAKARTA (Kepri.co.id – Xinhua) – Xinhua baru-baru ini mewawancarai Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Abdul Mu’ti MEd tentang pengalamannya saat berkunjung ke Daerah Otonom Uighur Xinjiang di China barat laut, pada Juni 2024 lalu.
Berikut catatan sesi wawancara tersebut:
1. Xinhua: Berapa lama kunjungan Bapak ke Xinjiang, dan apa kesan yang Bapak peroleh secara keseluruhan?
Abdul Mu’ti: Kami menghabiskan empat hari di Daerah Otonom Uighur Xinjiang. Karena baru pertama kali ke Xinjiang, saya belum banyak melihat gambaran utuh tentang Xinjiang.
Gambaran (saya) terbatas, karena waktu kunjungannya juga sangat singkat, hanya empat hari. Namun, dari kunjungan singkat itu paling tidak ada tiga kesan umum yang saya peroleh.
Baca Juga: Pertunjukan Seni Xinjiang di Kuwait
Pertama, usaha pemerintah memberikan perhatian kepada masyarakat di Xinjiang yang terdiri dari berbagai suku, etnis, dan saya juga melihat sendiri bagaimana China memberikan penghormatan terhadap pola hidup berdampingan yang harmonis, antara suku-suku minoritas di Xinjiang, termasuk perhatiannya kepada umat Muslim.
Kedua, saya melihat ada pembangunan sarana prasarana yang cukup maju di Xinjiang, terutama kalau kita lihat dari fasilitas berkaitan dengan industri, pariwisata, dan berbagai sarana prasarana yang mendukung perkembangan ekonomi di Xinjiang.
Ketiga, upaya pelestarian kebudayaan suku minoritas yang dilakukan pemerintah China, termasuk di antaranya perlindungan yang baik untuk tempat-tempat ibadah.
Selama kunjungan singkat itu, tiga hal tersebut paling mengesankan bagi saya secara umum.
2. Xinhua: Kita tahu Xinjiang sangat luas. Menurut Bapak, empat hari di Xinjiang apakah cukup?
Abdul Mu’ti: Saya sempat berkunjung di tiga kota dan daerah. Setelah mendarat di Urumqi, ibu kota Xinjiang, saya singgah selama dua hari di kota itu. Kemudian saya pergi ke Yining dan Kashgar.
Baca Juga: China-Eurasia Expo ke-8 Dijadwalkan akan Digelar 26-30 Juni di Xinjiang, China
Yang membuat saya sedikit terkejut, penerbangan dari Yining ke Kashgar butuh waktu sampai dua jam, padahal dua-duanya masih dalam satu daerah otonom.
Memang ini menunjukkan betapa luasnya Xinjiang. Yining sudah dekat dengan perbatasan China-Kazakhstan, sementara Kashgar tidak jauh dari Pakistan. Kita bisa bayangkan betapa luasnya Xinjiang dan betapa beragamnya masyarakat di daerah itu.
3. Xinhua: Apakah yang Bapak saksikan berbeda dengan kesan sebelumnya?
Abdul Mu’ti: Memang ada perbedaan antara realitas dengan apa yang disebarluaskan sejumlah media, khususnya media sosial. Saya melihat, bagaimana masyarakat Xinjiang menikmati kebebasan, khususnya kebebasan mengamalkan ajaran agama.
Ada pula kebebasan berekspresi, termasuk di dalamnya ekspresi beragam kebudayaan atau adat istiadat. Baik dalam bentuk seni, pakaian, atau makanan khas dari suku-suku minoritas yang ada di Xinjiang.
Umat Islam bebas mengamalkan agamanya, dan hal ini sesuai hukum yang berlaku di Xinjiang. Muslim di Xinjiang hidup damai bersama masyarakat dari keyakinan berbeda. Ini selaras dengan prinsip-prinsip agama Islam.
4. Xinhua: Menurut Bapak, apa saja hasil dari upaya pelestarian budaya lokal di Xinjiang?
Abdul Mu’ti: Misalnya, saya sempat berkunjung ke Kashgar. Ada kelompok etnis minoritas yang kampungnya memang dibuka untuk wisatawan, dengan berbagai makanan disajikan di sana.
Di Yining, ada jalan yang dibuka 24 jam, dan di sana kita bisa melihat berbagai macam pertunjukan kesenian dengan busana yang menggambarkan keunikan masyarakat daerah itu, dan sebagainya.
Menurut saya, hal ini membuktikan China telah memberikan kebebasan bagi keberagaman berkembang dan memeliharanya dengan baik, mengingat China sendiri menganggap keberagaman sebagai kekayaan masyarakat dan negara secara keseluruhan.
Hal ini berbeda dengan propaganda yang dilakukan segelintir pihak, termasuk kekuatan separatis, yang berupaya mendistorsi situasi sebenarnya. Hal serupa juga pernah muncul di Indonesia, khususnya lewat beberapa konten media sosial.
Pernah ada berita bohong tentang sekolah vokasi di Xinjiang. Saya sudah mengunjungi secara langsung kompleks vokasi di sana, dan melihat anak-anak belajar berbagai keterampilan serta berbagai macam kemampuan vokasional yang memungkinkan, mereka memperolah pekerjaan yang baik setelah lulus. Dari sejumlah lansiran media, hal ini disebut-sebut sebagai “pemaksaan”. Faktanya tidak demikian.
5. Xinhua: Apa yang paling mengesankan dalam kunjungan ke Xinjiang kali ini?
Abdul Mu’ti: (Paling berkesan) terutama alat musik khas yang masih dikembangkan masyarakat setempat. Bahkan, sampai ada museum khusus dibangun untuk melestarikan alat-alat musik dan kesenian daerah.
Hal ini tidak hanya mendukung pelestarian budaya, tetapi juga menjadikan budaya itu sendiri semakin berkembang, bahkan untuk kehidupan secara ekonomi. Menurut saya, ini menjadi sebuah afirmasi yang sangat signifikan dari pemerintah China terhadap masyarakat, khususnya masyarakat Muslim di Xinjiang.
6. Xinhua: Menurut pandangan Bapak, bagaimana kondisi ekonomi termasuk sektor pariwisata di Xinjiang?
Abdul Mu’ti: Saya lihat ekonominya bergerak relatif baik. Salah satunya, terlihat dari betapa antusiasnya para pengunjung dan konsumen dalam sebuah bazar di Urumqi. Mereka sibuk berbelanja makanan dan aneka aksesori bahkan hingga larut malam.
Selain itu, ada pula pengunjung mancanegara dari Eropa dan Amerika, serta banyak turis dari provinsi-provinsi lainnya di China.
7. Xinhua: Pemerintah Amerika Serikat (AS) memasukkan beberapa perusahaan Xinjiang ke dalam daftar hitam, dengan alasan “praktik kerja paksa”. Apa komentar Bapak tentang langkah AS ini? Apakah Bapak menyaksikan atau melihat sendiri ada kerja paksa di Xinjiang?
Abdul Mu’ti: Menurut saya, saya tidak melihat ada “kerja paksa”. Saya sempat berkunjung ke salah satu pabrik yang mempekerjakan hampir 100 orang. Pengusahanya mengembangkan industri berbasis hasil bumi atau hasil pertanian.
Mereka mengolahnya menjadi makanan siap saji, dan rasanya juga lezat. Saya membawa beberapa produknya sebagai oleh-oleh. Bisnis perindustrian di Xinjiang sangat beragam, sehingga benar-benar mendorong kegiatan ekonomi di sana.
8. Xinhua: Umat Muslim di Gaza menghadapi kesulitan sangat besar, tetapi menurut Bapak, mengapa beberapa pihak tertentu nasib masyarakat di Gaza, alih-alih “memedulikan” soal Muslim di Xinjiang?
Abdul Mu’ti: Perihal isu Palestina, saya merasa dukungan dari pemerintah maupun rakyat Indonesia sangat tinggi.
Untuk China, saya sudah melihat warga China memiliki kebebasan beragama dan mengekspresikan kebudayaannya. Kebijakan dan upaya China melindungi kebudayaan itu dapat diteladani.
Selain itu, Xinjiang cukup terampil mengembangkan ekonominya dengan bantuan teknologi. Di Yining, terdapat kawasan gersang, tetapi berkat dukungan teknologi pertanian yang maju, kawasan itu mampu melahirkan industri bunga lavender, buah aprikot, dan sebagainya.
Secara lokal, warganya diberi kesempatan berkembang dengan bantuan teknologi yang maju.
9. Xinhua: Menurut Bapak, saat ini masih adakah hambatan mengetahui realitas di Xinjiang?
Abdul Mu’ti: Iya, memang ada hambatannya. Misalnya, sejumlah video yang beredar di media sosial, menampilkan sudut pandang negatif terhadap China. Padahal, faktanya ada berbagai pengalaman Xinjiang dan China di bidang pelestarian kebudayaan dan pencapaian mereka yang patut ditiru.
Sistem politik di China itu memang berbeda, tetapi ada pula banyak kesamaan dalam kehidupan masyarakat China dan Indonesia. Kalau hanya semata-mata meyakini sejumlah laporan berita, kita akan salah paham tentang China.
Namun, jika kita melihat dan mengkajinya secara lebih dalam, kita akan bisa membedakan antara kebenaran dan propaganda.
Xinjiang sudah meraih banyak pencapaian di bidang teknologi, seni budaya, dan lain-lain. Menurut saya, dunia harus lebih mengetahui soal hal-hal ini, demikian pula tentang kehidupan antarumat beragama di sana.
Mungkin, ke depan kita bisa meningkatkan pertukaran di bidang keagamaan. (asa/ xinhua-news.com)
