NATUNA (Kepri.co.id) – Kepulauan ini kerap disebut lumbung energi negeri. Dari perut buminya mengalir gas dan minyak, dari lautnya terhampar kekayaan tak bertepi.
Namun di sudut-sudut Natuna, tak sedikit warganya yang justru hidup dalam senyap, menahan lapar dan sakit, seolah tak ikut menikmati hasil bumi yang mereka pijak.
Di tanah yang gemah ripah, sebagian kehidupan terasa rapuh—seperti daun kering yang jatuh perlahan dari pohon rindang, yang tak pernah benar-benar menaunginya.
Kabupaten di ujung utara Nusantara ini, berdiri gagah di perbatasan laut Vietnam dan Tiongkok. Dengan sekitar 84.600 ribu jiwa (semester I tahun 2025), Natuna seharusnya tumbuh seiring besarnya kontribusi bagi negara.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain: pembangunan belum sepenuhnya sampai ke pintu-pintu rumah paling sunyi.
Jumat pagi (12/12/2025) menjadi hari yang berbeda bagi beberapa keluarga di Kampung Air Kubang, Ranai.
Bukan karena hiruk-pikuk, melainkan karena ada yang datang mengetuk—membawa sembako, harapan, dan rasa diingatkan bahwa mereka belum sepenuhnya dilupakan.
Komunitas Pecinta Domino Natuna (KPDN), mendatangi satu per satu rumah warga yang telah mereka data. Tak ada panggung, tak ada seremonial.
Hanya langkah kaki yang menyusuri gang sempit, halaman rumah kayu yang renta, dan wajah-wajah yang menua lebih cepat dari usia.
Raja Mustakim, Ketua Dewan Pengarah KPDN, berhenti di sebuah rumah tua yang terhimpit tembok tetangga.
Lorong menuju pintunya hanya cukup dilewati sepeda motor. Di sanalah Arifin tinggal—lelaki sepuh yang telah lama berdamai dengan sakit.

”Beginilah, Pak. Sudah bertahun-tahun saya sakit. Untuk bekerja, rasanya sudah tak sanggup lagi,” ucap Arifin lirih, nyaris berbisik, seolah takut mengeluhkan hidupnya sendiri.
Tak jauh dari sana, Izhar masih berusaha bertahan. Di tepi jalan raya, ia membuka bengkel elektronik kecil—bukan karena kuat, tapi karena tak ada pilihan.
Ia bekerja ditemani sang istri yang juga sakit, tubuh mereka saling menopang agar dapur tetap mengepul, meski sangat sederhana.
Hari itu, KPDN tak hanya menyerahkan paket sembako. Mereka mendengarkan cerita. Mencatat keadaan.
Mengabadikan kenyataan yang kerap luput dari data resmi—tentang lansia sakit, janda renta, dan warga yang tak lagi memiliki penghasilan, namun tetap berjuang hidup dengan sisa tenaga.
”Semoga Jumat berkah ini, bisa sedikit meringankan saudara-saudara kita yang sakit dan tak berpenghasilan,” ujar Raja Mustakim, dengan nada yang lebih banyak berdoa daripada berkata.
Dari Kampung Air Kubang, sepuluh paket sembako disalurkan. Jumlahnya mungkin tak besar, tetapi artinya terasa dalam.
Secara keseluruhan, KPDN menyiapkan 150 paket sembako untuk warga di wilayah Bunguran. Mayoritas penerima adalah lansia sakit, janda jompo, dan mereka yang telah kehilangan kemampuan untuk bekerja.
Raja Mustakim menegaskan, KPDN bukan sekadar komunitas olahraga otak. Di balik permainan domino, ada kepedulian yang terus bergerak.
”Kami turun langsung mendata warga kurang mampu, yang tidak tercatat dalam program pemerintah. Ini kami jadikan masukan bagi Bupati,” katanya, didampingi Hadi Candra dari Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D).
Setelah 26 tahun berstatus kabupaten, potret ketimpangan masih mudah ditemukan di Natuna. Ketergantungan pada APBD dan belum meratanya pembangunan, membuat sebagian warga bertahan di rumah-rumah reot—bahkan di jantung ibu kota kabupaten.
”Kami menemukan banyak warga yang seharusnya dibantu, tapi tak masuk dalam data penerima bantuan,” ungkap Raja Mustakim.
Sebelumnya, KPDN juga menyalurkan bantuan mesin potong rumput untuk Masjid Nurul Iman di Desa Sual.
Pekan depan, komunitas ini berencana kembali berbagi—menyasar 30 lansia dan anak yatim di Desa SP1, SP2, dan SP3, Kecamatan Bunguran Tengah.
Di Natuna, di tengah kekayaan yang menjulang, masih ada air mata yang jatuh diam-diam. Dan pada Jumat berkah itu, setidaknya ada yang menyeka—meski hanya dengan sembako dan pelukan empati. (aulia/ abed)
BERITA TERKAIT:
Sambut Tahun Baru 2026 dengan Seru! Turnamen Domino Natuna Berhadiah Rp50 Juta
Meriah! Turnamen Domino HUT Bhayangkara ke-79 Tutup dengan Hadiah Spektakuler
1.024 Peserta Ikuti Turnamen Domino Kapolda Kepri Cup, Hadiah Utama Empat Motor
Polresta Barelang Tangkap Penjual Chip Judi Higgs Domino di Bengkong, Bandar hingga Pemain Diamankan







