SEBUAH catatan apresiasi dan seruan terbuka untuk masa depan Stadion Utama Riau. Apresiasi setinggi-tingginya patut kita berikan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. Setelah lebih dari satu dekade menjadi simbol kemegahan yang mati suri, raksasa di Jalan Naga Sakti itu akhirnya dibangunkan kembali.
Kita tidak boleh lupa bahwa Stadion Utama Riau dengan kapasitas 44.000 kursi ini bukan stadion biasa. Dibangun pada periode 2009 hingga 2012 dengan biaya Rp1,18 triliun untuk PON XVIII, ia adalah stadion pertama di Indonesia yang berani menerapkan konsep kursi tunggal modern, bahkan sebelum GBK direnovasi. Ia pernah menjadi panggung Kualifikasi Piala Asia U-22 pada tahun 2012. Lalu ia sepi, gelap, dikelilingi semak dan kesan angker. Sebuah ironi yang menyakitkan, mahakarya termahal justru menjadi monumen pemborosan.
Hari ini ceritanya berubah. Ketika Kantor KONI Riau resmi pindah ke dalam kompleks stadion, ketika sekretariat cabang olahraga satu per satu dihidupkan di sana, ketika lampu-lampu diperbaiki, jembatan akses dibuka kembali, Satpol PP disiagakan 24 jam, dan 2.500 bibit pohon ulin dan meranti ditanam di sekelilingnya, itu bukan sekadar renovasi fisik. Itu adalah sebuah pernyataan sikap bahwa Riau tidak ingin lagi memiliki candi yang tidak disembah.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi mau diapakan, melainkan seberani apa kita memimpikannya. Jika kita hanya menjadikannya tempat pertandingan sepak bola sesekali, kita akan kembali menguburnya pelan-pelan. Stadion Utama Riau harus kita naikkan kelasnya, dari sekadar venue olahraga menjadi kawasan pertumbuhan baru yang berbasis olahraga, sains, dan pemberdayaan masyarakat. Sebuah magnet wisata olahraga baru untuk Sumatera.
Untuk itu, jangan lagi kita menyebutnya hanya stadion. Sebutlah ia Kawasan Naga Sakti. Buat masterplan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang tegas seperti yang sudah dimulai, di mana zona inti adalah stadion, zona penyangganya adalah sport tourism, dan zona luarnya adalah ruang kreatif dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Di dalam kawasan itulah kita bisa membangun banyak hal yang belum pernah ada. Pertama, pusat sains keolahragaan Riau yang pertama di Sumatera. Di sinilah sains bertemu keringat. Akan ada laboratorium sport medicine, fisioterapi atlet, biomekanika, gizi olahraga, dan psikologi tanding. Tempat di mana cidera atlet ditangani dengan ilmu, bukan hanya diurut.
Kedua, kita bisa menghidupkan Museum PON dan Peradaban Olahraga Melayu. Jangan hanya memajang foto-foto PON XVIII. Hidupkan dengan teknologi. Buat ruang virtual reality untuk adu penalti, lorong sejarah atlet-atlet Riau dari masa ke masa, hingga panggung silat Melayu. Tempat ini akan menjadi destinasi studi tour wajib bagi semua pelajar Riau.
Ketiga, manfaatkan program 2.500 pohon endemik itu untuk lintasan eco jogging sepanjang satu kilometer. Buat lintasannya teduh, aman, terang di malam hari, dan bebas dari kendaraan bermotor setiap Sabtu dan Minggu pagi. Jadikan Car Free Day terbesar di Pekanbaru bukan di jalan raya, melainkan di dalam kawasan ini. Sebuah tempat di mana keluarga bisa lari, bersepeda, dan piknik tanpa rasa khawatir.
Keempat, bangun panggung rakyat dan pasar kaget yang terkurasi. Zona UMKM jangan dibiarkan menjadi lapak liar. Tata menjadi zona kuliner terpadu yang bersih, halal, dengan sistem pembayaran digital. Setiap minggu bisa dibuat tema yang berbeda, Festival Kopi Riau, Festival Lele Panam, hingga Pekan Ekonomi Kreatif, sehingga perputaran uang mengalir nyata di tangan pedagang lokal.
Raksasa ini tentu tidak akan bangun oleh satu tangan saja. Tidak ada penonton, semua harus menjadi pemain. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau harus menjadi arsitek dan pemantiknya. Pemprov harus menjadi pemilik visi yang melanjutkan langkah berani pemindahan KONI dan cabang olahraga. Jadikan Dinas Pemuda dan Olahraga bukan hanya tukang kunci stadion, melainkan manajer investasi profesional dengan skema sewa yang fleksibel, namun transparan untuk menambah pendapatan asli daerah (PAD). Buat kebijakan agar setiap event besar Pemprov wajib digelar di kawasan ini dan beri insentif bagi investor yang masuk ke zona sport tourism.
Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru berperan sebagai penyambung urat nadi. Stadion ini berada di jantung Kecamatan Tuah Madani yang padat penduduk. Pemko adalah kunci hidup matinya akses. Tugas Pemko adalah menghidupkan konektivitas Trans Metro Pekanbaru ke Naga Sakti, memperbaiki drainase dan penerangan jalan sekitar, menjamin kebersihan dan penertiban bangunan liar secara permanen, serta memasukkan Kawasan Naga Sakti dalam kalender resmi wisata kota. Jika aksesnya mudah, masyarakat akan datang setiap hari, bukan hanya saat ada konser.
Pengusaha Riau harus hadir sebagai investor peradaban, bukan sekadar penyewa. Ini saatnya membalas budi pada tanah Melayu. Jangan hanya menunggu proyek APBD. Bentuk Konsorsium Naga Sakti, di mana satu perusahaan mengelola sistem pencahayaan dan papan skor digital, satu grup mengelola food court UMKM, dan satu lagi membangun sport hotel dengan tarif terjangkau serta klinik sport science. Ini bukan belas kasihan corporate social responsibility (CSR), ini investasi jangka panjang, karena di mana lagi ada lahan 24 Hektare di tengah Kota Pekanbaru yang siap menjadi pusat keramaian baru.
Yang paling krusial adalah peran kampus sebagai otak dan jantungnya. Stadion yang megah tanpa sains akan kembali menjadi gedung kosong. Libatkan dua tetangga raksasanya yang relatif dekat. Universitas Riau (Unri) dengan Fakultas Kedokterannya bisa mengisi pusat sport medicine dan cek kesehatan gratis bagi pelari, Fakultas Teknik bisa menjadi tim ahli audit struktur dan perawatan stadion, sementara FMIPA dan Fakultas Ilmu Komputer bisa membangun aplikasi Naga Sakti untuk data atlet dan tiket digital.
UIN Sultan Syarif Kasim dengan Jurusan Ekonomi Syariah bisa membina UMKM agar naik kelas dengan sertifikasi halal dan manajemen keuangan syariah, Jurusan Psikologi bisa mengisi klinik mental atlet, dan Fakultas Tarbiyah bisa mengisi kawasan dengan kegiatan pembinaan karakter. Buat program kuliah kerja nyata (KKN) Tematik Naga Sakti, magang mahasiswa, dan skripsi terapan yang semua penelitiannya dilakukan di kawasan stadion. Biarkan skripsi mahasiswa yang menjaga stadion tetap hidup.
Terakhir adalah peran masyarakat sebagai penjaga dan pemilik sejati. Masyarakat Panam dan Pekanbaru harus merasa ini adalah miliknya. Bentuk Komunitas Relawan Naga Sakti yang terdiri dari komunitas lari, sepeda, senam, fotografi, dan pemerhati lingkungan yang ikut menjaga kebersihan dan keamanan. Jika masyarakat merasa memiliki, tidak akan ada lagi vandalisme dan kesan angker itu akan hilang dengan sendirinya.
Selama belasan tahun kita menyebut Stadion Utama Riau sebagai beban biaya perawatan. Hari ini, dengan perbaikan listrik, air, jembatan, dan penjagaan 24 jam yang sudah dilakukan Pemprov, beban itu sudah mulai diangkat. Tugas kita sekarang adalah mengubah biaya itu menjadi buah. Buah ekonomi untuk UMKM, buah prestasi untuk atlet, buah ilmu untuk mahasiswa, dan buah kebanggaan untuk seluruh anak Riau.
Bayangkan lima tahun dari sekarang. Pagi hari seorang mahasiswa UNRI meneliti detak jantung pelari di jogging track yang rindang. Siang hari tim dokter muda UIN memeriksa gizi atlet PPLP. Sore hari ribuan keluarga Pekanbaru menyerbu pasar kuliner, sambil anak-anak mereka bermain di lapangan luar. Dan malam hari stadion menyala terang untuk pertandingan yang disaksikan lewat aplikasi buatan anak Riau sendiri.
Jika GBK adalah kebanggaan nasional, biarlah Stadion Utama Riau menjadi kebanggaan peradaban Melayu. Raksasa Naga Sakti sudah membuka matanya. Jangan biarkan ia tertidur lagi. ***
(Batam, 9 Agustus 2026)
