Piala Dunia 2026 dan Intervensi Politik

PIALA Dunia 2026 seharusnya jadi pesta sepak bola terbesar sepanjang sejarah: pertama kali diikuti 48 negara dan digelar bersama oleh tiga tuan rumah—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, sejak kickoff 11 Juni 2026, euforia itu terusik oleh serangkaian keputusan politik dan imigrasi yang menimpa pemain, ofisial, hingga suporter.

Amerika Serikat, sebagai tuan rumah dengan pertandingan terbanyak, justru memulangkan dan menolak masuk sejumlah ofisial, pemain, hingga wasit dari negara-negara tertentu. Yang paling disorot adalah kasus wasit asal Somalia Omar Abdulkadir Artan—Wasit Terbaik Afrika 2025 versi CAF.

Meski memegang paspor diplomatik dan visa sah, Artan ditahan 11 jam di Bandara Miami lalu dideportasi dengan alasan ”keamanan nasional” dan ”kekhawatiran terorisme” menurut pejabat pemerintahan Trump.

FIFA kemudian mengumumkan Artan tidak bisa memimpin pertandingan di turnamen ini. Premier British Columbia bahkan menawarkan solusi, agar Artan bisa bertugas dilaga yang digelar di Kanada.
Bukan hanya Artan. Delegasi Irak mengalami hal serupa: striker sekaligus kapten Aymen Hussein ditahan hampir 7 jam di Chicago O’Hare dan ponselnya digeledah sebelum diizinkan masuk.

Sementara fotografer timnas Irak, Talal Salah ditahan lebih dari 10 jam lalu ditolak masuk AS. Iran harus memindahkan basis operasionalnya ke Meksiko karena 14 staf, termasuk sekjen federasi, wakil presiden, tim media, dan keamanan, ditolak visanya. Pemain Iran pun hanya diizinkan masuk AS pada hari pertandingan.

Tim Senegal dan Uzbekistan juga mendapat perlakuan keras di bandara—delegasi Senegal dipaksa melepas sepatu dan digeledah di tarmac San Antonio. Sementara pemain Uzbekistan, diperiksa dengan anjing pelacak dan metal detector saat tiba di New York. Bahkan, pemain Swiss Breel Embolo sempat tertahan visanya dan baru bisa bergabung beberapa hari kemudian.

Sebagai tuan rumah, Amerika, Kanada, dan Meksiko juga tidak lepas dari sorotan soal kepemimpinan wasit. Beberapa keputusan di lapangan dianggap menguntungkan tuan rumah, menambah panasnya tuduhan ”home advantage”. Puncaknya terjadi pada babak 16 besar ketika striker Amerika Serikat, Folarin Balogun dapat kartu merah, namun sanksi satu laga dicabut setelah intervensi langsung Presiden Donald Trump ke FIFA.

Trump menyebut pencabutan itu ”memperbaiki ketidakadilan besar”. Keputusan itu memicu kemarahan global. Pelatih Belgia Rudi Garcia menyindir, ”Saya tidak tahu 5 Juli adalah April Fools’ Day di FIFA”, sementara Federasi Belgia menegaskan, semua pemain lain yang kena kartu merah di Piala Dunia 2026 tetap absen di laga berikutnya—kecuali Balogun.

The Hill menulis bahwa intervensi Trump memicu ”fury” dan tuduhan korupsi terhadap FIFA. Media Breitbart bahkan menyebut ”kaum kiri” memohon, agar Balogun menolak main sebagai protes atas intervensi tersebut.
Situasi makin rumit karena latar belakang Balogun sendiri: lahir di New York dari orang tua Nigeria, ia memegang paspor AS lewat birthright citizenship—isu yang justru ditentang pemerintahan Trump.

Ironisnya, hampir setengah skuad AS adalah generasi kedua imigran, namun kebijakan imigrasi yang ketat, membuat banyak pemain dan ofisial lawan kesulitan masuk.

Komentar pedas juga datang dari para pakar. Pelatih Uruguay Marcelo Bielsa menyebut semua tindakan itu membuat Piala Dunia 2026 ”akan jadi yang terburuk yang pernah diselenggarakan”. Legenda Inggris, Ian Wright mempertanyakan, ”Is this how the hosts behave for the greatest tournament in the world? Is this the spirit of football, really?” setelah Artan dideportasi.

Amnesty International dan UN High Commissioner for Human Rights Volker Türk bahkan menyebut, ada ”iklim ketakutan” dan menyerukan ”massive rethink” atas kebijakan imigrasi AS jelang turnamen.

Piala Dunia 2026 semestinya jadi simbol persatuan: 48 negara, tiga tuan rumah, budaya yang melebur dalam sepak bola. Tapi ketika visa jadi senjata politik, wasit dideportasi, dan kartu merah bisa dinegosiasi di luar lapangan, semangat fair play terasa dikhianati.

FIFA berdalih bahwa ”host governments determine who enters the country”, namun publik bertanya—jika politik tidak bisa dikesampingkan demi sepak bola, apa lagi arti ”the beautiful game”? ***