Semangat dari Madura

Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat

Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial

TAK banyak kedai nasi lemak yang gampang dijumpai di tepi jalan di Batam. Berbeda dengan sate Madura yang hampir di setiap persimpangan, sekurang-kurangnya ada satu kedai sate Madura. Orang Madura betul-betul fokus di bidang ini, makanan khas. Tak banyak ragamnya tapi yang ada itu, betul-betul dijalankan dengan sungguh-sungguh. Sehingga, jualannya menjadi terkenal, berjaya, dan awet turun temurun. Bahkan, ada yang sampai lebih dari lima generasi.

Sate Madura bukan hanya bisa dijumpai di Batam dan daerah asalnya, tapi juga di semua kota perantauan orang Madura lainnya. Fokus di satu bidang dan produk utama memang strategi terbaik untuk berbisnis. Apalagi, sebagai langkah awal, dengan modal seadanya.

Kalau dipikirkan, tak terlalu banyak rasanya modal yang diperlukan berjualan nasi lemak di tepi jalan. Tapi, karena semangat berjualan orang Melayu yang jarang, maka sulit menemukan kedai-kedai Melayu. Walaupun itu versi yang tersederhana, di tepi jalan.

Saat dibandingkan jam penjualannya, nasi lemak justru lebih besar peluang mendapatkan pembelinya. Karena walaupun identik sebagai makanan saat sarapan pagi, nasi lemak bisa juga dimakan pada malam hari. Contohnya seperti kedai-kedai di Malaysia. Yang saat sudah bernama, pembelinya sampai sanggup berbaris menunggu. Nasi lemak adalah sinonim bagi sate pada suku Madura. Makanan jutaan umat, yang tidak mengenal musim.

Orang Melayu memang terbiasa hidup santai atau terlihat lebih santai dibanding yang lain. Tidak ligat dalam dunia bisnis. Di saat suku-suku lain seperti berlomba mendapatkan duit dengan berjualan di tepi jalan, hampir tak ada kedai Melayu terlihat. Minimal kedai makanan khas.

Ini kenyataan yang lucu sekaligus memprihatinkan. Kedai Melayu yang menjual nasi lemak dan yang dijual oleh orang Melayu, baru bisa ditemukan di kampung-kampung lama. Seperti di Patam, Tanjung Riau, dan Tanjung Bemban. Jauh dari pusat keramaian masyarakat, sehingga tak nampak dari pandangan umum dan cenderung tak terlalu dikenal luas. Kadang, ada juga yang berjualan di tepi jalan, tapi malangnya sangat sedikit dan tak lama. Padahal, rasanya sedap.

Untuk orang-orang Melayu yang 10%nya adalah dari kalangan nelayan, daripada mempertaruhkan nyawa berhari-hari di tengah lautan demi mendapatkan ikan, lebih baik berganti pekerjaan dengan berjualan nasi lemak. Terlibat di dunia bisnis. Tak harus di pelabuhan atau mall kedainya.

Begitu juga orang Melayu yang bukan dari kalangan pegawai. Biasanya dalam sebuah keluarga Melayu, ada ibu yang bisa membuat nasi lemak. Ibu tentu bisa mengajarkan kepada suami dan anak-anaknya. Yang penting, ada semangat belajar yang kuat dan tekad untuk berjaya. Urusan tenaga kerja, cukup dengan mengajak anggota keluarga lainnya atau orang sekampung. Jam berjualan bisa dipilih antara pagi sampai siang, atau sore sampai tengah malam.

Berjualan makanan khas adalah cara terbaik untuk mengenalkan budaya setiap suku, kepada semua rekan sebangsa dan mancanegara. Karena kuliner adalah salah satu pilar budaya. Meskipun nasi lemak adalah salah satu makanan pilihan saat sarapan di hotel, tapi tetap perlu ada kedai-kedainya di tepi jalan.

Selain untuk menepis citra Melayu yang cenderung hidup santai, adalah untuk melestarikan budaya, dan lebih baik bekerja di pekerjaan yang lebih terjamin keamanannya. Yang penting dijual dengan harga yang wajar dan dengan rasa yang sedap. Sehingga, membuat semua pelanggan ingin terus mengulangnya. Ingatlah orang Madura, yang mengerjakan hal-hal sederhana dengan penuh kegigihan, sehingga sampai membuat mereka berjaya. ***

Penulis adalah lelaki yang pemikirannya terilhami Sultan Hassanal Bolkiah. Berharap Sarawak dan Sabah bergabung dengan Brunei. Said Sagaf adalah kawan akrabnya di masa kecil.

*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.

Exit mobile version