Multiplier Effect Nyata yang Diharapkan Dalam Penyelenggaraan MTQ

Multiplier Effect Nyata yang Diharapkan Dalam Penyelenggaraan MTQ

Oleh: Buralimar
Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Perwakilan Kota Batam

PENYELENGGARAAN Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tidak boleh berhenti pada seremonial lomba semata, karena hakikatnya MTQ adalah syiar Islam yang menghadirkan multiplier effect nyata bagi umat. Ditinjau dari segi agama, MTQ menjadi wasilah menghidupkan tradisi tadabbur Alquran di tengah masyarakat.

Gema tilawah yang diperlombakan, mendorong setiap pendengar untuk kembali membuka mushaf, mentafakuri maknanya, dan menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan ritual. Kesakralan MTQ harus dijaga dengan menempatkan adab terhadap Kalamullah di atas segalanya: niat yang lurus, tempat yang mulia, serta akhlak peserta dan penonton yang mencerminkan kemuliaan ayat yang dilantunkan.

Dari sisi pemahaman isi dan realisasi dalam kehidupan, MTQ diharapkan melahirkan generasi Qurani yang tidak hanya fasih melafalkan, tetapi juga memahami tafsir dan pesan moralnya. Ayat-ayat tentang kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan kepedulian sosial perlu dibumikan melalui cabang tafsir, syarhil, dan fahmil Quran dalam MTQ.

Ketika peserta dan masyarakat diajak menyelami makna, maka Alquran benar-benar menjadi hudan linnas, petunjuk yang diimplementasikan dalam keluarga, pekerjaan, hingga kebijakan publik. Inilah esensi MTQ sebagai even edukasi: membentuk karakter, bukan sekadar mencari juara.

Manfaat pendidikan dari MTQ sangat luas. Lembaga pendidikan formal dan nonformal terdorong menguatkan kurikulum tahsin, tahfiz, dan tafsir. Masjid, pesantren, dan tempat Pendidikan Alquran (TPA) hidup kembali sebagai pusat pembelajaran.

Anak-anak yang melihat kakak-kakaknya berprestasi di MTQ, akan termotivasi mencintai Alquran sejak dini. Guru ngaji, qari, dan hafiz mendapat ruang apresiasi. Sehingga, profesi penjaga Alquran semakin terhormat. Dengan begitu, MTQ menjadi ekosistem pendidikan berkelanjutan yang mencetak sumber daya manusia (SDM) berakhlak sekaligus cerdas spiritual.

Dalam aspek ekonomi kerakyatan, MTQ yang diselenggarakan secara bijak mampu menggerakkan roda UMKM lokal. Selama perhelatan berlangsung, pedagang makanan halal, penjual busana Muslim, percetakan Alquran, hingga pengrajin kaligrafi mendapat pasar baru.

Penginapan, transportasi, dan jasa katering sebagai trickle down effect bagi tuan rumah penyelenggara MTQ, turut merasakan dampaknya. Namun, seluruh aktivitas ekonomi ini harus tetap dalam koridor syariah dan menjaga muru’ah (marwah) acara, agar kesakralan MTQ tidak tergeser oleh hingar-bingar komersialisasi semata.

MTQ juga menjadi perekat kerukunan umat. Ketika qari dari berbagai mazhab, suku, dan latar belakang berkumpul dalam satu majelis Alquran, ego kelompok luruh oleh lantunan ayat yang sama. Masyarakat diajak menyaksikan bahwa perbedaan qira’at adalah khazanah, bukan pemisah.

Panitia lintas ormas, penonton dari semua kalangan, serta partisipasi tokoh lintas agama sebagai tamu undangan, dapat menumbuhkan iklim toleransi yang sehat. Di sinilah MTQ menegaskan pesan rahmatan lil ‘alamin: Alquran menyatukan, bukan memecah belah.

Para ulama memandang MTQ sebagai ladang dakwah yang strategis. KH Maimoen Zubair pernah menegaskan, bahwa MTQ bukan tujuan, melainkan sarana membumikan Alquran. Prof Dr Quraish Shihab mengingatkan bahwa hakikat tilawah adalah tartil dan tadabbur, sehingga lomba hanyalah pintu masuk untuk mencintai isi kandungannya. Sementara Tuan Guru Bajang di Nusa Tenggara Barat (NTB) menekankan bahwa MTQ harus melahirkan Quran di dada, Quran dalam perilaku.

Pandangan para pakar ini sepakat: kemeriahan MTQ harus berbanding lurus dengan peningkatan amal Qurani di masyarakat.

Ke depan, saran yang mengemuka adalah memperkuat cabang pemahaman dan aplikasi Alqurann dalam MTQ, seperti lomba karya tulis tafsir tematik, inovasi dakwah digital berbasis ayat, dan program aksi sosial Qurani pasca-MTQ.

Pemerintah daerah dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) perlu membuat grand design pembinaan berkelanjutan, bukan hanya menjelang even. Digitalisasi penilaian dan siaran MTQ juga penting, agar syiar menjangkau generasi muda, dengan tetap menjaga adab dan tidak mengurangi kesakralan.

Harapannya, MTQ benar-benar menjadi oase spiritual yang melahirkan efek ganda: meningkatnya literasi Alquran, kokohnya ekonomi umat yang berkah, terawatnya persaudaraan, dan lahirnya kebijakan publik yang berlandaskan nilai Qurani.

Dengan begitu, MTQ bukan sekadar panggung perlombaan, melainkan gerakan peradaban yang menjaga Kalamullah tetap hidup dalam denyut nadi kehidupan umat.
Selamat Pelaksanaan MTQ XII Tingkat Provinsi Kepulauan Riau yang diselenggarakan di Tanjungpinang, 4-9 Juli 2026. Semoga sukses barokah dan bermanfaat dunia akhirat. ***

*) Semua isi opini ini merupakan tanggung jawab penulis dan bukan sikap redaksi.

Exit mobile version