Penulis: Suqyan Rahmat alias Abang Mat
Peminat Sejarah dan Penggiat Sosial
ORANG-ORANG biasanya pergi berwisata ke Singapura untuk berbelanja, untuk menikmati kemodernannya, atau sekAdar santai di Sentosa. Hal ini wajar, sebab Singapura dibuat memang untuk itu. Tapi, bagi saya pribadi, lebih dari tiga hal itu. Saya memandang Singapura sebagai sebuah karya seni, bukan hanya kota tempat orang-orang berwisata. Tapi, tempat di mana setiap saya melewati gedung-gedung tuanya, ada keistimewaan yang saya rasakan pada gedung-gedung itu. Bukan hanya Gedung, tapi juga daerah-daerah lamanya. Misalnya, saat saya mengelilingi Kampung Glam, yang didirikan pada zaman Sultan Husein.
Saya suka berpetualang menjelajahi daerah-daerah lamanya. Di daerah-daerah inilah banyak tersimpan monumen-monumen lama. Saya membagi Singapura kepada tiga zaman. Yang pertama zaman sebelum Inggris, kedua zaman Inggris, dan ketiga zaman setelah Inggris. Meskipun kalau dibandingkan dengan Firenze, apalagi Roma, Singapura adalah kota yang masih muda, tapi apabila dilihat dari sudut pandang saya sebagai orang nusantara saat menjelajahinya, tentu saya tak akan pernah menganggap Singapura sebagai kota baru. Karena sangking terawatnya semua monumen lamanya.
Pada zaman pertama, Singapura banyak berisi perkampungan Melayu, pasar tradisional, pelabuhan, dan masjid di setiap kampungnya. Keberadaan zaman ini tak banyak yang bisa dijumpai sekarang, karena rumah-rumah masyarakat di hampir semua perkampungan semuanya sudah dirobohkan pada masa Lee Kuan Yew. Zaman ini penuh dengan rumah-rumah yang cantik. Tidak mewah tapi cantik arsitekturnya, betul-betul khas suku Melayu. Zaman kedua adalah di zaman Inggris, sejak tahun 1819. Di zaman inilah, didirikan kota Singapura sebagai pelabuhan utama dan pusat pemodalan Inggris di Asia Tenggara.
Pada zaman kedua ini, Inggris betul-betul membuat Singapura dengan model yang mirip dengan kota-kota yang ada di Inggris. Terutama tata kota dan gedung-gedungnya, termasuk penempatan masyarakatnya. Pada zaman inilah, dibuat gedung Victoria dan semua gedung bersejarah lainnya. Singapura penuh dengan gedung-gedung yang cantik. Bahkan, saat dilihat pada hari ini, tetap terasa pesonanya. Gedung kegemaran saya adalah Hotel Raffles, yang dulunya dimiliki Sarkies bersaudara dari Armenia. Selain gedung ini, rumah-rumah banglo hitam putih adalah peninggalan-peninggalan Inggris yang paling saya sukai. Ini adalah dambaan saya.
Zaman ketiga adalah sejak tahun 1965. Zaman pemerintahan China lewat PAP. Singapura yang dikelilingi Malaysia dan Indonesia, membuat Lee Kuan Yew ingin mempunyai warga negara sebanyak-banyaknya memenuhi Singapura. Sehingga, berpengaruh besar kepada arsitektur Singapura. Gedung-gedung yang didirikan sejak zaman ini, mengutamakan pada bisa cepat terjual dan bisa banyak terjual, estetika tidak diutamakan. Terutama rumah. Tak seperti di zaman pertama dan kedua, yang mengutamakan keindahan abadi dalam pandangan dan kenangan. Pada zaman ketiga ini, tak banyak gedung-gedung yang berkesan istimewa.
Sebagai penikmat arsitektur, saya pribadi menganggap zaman Inggris adalah zaman keemasan arsitektur Singapura. Walau di zaman ini tak ada satu pencakar langit pun didirikan. Zaman ini istimewa, sebab, pada zaman ini Singapura dijadikan tempat berkarya arsitek-arsitek dari Inggris dan Skotlandia mewujudkan gagasan-gagasan hebat mereka. Semua peninggalan pada zaman ini masih bisa dilihat pada hari ini, misalnya pada deretan rumah kedai di semua daerah lama, yang bisa tak mengedipkan mata sepersekian detik saat melihatnya. Juga rumah-rumah banglo hitam putih bergaya Melayu dan gedung-gedung pemerintahannya yang terasa hebat.
Inilah yang saya maksud Singapura sebagai karya seni, bukan hanya sebuah kota tempat masyarakatnya tinggal dan bekerja. Tapi, kota yang isinya dari satu daerah lama ke daerah lama lainnya banyak dijumpai karya seni, terutama seni arsitektur. Orang-orang Inggris membangun Singapura dengan kesempurnaan, sehingga, menghasilkan kota yang sejajar dengan kota-kota di Eropa. Didasari seperti semangat Leonardo Da Vinci dan Michaelangelo Buenarotti saat menghasilkan karya-karya mereka. Bukan bertumpu pada waktu dan duit, tapi pada hasil yang mencengangkan setiap mata yang memandangnya di sepanjang zaman. ***
—
Penulis adalah penggemar lagu Moon River.
*) Semua isi opini ini tanggung jawab penulis, bukan sikap redaksi.
